CPKB Adalah: Pengertian, Fungsi, dan Cara Mendapatkan Sertifikat Resmi

CPKB Adalah: Pengertian, Fungsi, dan Cara Mendapatkan Sertifikat Resmi

CPKB Adalah: Pengertian, Fungsi, dan Cara Mendapatkan Sertifikat Resmi – CPKB adalah Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik, yaitu sistem dan prinsip yang diterapkan oleh industri kosmetik untuk memastikan kegiatan pembuatan kosmetik berlangsung secara terkendali sehingga produk yang dihasilkan memenuhi persyaratan mutu sesuai tujuan penggunaannya.

Bagi pelaku usaha kosmetik, CPKB bukan sekadar dokumen yang diperlukan ketika mengurus sertifikasi. CPKB berkaitan langsung dengan bagaimana perusahaan mengatur fasilitas, personel, bahan baku, peralatan, proses produksi, pengawasan mutu, dokumentasi, penyimpanan, hingga penanganan masalah yang mungkin muncul selama kegiatan produksi.

Di Indonesia, ketentuan sertifikasi CPKB saat ini mengacu pada Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2026 tentang Sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik. Peraturan tersebut ditetapkan pada 21 April 2026, diundangkan 29 April 2026, dan mencabut PerBPOM Nomor 33 Tahun 2021.

Lalu, apa sebenarnya fungsi CPKB, siapa yang membutuhkannya, dan bagaimana cara mendapatkan sertifikat CPKB resmi? Berikut penjelasan lengkapnya.

Apa Itu CPKB?

CPKB merupakan kerangka kerja yang mengatur berbagai kegiatan dalam proses pembuatan kosmetik agar produk dapat dibuat secara konsisten dan terkendali.

Sederhananya, perusahaan tidak cukup hanya mempunyai mesin produksi dan bahan baku. Setiap kegiatan harus memiliki sistem yang jelas.

Misalnya:

  • siapa yang bertanggung jawab dalam proses produksi;
  • bagaimana bahan diterima dan disimpan;
  • bagaimana peralatan digunakan dan dibersihkan;
  • bagaimana proses produksi dilakukan;
  • bagaimana mutu produk diperiksa;
  • bagaimana setiap kegiatan dicatat;
  • bagaimana penyimpangan ditangani;
  • bagaimana perubahan dikendalikan; dan
  • bagaimana keluhan konsumen ditindaklanjuti.

Jadi, ketika membahas CPKB adalah apa, jawabannya bukan sekadar “sertifikat BPOM”. CPKB merupakan standar dan sistem penerapan cara pembuatan kosmetik yang baik, sedangkan sertifikat CPKB menjadi bukti resmi atas pemenuhan persyaratan tersebut.

Apa Itu Sertifikat CPKB?

Sertifikat CPKB adalah dokumen resmi yang menunjukkan bahwa industri kosmetik telah memenuhi persyaratan sertifikasi CPKB sesuai ketentuan yang berlaku.

Dalam PerBPOM No. 8 Tahun 2026, format sertifikat CPKB diterbitkan melalui sistem OSS dan memuat informasi seperti nama pelaku usaha, NIB, alamat kantor, status penanaman modal, KBLI, serta lokasi usaha.

Dengan adanya sertifikat tersebut, perusahaan memiliki bukti bahwa fasilitas dan sistem produksinya telah melalui proses sertifikasi sesuai ruang lingkup yang disetujui.

Namun, penting dipahami bahwa sertifikat bukan berarti perusahaan boleh berhenti menerapkan CPKB setelah dokumen diterbitkan. Standar tersebut harus tetap dijalankan dalam kegiatan produksi sehari-hari.

Apa Fungsi CPKB bagi Industri Kosmetik?

CPKB mempunyai fungsi yang cukup luas bagi industri kosmetik. Salah satu tujuan utamanya adalah membantu perusahaan menjaga agar mutu produk tetap konsisten dari satu proses produksi ke proses berikutnya.

Penerapan sistem yang baik juga membantu perusahaan mengendalikan risiko yang dapat memengaruhi mutu produk.

Beberapa manfaat CPKB bagi industri kosmetik antara lain:

Menjaga Konsistensi Mutu Produk

Produk kosmetik harus dibuat dengan proses yang terkendali. Jika prosedur berubah-ubah tanpa pengendalian, kualitas produk juga berpotensi tidak konsisten.

CPKB membantu perusahaan membangun proses yang lebih terstruktur sehingga setiap tahapan memiliki standar kerja yang jelas.

Meningkatkan Pengendalian Proses Produksi

Mulai dari bahan baku sampai produk jadi, setiap tahapan perlu dikendalikan.

Dengan prosedur yang jelas, perusahaan dapat mengetahui siapa yang bertanggung jawab, apa yang harus dilakukan, dan bagaimana hasil kegiatan tersebut dicatat.

Mendukung Keamanan Produk

Kebersihan fasilitas, pengendalian bahan, pemeliharaan peralatan, proses produksi, hingga pengawasan mutu merupakan bagian yang saling berhubungan dalam menjaga kualitas produk.

Sistem CPKB membantu perusahaan mengendalikan berbagai faktor yang dapat memengaruhi produk.

Membantu Membangun Sistem Kerja yang Konsisten

Perusahaan tidak bergantung pada kebiasaan individu tertentu. Dengan SOP dan pembagian tanggung jawab yang jelas, pekerjaan dapat dilakukan berdasarkan sistem.

Memudahkan Penelusuran

Pencatatan yang baik membuat perusahaan lebih mudah menelusuri bahan, proses, hasil pemeriksaan, maupun kejadian tertentu apabila diperlukan evaluasi.

Siapa yang Membutuhkan Sertifikasi CPKB?

Sertifikasi CPKB berkaitan dengan industri yang melakukan kegiatan pembuatan kosmetik. Ruang lingkup dan persyaratannya perlu disesuaikan dengan kegiatan usaha, fasilitas, serta jenis produksi yang dilakukan.

Perusahaan yang ingin membangun fasilitas produksi sendiri sebaiknya mempersiapkan CPKB sejak tahap perencanaan, bukan setelah bangunan dan sistem produksi selesai.

Dengan begitu, desain fasilitas, alur kerja, peralatan, personel, dan dokumentasi dapat dipersiapkan secara lebih terintegrasi.

Bagi pengusaha yang baru membangun bisnis kosmetik dan masih membutuhkan badan usaha, persiapan administrasi dapat dilakukan sejak awal melalui Jasa Pendirian PT Kosmetik agar struktur perusahaan dapat disiapkan sejalan dengan rencana pengembangan fasilitas produksi.

CPKB Adalah: Pengertian, Fungsi, dan Cara Mendapatkan Sertifikat Resmi
CPKB Adalah: Pengertian, Fungsi, dan Cara Mendapatkan Sertifikat Resmi

Apa Saja yang Perlu Disiapkan untuk CPKB?

Persiapan CPKB tidak berhenti pada pengumpulan formulir. Perusahaan perlu mempersiapkan sistem yang benar-benar dapat diterapkan.

Beberapa bagian penting yang perlu diperhatikan meliputi:

  • administrasi dan data perusahaan;
  • struktur organisasi;
  • penanggung jawab teknis;
  • personel dan kompetensinya;
  • bangunan serta fasilitas;
  • peralatan produksi;
  • sanitasi dan higiene;
  • bahan baku;
  • bahan kemas;
  • proses produksi;
  • pengawasan mutu;
  • dokumentasi;
  • penyimpanan;
  • pengelolaan penyimpangan;
  • tindakan perbaikan;
  • pengendalian perubahan;
  • penanganan keluhan; dan
  • pemeriksaan atau evaluasi internal.

PerBPOM No. 8 Tahun 2026 juga memuat lampiran berupa daftar dokumen penerapan sistem mutu CPKB yang menjadi bagian dari kerangka sertifikasi terbaru.

Dokumen CPKB yang Perlu Dipersiapkan

Dokumen menjadi salah satu bagian yang sering membuat perusahaan membutuhkan waktu cukup banyak dalam proses persiapan.

Dokumen tidak seharusnya dibuat hanya agar terlihat lengkap. Isi dokumen harus sesuai dengan kondisi fasilitas dan kegiatan yang benar-benar dilakukan.

Contohnya:

  • SOP penerimaan bahan;
  • SOP penyimpanan;
  • SOP penimbangan;
  • SOP proses produksi;
  • SOP pembersihan;
  • SOP sanitasi;
  • prosedur pengawasan mutu;
  • prosedur pengendalian dokumen;
  • prosedur penanganan penyimpangan;
  • prosedur pengendalian perubahan;
  • prosedur penanganan keluhan;
  • catatan produksi;
  • catatan pembersihan;
  • catatan pemeliharaan;
  • catatan pelatihan personel; dan
  • dokumen pendukung lainnya sesuai ruang lingkup kegiatan.

Dokumen yang dibutuhkan dapat berbeda sesuai kondisi perusahaan. Karena itu, perusahaan sebaiknya tidak sekadar menyalin dokumen milik fasilitas lain.

Bagaimana Cara Mendapatkan Sertifikat CPKB Resmi?

Secara umum, proses mendapatkan sertifikat CPKB perlu diawali dengan memastikan perusahaan dan fasilitas telah siap memenuhi persyaratan yang berlaku.

Tahapannya dapat dipahami sebagai berikut.

1. Menentukan Ruang Lingkup Sertifikasi

Pertama, perusahaan perlu memahami kegiatan produksi yang akan dilakukan dan ruang lingkup sertifikasi yang dibutuhkan.

Hal ini penting karena kebutuhan fasilitas, peralatan, personel, dan sistem mutu harus disesuaikan dengan kegiatan yang akan dijalankan.

2. Menyiapkan Fasilitas Produksi

Fasilitas perlu dipersiapkan agar mendukung kegiatan produksi yang higienis, teratur, dan terkendali.

Alur bahan, personel, produk, serta kegiatan produksi perlu diperhatikan agar sistem yang dibangun dapat diterapkan secara efektif.

3. Menyusun Sistem dan Dokumen Mutu

Selanjutnya, perusahaan mempersiapkan dokumen dan prosedur yang diperlukan.

SOP harus dibuat berdasarkan kegiatan nyata. Jika prosedur tertulis tidak sesuai dengan kondisi lapangan, perusahaan justru akan kesulitan ketika menerapkannya.

4. Mempersiapkan Personel

Personel yang terlibat dalam produksi dan fungsi terkait harus memahami tugas serta prosedur masing-masing.

Pelatihan juga penting agar sistem yang sudah dibuat tidak hanya berhenti di atas kertas.

5. Melakukan Evaluasi Kesiapan

Sebelum pengajuan, perusahaan sebaiknya melakukan pemeriksaan internal atau gap analysis.

Tujuannya untuk mengetahui bagian mana yang sudah sesuai dan mana yang masih perlu diperbaiki.

Tahap ini sangat membantu karena perusahaan dapat menyelesaikan kekurangan sebelum masuk ke proses pemeriksaan resmi.

6. Mengajukan Sertifikasi Sesuai Mekanisme yang Berlaku

Setelah persiapan selesai, perusahaan dapat mengajukan sertifikasi melalui mekanisme layanan pemerintah yang berlaku.

Perlu diperhatikan bahwa mekanisme layanan dapat berubah mengikuti sistem dan regulasi terbaru. Karena itu, pelaku usaha sebaiknya menggunakan informasi resmi BPOM dan OSS saat melakukan pengajuan.

PerBPOM No. 8 Tahun 2026 sendiri membawa sejumlah penyederhanaan proses sertifikasi, termasuk penghapusan persetujuan denah bangunan dan penggunaan mekanisme perhitungan waktu layanan dengan sistem clock on dan clock off. (Pompeo)

7. Mengikuti Proses Evaluasi dan Pemeriksaan

Setelah pengajuan, perusahaan perlu mengikuti proses evaluasi sesuai ketentuan.

Kesiapan dokumen saja tidak cukup. Kondisi fasilitas dan penerapan sistem di lapangan juga harus konsisten dengan dokumen yang diajukan.

Inilah alasan mengapa persiapan CPKB sebaiknya dilakukan jauh sebelum pemeriksaan.

8. Melakukan Perbaikan Jika Ditemukan Ketidaksesuaian

Apabila terdapat temuan atau kekurangan, perusahaan perlu melakukan tindak lanjut sesuai mekanisme yang ditetapkan.

Perbaikan harus dilakukan berdasarkan penyebab masalah, bukan hanya memperbaiki bagian yang terlihat.

9. Sertifikat Diterbitkan Setelah Persyaratan Terpenuhi

Jika proses sertifikasi telah memenuhi ketentuan dan persyaratan yang berlaku, sertifikat CPKB dapat diterbitkan melalui mekanisme yang ditetapkan.

Format sertifikat CPKB sendiri telah diatur dalam Lampiran III PerBPOM No. 8 Tahun 2026.

CPKB Golongan A, Golongan B, dan Sertifikat Pemenuhan Aspek

Dalam memahami CPKB, perusahaan juga perlu memperhatikan pengelompokan industri kosmetik yang berlaku.

Regulasi terbaru memberikan ketentuan mengenai kriteria industri kosmetik Golongan A dan Golongan B. Selain sertifikat CPKB, terdapat pula Sertifikat Pemenuhan Aspek CPKB untuk skema yang sesuai dengan ketentuan.

Perlu diperhatikan bahwa Sertifikat Pemenuhan Aspek CPKB tidak sama dengan sertifikat CPKB penuh dalam konteks kegiatan usaha. BPOM secara khusus menegaskan bahwa industri kosmetik yang memperoleh sertifikat pemenuhan aspek CPKB tidak boleh menerima kontrak produksi.

Karena itu, perusahaan perlu menentukan sejak awal apakah membutuhkan sertifikasi penuh atau skema pemenuhan aspek berdasarkan model bisnis dan kegiatan produksinya.

CPKB Bukan Hanya Tentang Dokumen

Salah satu kesalahpahaman yang cukup sering terjadi adalah menganggap CPKB sebagai pekerjaan administratif.

Padahal, dokumen hanyalah salah satu bagian dari sistem.

Perusahaan bisa memiliki SOP yang sangat lengkap, tetapi jika personel tidak memahami prosedurnya, fasilitas tidak mendukung, atau pencatatan tidak dilakukan, penerapan sistem tetap belum berjalan secara optimal.

Sebaliknya, fasilitas yang bagus juga belum cukup jika tidak didukung prosedur, personel, pengawasan, dan dokumentasi yang memadai.

Karena itu, CPKB harus dibangun sebagai sistem yang hidup dalam operasional perusahaan.

Kapan Sebaiknya Mulai Mengurus CPKB?

Idealnya, persiapan CPKB dilakukan sejak perusahaan mulai merancang fasilitas produksi.

Jangan menunggu bangunan selesai baru memikirkan sistem CPKB. Pendekatan seperti itu dapat membuat perusahaan harus melakukan perubahan ulang pada fasilitas, alur produksi, maupun dokumen.

Dengan perencanaan sejak awal, perusahaan dapat menghubungkan:

perusahaan → fasilitas → personel → peralatan → proses → mutu → dokumentasi

menjadi satu sistem yang saling mendukung.

Persiapan Produk Juga Sebaiknya Dilakukan Bersamaan

Selain menyiapkan fasilitas dan sistem produksi, perusahaan kosmetik sebaiknya memikirkan aspek produk sejak tahap awal.

Identitas produk, strategi pengembangan, dan perlindungan nama produk dapat dipersiapkan bersamaan agar tidak menimbulkan masalah ketika produk sudah siap dipasarkan.

Untuk perusahaan yang ingin memahami pentingnya Pendaftaran Merek Kosmetik, informasi lebih lanjut dapat dipelajari melalui Pendaftaran Merek HAKI.

Dengan perencanaan tersebut, pengembangan produk tidak hanya berfokus pada formula dan kemasan, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan bisnis dalam jangka panjang.

Bagaimana dengan Sertifikasi Halal Produk Kosmetik?

CPKB dan sertifikasi halal merupakan dua hal yang berbeda, tetapi keduanya dapat dipersiapkan secara paralel dalam pengembangan industri kosmetik.

CPKB berfokus pada penerapan cara pembuatan kosmetik yang baik, sedangkan kewajiban dan proses sertifikasi halal berkaitan dengan pemenuhan ketentuan jaminan produk halal.

Karena itu, perusahaan dapat memetakan kebutuhan keduanya sejak awal.

Bagi perusahaan yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai Wajib Sertifikasi Halal Kosmetik, informasi dapat dipelajari melalui Sertifikasi Halal Kosmetik.

Apakah Perlu Menggunakan Jasa Pendampingan CPKB?

Tidak semua perusahaan memiliki tim internal yang memahami seluruh aspek CPKB. Terutama bagi perusahaan baru, proses menyiapkan fasilitas, dokumen, SOP, personel, dan sistem mutu secara bersamaan dapat terasa cukup kompleks.

Pendampingan dapat membantu perusahaan memetakan kesiapan sejak awal.

Misalnya dengan melakukan:

  • evaluasi awal fasilitas;
  • pemeriksaan dokumen;
  • gap analysis;
  • pendampingan penyusunan SOP;
  • persiapan personel;
  • evaluasi penerapan sistem;
  • simulasi pemeriksaan; dan
  • pendampingan tindak lanjut perbaikan.

Jika membutuhkan pendampingan profesional, perusahaan dapat memanfaatkan Jasa Sertifikasi CPKB sesuai kebutuhan dan ruang lingkup fasilitas.

Pendampingan bukan berarti menjamin sertifikat otomatis diterbitkan. Tujuannya adalah membantu perusahaan meningkatkan kesiapan dan mengurangi kesalahan dalam proses persiapan.

Mengapa Memilih Pendamping yang Memahami CPKB?

CPKB berkaitan dengan banyak bagian yang saling terhubung. Kesalahan dalam satu bagian dapat memengaruhi bagian lainnya.

Contohnya, perubahan alur produksi dapat berdampak pada fasilitas, SOP, sanitasi, personel, dokumentasi, hingga pengawasan mutu.

Karena itu, pendamping sebaiknya tidak hanya berfokus pada pembuatan dokumen, tetapi juga memahami hubungan antara dokumen dan penerapannya di lapangan.

Pendekatan yang lebih menyeluruh akan membantu perusahaan membangun sistem yang memang dapat dijalankan setelah sertifikasi diperoleh.

Kesimpulan

CPKB adalah Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik, yaitu sistem yang digunakan industri kosmetik untuk memastikan kegiatan pembuatan produk dilakukan secara terkendali dan mampu memenuhi persyaratan mutu sesuai tujuan penggunaannya.

Sementara itu, sertifikat CPKB adalah bukti resmi bahwa industri kosmetik telah memenuhi persyaratan sertifikasi sesuai ruang lingkup yang disetujui.

Untuk mendapatkan sertifikat tersebut, perusahaan perlu mempersiapkan lebih dari sekadar dokumen. Fasilitas, peralatan, personel, bahan, proses produksi, pengawasan mutu, sanitasi, dokumentasi, dan sistem evaluasi harus dipersiapkan secara terintegrasi.

Saat ini, acuan utama sertifikasi CPKB adalah PerBPOM No. 8 Tahun 2026, yang berlaku sejak 29 April 2026 dan menggantikan PerBPOM No. 33 Tahun 2021.

Jika Anda sedang membangun industri kosmetik atau mempersiapkan fasilitas produksi dan membutuhkan bantuan memahami persyaratan, menilai kesiapan dokumen, serta mempersiapkan proses sertifikasi, PERMATAMAS siap membantu dari tahap persiapan hingga pendampingan proses CPKB sesuai kebutuhan perusahaan.

KONSULTASI GRATIS

PERMATAMAS
Alamat : Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Kel. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi 17131
No Telp : 021-89253417
Watshapp : 085777630555

FAQ

1. CPKB adalah apa?

CPKB adalah Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik, yaitu sistem dan pedoman yang diterapkan dalam kegiatan produksi kosmetik agar proses berjalan secara terkendali dan memenuhi persyaratan mutu.

2. Apa fungsi CPKB bagi industri kosmetik?

CPKB membantu perusahaan menjaga konsistensi mutu, mengendalikan proses produksi, meningkatkan penerapan higiene dan sanitasi, serta membangun sistem kerja yang terdokumentasi dan dapat ditelusuri.

3. Apa yang dimaksud dengan sertifikat CPKB?

Sertifikat CPKB merupakan dokumen resmi yang menunjukkan bahwa industri kosmetik telah memenuhi persyaratan sertifikasi CPKB sesuai ruang lingkup yang disetujui.

4. Apa saja yang perlu disiapkan untuk mendapatkan sertifikat CPKB?

Perusahaan perlu mempersiapkan fasilitas, peralatan, personel, bahan baku, proses produksi, pengawasan mutu, sanitasi, SOP, dokumentasi, serta sistem untuk menangani penyimpangan dan perubahan.

5. Apakah CPKB hanya berkaitan dengan dokumen?

Tidak. Dokumen merupakan salah satu bagian CPKB. Yang tidak kalah penting adalah penerapan prosedur, kesiapan fasilitas, kompetensi personel, pengawasan mutu, dan pencatatan kegiatan di lapangan.

6. Bagaimana cara mendapatkan sertifikat CPKB?

Secara umum, perusahaan perlu mempersiapkan fasilitas dan sistem mutu, menentukan ruang lingkup sertifikasi, menyiapkan dokumen, melakukan evaluasi kesiapan, mengajukan sertifikasi melalui mekanisme yang berlaku, serta mengikuti proses evaluasi dan pemeriksaan.

7. Apakah perusahaan baru bisa mengurus sertifikat CPKB?

Bisa. Perusahaan baru dapat mempersiapkan sertifikasi CPKB dengan memastikan badan usaha, fasilitas, personel, peralatan, sistem mutu, dan kegiatan produksi telah disiapkan sesuai ketentuan yang berlaku.

8. Apakah CPKB sama dengan izin edar kosmetik?

Tidak. CPKB berkaitan dengan penerapan cara pembuatan kosmetik yang baik pada fasilitas industri, sedangkan izin edar berkaitan dengan persetujuan untuk peredaran produk kosmetik sesuai ketentuan yang berlaku.

9. Apakah menggunakan jasa pendampingan menjamin sertifikat CPKB terbit?

Tidak ada pendamping yang dapat menjamin hasil pemeriksaan. Pendampingan bertujuan membantu perusahaan mempersiapkan fasilitas, dokumen, personel, dan sistem agar lebih siap mengikuti proses sertifikasi.

10. Peraturan CPKB terbaru menggunakan regulasi apa?

Ketentuan sertifikasi CPKB saat ini mengacu pada PerBPOM Nomor 8 Tahun 2026 tentang Sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik, yang menggantikan PerBPOM Nomor 33 Tahun 2021.

jasa izin pkrt
jasa izin pkrt
Jasa Sertifikasi CPKB BPOM: Dari Persiapan Sampai Lolos Audit

Jasa Sertifikasi CPKB BPOM: Dari Persiapan Sampai Lolos Audit

Jasa Sertifikasi CPKB BPOM: Dari Persiapan Sampai Lolos Audit – Memiliki industri kosmetik tidak cukup hanya dengan menyiapkan produk dan fasilitas produksi. Perusahaan juga perlu memastikan seluruh kegiatan pembuatan kosmetik berjalan berdasarkan standar yang ditetapkan. Salah satu bagian penting yang perlu dipersiapkan adalah penerapan Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB).

Proses sertifikasi CPKB membutuhkan persiapan yang matang karena perusahaan tidak hanya dinilai berdasarkan kondisi bangunan atau peralatan. Sistem kerja, personel, dokumentasi, proses produksi, pengawasan mutu, sanitasi, penyimpanan, hingga penerapan prosedur menjadi bagian yang perlu diperhatikan.

Karena itu, pendampingan dari tahap persiapan sampai menghadapi audit dapat membantu perusahaan memahami apa saja yang perlu diperbaiki sebelum proses evaluasi dilakukan. PERMATAMAS hadir untuk membantu pelaku industri kosmetik mempersiapkan kebutuhan tersebut secara lebih terarah.

Mengapa Persiapan CPKB Harus Dilakukan dengan Matang?

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah perusahaan baru melakukan persiapan setelah ingin mengajukan sertifikasi. Padahal, penerapan CPKB berkaitan dengan banyak bagian yang saling terhubung.

Jika fasilitas belum sesuai, dokumen belum lengkap, personel belum memahami tugasnya, atau prosedur belum diterapkan secara konsisten, perusahaan dapat mengalami kendala ketika memasuki tahapan evaluasi.

Persiapan sejak awal membantu perusahaan mengetahui kondisi sebenarnya. Dari sana, setiap kekurangan dapat diidentifikasi dan diperbaiki sebelum proses audit dilakukan.

Bagi perusahaan yang masih berada pada tahap awal membangun usaha, struktur badan usaha juga perlu disiapkan. Pendampingan melalui Jasa Pendirian PT Kosmetik dapat menjadi salah satu langkah awal sebelum perusahaan masuk lebih jauh ke dalam persiapan kegiatan industri.

Apa Saja yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Pengajuan?

Persiapan tidak hanya berkaitan dengan dokumen administrasi. Perusahaan perlu melihat kesiapan secara menyeluruh agar setiap bagian dapat mendukung penerapan CPKB.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Kesiapan fasilitas produksi sesuai dengan kegiatan yang dilakukan.
  2. Ketersediaan peralatan yang sesuai dan terpelihara.
  3. Personel yang kompeten serta memahami tanggung jawab masing-masing.
  4. Dokumentasi dan prosedur kerja yang jelas.
  5. Sistem pengawasan mutu yang dapat diterapkan secara konsisten.

Kelima bagian tersebut perlu dipersiapkan secara terintegrasi. Tidak cukup hanya memiliki dokumen yang lengkap jika penerapannya tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Bagaimana Menyiapkan Fasilitas Produksi?

Fasilitas produksi menjadi salah satu bagian yang perlu mendapat perhatian serius. Tata letak ruangan harus mendukung alur kegiatan sehingga proses produksi dapat berlangsung secara teratur dan risiko kontaminasi maupun kesalahan proses dapat diminimalkan.

Perusahaan perlu memperhatikan area penerimaan bahan, penyimpanan, penimbangan, produksi, pengemasan, penyimpanan produk jadi, serta area lain yang diperlukan berdasarkan kegiatan produksinya.

Selain tata letak, kondisi bangunan, kebersihan, ventilasi, pencahayaan, fasilitas sanitasi, serta pemeliharaan lingkungan kerja juga perlu diperhatikan.

Fasilitas yang baik bukan hanya terlihat rapi ketika diperiksa, tetapi memang digunakan dan dipelihara sesuai prosedur dalam kegiatan sehari-hari.

Mengapa Dokumentasi Menjadi Bagian Penting?

Dalam penerapan CPKB, dokumentasi berfungsi sebagai bukti bahwa sistem benar-benar dijalankan. Prosedur yang hanya dibuat tetapi tidak pernah diterapkan tentu tidak cukup untuk menggambarkan kondisi operasional perusahaan.

Dokumen perlu dibuat sesuai kegiatan nyata. Misalnya, prosedur produksi harus sesuai dengan proses yang dilakukan oleh perusahaan, sedangkan pencatatan harus dapat menunjukkan apa yang benar-benar terjadi selama kegiatan berlangsung.

Beberapa dokumen yang perlu dipersiapkan dapat berkaitan dengan:

  • prosedur operasional;
  • pengawasan bahan baku;
  • proses produksi;
  • pengemasan;
  • sanitasi;
  • pemeliharaan peralatan;
  • pengawasan mutu;
  • penyimpanan;
  • penanganan penyimpangan;
  • pencatatan dan dokumentasi.

Konsistensi antara dokumen dan penerapan di lapangan menjadi hal yang sangat penting.

Jasa Sertifikasi CPKB BPOM: Dari Persiapan Sampai Lolos Audit
Jasa Sertifikasi CPKB BPOM: Dari Persiapan Sampai Lolos Audit

Dokumen CPKB yang Perlu Dipersiapkan

Salah satu bagian yang sering membuat perusahaan kesulitan sebelum pengajuan adalah menyiapkan dokumen penerapan sistem mutu CPKB. Dokumen tersebut bukan sekadar kumpulan administrasi, tetapi harus menggambarkan bagaimana sistem produksi dan pengawasan dijalankan di perusahaan.

Berdasarkan ketentuan terbaru, PerBPOM No. 8 Tahun 2026 tentang Sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik telah berlaku sejak 29 April 2026 dan mencabut PerBPOM No. 33 Tahun 2021. Regulasi ini juga memuat daftar dokumen penerapan sistem mutu CPKB sebagai bagian dari ketentuan sertifikasi.

Secara praktis, perusahaan perlu mempersiapkan dokumen yang berkaitan dengan beberapa bagian berikut:

  1. Dokumen administrasi perusahaan
    Meliputi identitas dan informasi usaha yang diperlukan dalam proses pengajuan, termasuk data perusahaan, NIB, KBLI, alamat kantor, serta informasi lokasi kegiatan usaha sesuai kebutuhan pengajuan.
  2. Dokumen struktur organisasi
    Berisi struktur organisasi perusahaan, pembagian tugas, wewenang, tanggung jawab, serta posisi personel yang terlibat dalam kegiatan produksi dan pengawasan mutu.
  3. Dokumen personel dan kompetensi
    Perusahaan perlu memiliki data personel yang terlibat dalam kegiatan produksi, pengawasan mutu, serta fungsi terkait lainnya. Dokumen dapat mencakup uraian pekerjaan, kualifikasi, pelatihan, dan catatan kompetensi sesuai tanggung jawab masing-masing.
  4. Dokumen fasilitas dan peralatan
    Berisi informasi mengenai fasilitas produksi dan peralatan yang digunakan. Dokumen pendukung dapat mencakup daftar peralatan, identifikasi peralatan, pemeliharaan, pembersihan, kalibrasi atau verifikasi apabila relevan, serta catatan penggunaannya.
  5. Prosedur operasional standar (SOP)
    SOP perlu dibuat untuk kegiatan yang memang dilakukan perusahaan. Contohnya prosedur penerimaan bahan, penyimpanan, penimbangan, produksi, pengemasan, pembersihan, sanitasi, pengawasan mutu, penanganan penyimpangan, dan kegiatan lain yang relevan.
  6. Dokumen bahan baku dan bahan kemas
    Perusahaan perlu memiliki sistem untuk mengendalikan bahan yang digunakan dalam produksi. Dokumentasi dapat berkaitan dengan penerimaan, pemeriksaan, identifikasi, penyimpanan, status bahan, serta penggunaannya dalam proses produksi.
  7. Dokumen proses produksi
    Dokumen produksi harus dapat menunjukkan bagaimana suatu produk dibuat secara konsisten. Termasuk di dalamnya instruksi atau prosedur proses, pencatatan tahapan produksi, penggunaan bahan, peralatan, serta hasil proses sesuai kebutuhan.
  8. Dokumen pengawasan mutu
    Bagian ini berkaitan dengan sistem pemeriksaan dan pengujian yang diterapkan perusahaan. Dokumentasi dapat mencakup prosedur pengambilan sampel, pemeriksaan bahan, pemeriksaan selama proses, pemeriksaan produk jadi, hasil pengujian, serta pencatatan hasil pengawasan.
  9. Dokumen sanitasi dan higiene
    Perusahaan perlu memiliki prosedur dan catatan terkait kebersihan personel, ruangan, peralatan, serta lingkungan produksi. Penerapan sanitasi harus dapat dibuktikan melalui pencatatan yang sesuai.
  10. Dokumen penyimpanan dan distribusi
    Sistem penyimpanan perlu mengatur bagaimana bahan baku, bahan kemas, produk antara, dan produk jadi ditangani. Kondisi penyimpanan, identifikasi status, penataan, serta pengeluaran barang perlu dikendalikan sesuai kebutuhan.
  11. Dokumen penanganan penyimpangan dan tindakan perbaikan
    Perusahaan perlu mempunyai mekanisme untuk mencatat dan menangani apabila terjadi ketidaksesuaian selama kegiatan berlangsung. Temuan kemudian dapat dievaluasi dan ditindaklanjuti dengan tindakan perbaikan maupun pencegahan yang sesuai.
  12. Dokumen keluhan dan penanganan produk
    Jika terdapat keluhan terhadap produk, perusahaan perlu mempunyai prosedur untuk menerima, mencatat, mengevaluasi, dan menindaklanjuti keluhan tersebut. Mekanisme penanganan produk yang bermasalah juga perlu disiapkan sesuai sistem perusahaan.
  13. Dokumen penarikan produk bila diperlukan
    Perusahaan perlu memahami mekanisme penanganan apabila suatu produk harus ditarik dari peredaran. Prosedurnya harus jelas sehingga perusahaan dapat melakukan penelusuran dan tindakan yang diperlukan.
  14. Dokumen pengendalian perubahan
    Perubahan pada fasilitas, peralatan, bahan, proses, dokumen, atau aspek lain yang memengaruhi mutu perlu dikendalikan. Perusahaan sebaiknya memiliki mekanisme untuk mengajukan, menilai, menyetujui, dan mendokumentasikan perubahan tersebut.
  15. Dokumen audit internal atau pemeriksaan mandiri
    Pemeriksaan internal dapat digunakan untuk mengetahui apakah sistem yang diterapkan sudah berjalan sebagaimana mestinya. Temuan dari pemeriksaan kemudian dapat digunakan sebagai dasar perbaikan sebelum perusahaan menghadapi evaluasi.

Yang perlu diperhatikan, daftar di atas merupakan gambaran praktis jenis dokumen yang perlu dipersiapkan, bukan berarti setiap perusahaan harus memiliki dokumen dengan nama atau format yang persis sama. Kebutuhan dapat berbeda berdasarkan jenis kegiatan, fasilitas, bentuk sediaan, dan ruang lingkup sertifikasi.

Hal yang paling penting adalah dokumen harus sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Jangan sampai perusahaan memiliki SOP yang terlihat lengkap, tetapi personel tidak menerapkannya atau fasilitas tidak sesuai dengan prosedur yang tertulis.

Bagaimana Memeriksa Kelengkapan Dokumen Sebelum Audit?

Sebelum mengikuti proses evaluasi, perusahaan sebaiknya melakukan pemeriksaan internal terhadap seluruh dokumen. Setiap SOP perlu dibandingkan dengan praktik yang benar-benar dilakukan di fasilitas produksi.

Contohnya, apabila perusahaan memiliki SOP pembersihan peralatan, harus tersedia bukti bahwa kegiatan tersebut memang dilakukan dan dicatat. Begitu pula dengan pelatihan personel, pemeliharaan peralatan, pemeriksaan bahan, produksi, pengawasan mutu, hingga penanganan penyimpangan.

Pemeriksaan seperti ini membantu menemukan gap antara dokumen dan penerapan sebelum audit dilakukan.

Pendampingan Jasa Pengurusan Sertifikasi CPKB dapat membantu perusahaan melakukan pemetaan kebutuhan, meninjau dokumen, serta mempersiapkan penerapan sistem agar lebih sesuai dengan ruang lingkup kegiatan yang dijalankan.

Dokumen Lengkap Saja Belum Cukup untuk Lolos Audit

Perusahaan perlu memahami bahwa kesiapan audit tidak ditentukan oleh banyaknya dokumen. Auditor juga akan melihat bagaimana sistem tersebut diterapkan dalam kegiatan nyata.

Personel harus memahami prosedur yang menjadi tanggung jawabnya. Fasilitas harus digunakan sesuai fungsinya. Catatan harus dibuat ketika kegiatan benar-benar dilakukan. Peralatan harus dipelihara. Bahan harus dikendalikan. Pengawasan mutu harus berjalan.

Dengan demikian, strategi terbaik bukan membuat dokumen sebanyak mungkin, tetapi membangun sistem yang sesuai, diterapkan, dicatat, dan dapat ditelusuri.

Pendekatan tersebut akan membuat perusahaan lebih siap menghadapi audit sekaligus membantu menjaga konsistensi proses produksi setelah sertifikat diperoleh.

Catatan penting: Saya sengaja tidak menggunakan istilah lama seperti persetujuan denah bangunan sebagai persyaratan wajib, karena PerBPOM No. 8 Tahun 2026 justru menghapus persetujuan denah bangunan kosmetik dalam pembaruan proses sertifikasi.

Bagaimana Mempersiapkan Personel Sebelum Audit?

Personel merupakan bagian penting dalam penerapan sistem CPKB. Setiap orang yang terlibat dalam proses produksi harus memahami tugas dan tanggung jawabnya.

Perusahaan sebaiknya memiliki struktur organisasi yang jelas serta pembagian pekerjaan yang dapat dipahami oleh masing-masing personel. Pelatihan juga diperlukan agar personel mengetahui prosedur yang harus dilakukan.

Saat audit berlangsung, personel yang terkait dapat diminta menjelaskan pekerjaan yang mereka lakukan. Karena itu, perusahaan tidak seharusnya hanya mempersiapkan dokumen, tetapi juga memastikan setiap personel memahami sistem yang diterapkan.

Apa yang Dinilai Saat Audit CPKB?

Audit pada dasarnya bertujuan untuk melihat apakah perusahaan telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan menerapkannya dalam kegiatan operasional.

Pemeriksaan dapat berkaitan dengan kondisi fasilitas, proses produksi, personel, dokumentasi, sanitasi, pengawasan mutu, penyimpanan, peralatan, serta sistem lain yang relevan.

Hal yang perlu dipahami adalah bahwa perusahaan tidak cukup hanya menunjukkan bahwa fasilitas terlihat baik. Auditor juga dapat melihat bagaimana prosedur dijalankan dan bagaimana perusahaan melakukan pencatatan.

Dengan demikian, kesiapan menghadapi audit harus mencakup kesiapan dokumen sekaligus kesiapan penerapan di lapangan.

Kesalahan yang Sering Menyebabkan Kendala Saat Audit

Beberapa kendala dapat muncul ketika perusahaan belum melakukan pemeriksaan internal sebelum audit. Contohnya adalah dokumen tidak sesuai dengan kondisi lapangan, prosedur belum diterapkan secara konsisten, pencatatan tidak lengkap, atau personel belum memahami tugasnya.

Kesalahan lainnya adalah perusahaan terlalu fokus pada fasilitas fisik tetapi mengabaikan sistem dokumentasi dan pengawasan mutu.

Agar lebih siap, perusahaan dapat melakukan pemeriksaan internal terlebih dahulu. Setiap temuan dicatat, kemudian dibuat tindakan perbaikan dan pencegahan agar masalah yang sama tidak berulang.

Bagaimana Melakukan Simulasi Sebelum Audit?

Simulasi audit dapat membantu perusahaan melihat kesiapan dari sudut pandang pemeriksa. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan mengecek fasilitas, dokumen, prosedur, catatan produksi, kebersihan, penyimpanan, hingga pemahaman personel.

Pertanyaan sederhana juga dapat diberikan kepada personel untuk mengetahui apakah mereka benar-benar memahami prosedur yang berlaku.

Misalnya, personel dapat ditanyakan mengenai cara menangani bahan yang tidak sesuai, prosedur pembersihan peralatan, pencatatan produksi, atau tindakan ketika terjadi penyimpangan.

Hasil simulasi kemudian dapat digunakan untuk menentukan bagian mana yang masih perlu diperbaiki sebelum audit sebenarnya.

Apa Peran Pendamping dalam Proses Sertifikasi?

Pendampingan dapat membantu perusahaan memahami tahapan yang harus dilalui dan mengidentifikasi bagian yang masih perlu diperbaiki. Pendamping juga dapat membantu melakukan evaluasi terhadap dokumen, fasilitas, sistem kerja, serta kesiapan personel.

Bagi perusahaan yang membutuhkan bantuan dalam proses tersebut, Jasa Pengurusan Sertifikasi CPKB dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendapatkan pendampingan sesuai kebutuhan.

Pendampingan bukan berarti menggantikan tanggung jawab perusahaan dalam menerapkan sistem. Justru perusahaan tetap perlu memastikan seluruh prosedur benar-benar dijalankan oleh tim internal.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Setelah Sertifikat Diperoleh?

Mendapatkan sertifikat bukan berarti perusahaan dapat berhenti menerapkan sistem. CPKB perlu dipertahankan melalui penerapan yang konsisten.

Perusahaan perlu terus melakukan pengawasan, pemeliharaan fasilitas, pelatihan personel, evaluasi prosedur, pengendalian bahan, serta dokumentasi kegiatan.

Perubahan pada proses produksi, fasilitas, peralatan, atau aspek lain juga perlu dikelola dengan baik agar tidak mengganggu konsistensi sistem yang sudah diterapkan.

Bagaimana Menyiapkan Produk untuk Tahap Berikutnya?

Setelah sistem produksi dan fasilitas dipersiapkan, perusahaan dapat melanjutkan berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan produk yang akan dipasarkan.

Data produk, komposisi, kemasan, penandaan, serta informasi produsen perlu diperiksa dengan teliti agar tidak terjadi ketidaksesuaian pada tahap berikutnya.

Di sisi lain, pemilik usaha juga sebaiknya mulai memperhatikan perlindungan identitas produk. Memahami pentingnya Pendaftaran Merek Kosmetik sejak awal dapat membantu perusahaan mempersiapkan perlindungan nama dan identitas yang digunakan dalam kegiatan bisnis.

Persiapan seperti ini sebaiknya dilakukan secara paralel agar pengembangan usaha tidak hanya berfokus pada produksi.

Bagaimana Mempersiapkan Aspek Halal Produk Kosmetik?

Selain proses produksi dan pengajuan produk, perusahaan juga perlu memperhatikan ketentuan terkait aspek halal sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Persiapannya dapat melibatkan informasi bahan, pemasok, proses produksi, fasilitas, serta dokumen pendukung. Karena itu, pembahasan mengenai Wajib Sertifikasi Halal Kosmetik sebaiknya sudah dipahami sejak tahap pengembangan produk, terutama bagi pelaku usaha yang ingin menyiapkan produknya untuk jangka panjang.

Dengan persiapan lebih awal, perusahaan dapat menghindari perubahan yang tidak perlu ketika produk sudah memasuki tahap pemasaran.

Tahapan Pendampingan CPKB Bersama PERMATAMAS

Secara umum, proses pendampingan dapat dimulai dengan memahami kondisi dan kebutuhan perusahaan. Setelah itu dilakukan pemetaan terhadap fasilitas, dokumen, personel, proses produksi, dan sistem pengawasan mutu.

Tahap berikutnya adalah melakukan perbaikan pada bagian yang belum siap. Setelah perusahaan dinilai lebih siap, dokumen dan penerapan sistem dapat dipersiapkan untuk mengikuti tahapan pengajuan dan pemeriksaan sesuai prosedur yang berlaku.

Alur pendampingan dapat mencakup:

  1. Konsultasi awal untuk memahami kondisi perusahaan.
  2. Pemetaan kebutuhan berdasarkan kegiatan dan fasilitas.
  3. Pemeriksaan kesiapan dokumen dan penerapan sistem.
  4. Pendampingan perbaikan terhadap bagian yang masih kurang.
  5. Persiapan menghadapi audit agar perusahaan lebih siap mengikuti pemeriksaan.

Setiap perusahaan dapat memiliki kebutuhan berbeda sehingga tahapan pendampingan perlu disesuaikan dengan kondisi aktual.

Jasa Sertifikasi CPKB BPOM PERMATAMAS

Mengurus sertifikasi CPKB membutuhkan persiapan yang tidak hanya berorientasi pada dokumen, tetapi juga pada penerapan sistem di lapangan. Fasilitas, personel, prosedur, dokumentasi, produksi, pengawasan mutu, dan berbagai bagian lainnya perlu dipersiapkan secara konsisten.

PERMATAMAS membantu pelaku industri kosmetik memahami dan mempersiapkan tahapan tersebut secara lebih terarah. Dengan persiapan yang dilakukan sejak awal, perusahaan dapat mengetahui kekurangan sebelum masuk ke tahap audit dan memiliki waktu untuk melakukan perbaikan.

Jika Anda sedang mempersiapkan industri kosmetik dan ingin mengetahui kondisi kesiapan fasilitas serta dokumen sebelum mengajukan sertifikasi CPKB, konsultasikan kebutuhan Anda bersama PERMATAMAS. Persiapkan lebih awal agar proses berjalan lebih terstruktur dan peluang menghadapi audit dengan lebih siap semakin besar.

KONSULTASI GRATIS

PERMATAMAS
Alamat : Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Kel. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi 17131
No Telp : 021-89253417
Watshapp : 085777630555

FAQ

1. Apa itu sertifikasi CPKB BPOM?
Sertifikasi CPKB merupakan proses pemenuhan standar Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik untuk memastikan kegiatan produksi kosmetik dilakukan dengan sistem yang sesuai persyaratan.

2. Apa saja yang harus dipersiapkan sebelum mengajukan CPKB?
Persiapan dapat mencakup fasilitas produksi, peralatan, personel, SOP, dokumentasi, sistem pengawasan mutu, sanitasi, penyimpanan, serta penerapan prosedur di lapangan.

3. Dokumen apa saja yang perlu disiapkan untuk CPKB?
Dokumen dapat meliputi SOP, struktur organisasi, uraian tugas, data personel, dokumentasi fasilitas, daftar peralatan, prosedur produksi, pengawasan mutu, sanitasi, penyimpanan, penanganan penyimpangan, dan dokumen terkait lainnya.

4. Apa yang diperiksa saat audit CPKB?
Pemeriksaan dapat mencakup fasilitas, peralatan, personel, proses produksi, dokumentasi, sanitasi, pengawasan mutu, penyimpanan, serta penerapan sistem di lapangan.

5. Apakah dokumen CPKB saja cukup untuk menghadapi audit?
Tidak. Dokumen harus sesuai dengan kondisi sebenarnya dan benar-benar diterapkan oleh personel dalam kegiatan operasional.

6. Apa kesalahan yang sering terjadi saat audit CPKB?
Beberapa kendala antara lain dokumen tidak sesuai kondisi lapangan, SOP tidak diterapkan, pencatatan tidak lengkap, fasilitas belum siap, dan personel belum memahami prosedur.

7. Mengapa perlu melakukan simulasi audit CPKB?
Simulasi membantu perusahaan menemukan kekurangan sebelum pemeriksaan sehingga perbaikan dapat dilakukan lebih awal.

8. Apakah personel perlu mendapatkan pelatihan sebelum audit?
Ya. Personel perlu memahami tugas, tanggung jawab, prosedur kerja, serta sistem yang diterapkan sesuai posisi masing-masing.

9. Apakah CPKB tetap perlu diterapkan setelah sertifikat diperoleh?
Ya. Sistem CPKB perlu diterapkan dan dipelihara secara konsisten agar kegiatan produksi tetap berjalan sesuai standar yang dipersyaratkan.

10. Apakah PERMATAMAS dapat membantu persiapan sampai audit CPKB?
PERMATAMAS dapat memberikan pendampingan sesuai kebutuhan perusahaan, termasuk membantu pemetaan kesiapan fasilitas, dokumen, sistem kerja, personel, serta persiapan menghadapi tahapan pemeriksaan.

Jasa Pengurusan Sertifikasi CPKB dan Penyusunan 12 Aspek CPKB

Jasa Pengurusan Sertifikasi CPKB dan Penyusunan 12 Aspek CPKB

Jasa Pengurusan Sertifikasi CPKB dan Penyusunan 12 Aspek CPKB – Industri kosmetik tidak cukup hanya memiliki produk dengan formula yang menarik. Sebelum masuk ke pasar, perusahaan perlu mempersiapkan legalitas usaha, fasilitas produksi, sistem mutu, dokumentasi, personel, serta penerapan Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB).

Salah satu bagian yang sering menjadi tantangan adalah memahami dan menerapkan berbagai aspek CPKB secara konsisten. Dokumen yang lengkap saja belum tentu cukup apabila penerapannya di fasilitas produksi tidak sesuai.

Karena itu, jasa pengurusan sertifikasi CPKB dan penyusunan 12 aspek CPKB dapat menjadi solusi bagi perusahaan kosmetik yang ingin mempersiapkan fasilitas dan sistem produksinya secara lebih terarah.

PERMATAMAS membantu pelaku usaha dalam mempersiapkan dokumen, mengevaluasi kesiapan fasilitas, menyusun sistem CPKB, serta mendampingi proses sertifikasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Apa Itu Sertifikasi CPKB?

CPKB atau Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik merupakan pedoman yang digunakan industri kosmetik untuk memastikan proses pembuatan kosmetik dilakukan secara konsisten dan memenuhi persyaratan mutu.

Penerapan CPKB mencakup berbagai aspek mulai dari bangunan, peralatan, sanitasi, produksi, pengawasan mutu, dokumentasi, hingga personel.

Tujuan utamanya bukan sekadar mendapatkan dokumen sertifikasi, tetapi membangun sistem produksi yang mampu menghasilkan kosmetik dengan mutu yang konsisten, aman, dan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan.

Bagi perusahaan yang baru membangun industri kosmetik, memahami persyaratan sejak awal akan membantu mengurangi risiko kesalahan ketika mempersiapkan fasilitas maupun dokumen.

Mengapa Penyusunan Aspek CPKB Harus Dipersiapkan dengan Baik?

CPKB merupakan sebuah sistem yang saling berhubungan. Kesalahan pada satu bagian dapat memengaruhi bagian lainnya.

Misalnya, perusahaan sudah memiliki prosedur produksi tetapi fasilitasnya belum mendukung penerapan prosedur tersebut. Atau dokumen sudah tersedia, tetapi personel yang menjalankan proses belum memahami instruksi kerja.

Oleh karena itu, penyusunan aspek CPKB perlu dilakukan berdasarkan kondisi nyata fasilitas dan kegiatan produksi, bukan hanya membuat dokumen untuk memenuhi persyaratan administrasi.

Pendampingan profesional dapat membantu perusahaan melakukan identifikasi kekurangan sejak awal sehingga perbaikan dapat dilakukan secara lebih sistematis.

Jasa Pengurusan Sertifikasi CPKB dan Penyusunan 12 Aspek CPKB
Jasa Pengurusan Sertifikasi CPKB dan Penyusunan 12 Aspek CPKB

12 Aspek CPKB yang Perlu Dipersiapkan Industri Kosmetik

Dalam praktik persiapan CPKB, berbagai aspek sistem mutu dan produksi perlu diperhatikan secara menyeluruh. Penyusunan dokumen dan penerapannya harus disesuaikan dengan ketentuan CPKB yang berlaku serta kondisi fasilitas perusahaan.

Berikut kelompok aspek penting yang perlu dipersiapkan:

1. Sistem Manajemen Mutu

Perusahaan perlu memiliki sistem yang memastikan seluruh kegiatan produksi dan pengawasan mutu berjalan secara terkendali.

Sistem ini menjadi dasar dalam menetapkan kebijakan mutu, tanggung jawab, prosedur, serta mekanisme pengendalian proses.

2. Personalia

Personel merupakan bagian penting dalam penerapan CPKB. Perusahaan perlu memiliki struktur organisasi dan pembagian tanggung jawab yang jelas.

Personel yang terlibat dalam produksi, pengawasan mutu, penyimpanan, maupun fungsi lainnya harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan tugasnya.

3. Bangunan dan Fasilitas

Bangunan dan fasilitas harus mendukung kegiatan produksi kosmetik secara higienis dan terkontrol.

Pengaturan ruangan, alur bahan, personel, produk, kebersihan, sanitasi, serta pemeliharaan fasilitas perlu diperhatikan agar risiko kontaminasi dapat diminimalkan.

4. Peralatan

Peralatan produksi harus sesuai dengan jenis dan kapasitas produksi.

Peralatan juga perlu dipelihara, dibersihkan, dan dikendalikan dengan prosedur yang sesuai agar tidak menjadi sumber kontaminasi atau menyebabkan perubahan mutu produk.

5. Sanitasi dan Higiene

Sanitasi dan higiene bertujuan menjaga kebersihan fasilitas, peralatan, personel, dan lingkungan produksi.

Prosedur pembersihan harus dibuat secara jelas dan diterapkan secara konsisten.

6. Produksi

Kegiatan produksi harus dilakukan berdasarkan prosedur yang telah ditetapkan.

Mulai dari penerimaan bahan, penimbangan, proses pencampuran, pengolahan, pengisian, hingga pengemasan harus memiliki pengendalian yang memadai.

7. Pengawasan Mutu

Quality Control memiliki peran dalam memastikan bahan baku, bahan kemas, produk antara, dan produk jadi memenuhi spesifikasi yang ditetapkan.

Pengujian harus dilakukan berdasarkan metode dan prosedur yang sesuai.

8. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan bukti bahwa sistem CPKB benar-benar diterapkan.

Dokumen dapat mencakup prosedur operasional standar, spesifikasi bahan, catatan produksi, catatan pengujian, formulir pembersihan, pemeliharaan, pelatihan, serta berbagai catatan lainnya.

9. Audit Internal

Audit internal membantu perusahaan melakukan evaluasi terhadap penerapan sistem CPKB.

Melalui audit, perusahaan dapat mengetahui bagian yang sudah memenuhi persyaratan maupun bagian yang masih membutuhkan perbaikan.

10. Penanganan Keluhan dan Penarikan Produk

Perusahaan perlu memiliki mekanisme untuk menangani keluhan konsumen maupun kondisi yang membutuhkan penarikan produk.

Sistem tersebut harus terdokumentasi sehingga perusahaan dapat melakukan penelusuran dan tindakan yang diperlukan.

11. Pengendalian Produk dan Bahan

Bahan baku, bahan kemas, produk antara, dan produk jadi perlu dikendalikan sesuai status dan persyaratan yang ditetapkan.

Pengendalian tersebut membantu mencegah penggunaan bahan yang tidak sesuai atau produk yang belum memenuhi persyaratan.

12. Penyimpanan dan Distribusi

Kondisi penyimpanan harus disesuaikan dengan karakteristik bahan maupun produk.

Sistem penyimpanan dan distribusi perlu memungkinkan produk tetap terjaga mutunya serta dapat ditelusuri selama berada dalam rantai distribusi.

Catatan: Istilah dan pengelompokan “12 aspek” sering digunakan dalam materi pendampingan sebagai cara praktis mengelompokkan area persiapan CPKB. Dalam pengajuan resmi, rincian persyaratan harus tetap mengacu pada regulasi BPOM dan klasifikasi sertifikasi yang berlaku saat pengajuan.

Dokumen Apa Saja yang Perlu Disiapkan untuk CPKB?

Dokumen CPKB tidak hanya berupa satu atau dua dokumen. Perusahaan perlu membangun sistem dokumentasi yang sesuai dengan aktivitas produksi.

Beberapa contoh dokumen yang umumnya dipersiapkan meliputi:

  • Struktur organisasi
  • Uraian tugas dan tanggung jawab
  • Prosedur operasional standar
  • Prosedur produksi
  • Prosedur pengawasan mutu
  • Prosedur sanitasi
  • Prosedur pembersihan
  • Spesifikasi bahan baku
  • Spesifikasi bahan kemas
  • Spesifikasi produk jadi
  • Catatan produksi
  • Catatan pengujian
  • Catatan pemeliharaan peralatan
  • Catatan pelatihan
  • Prosedur penanganan keluhan
  • Prosedur penarikan produk
  • Dokumen audit internal

Dokumen tersebut harus relevan dengan aktivitas perusahaan dan dapat diterapkan dalam kegiatan operasional sehari-hari.

Persiapan Fasilitas Produksi Sebelum Sertifikasi CPKB

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah perusahaan fokus menyusun dokumen tetapi kurang memperhatikan kesiapan fasilitas.

Padahal, fasilitas produksi harus mampu mendukung penerapan prosedur yang telah dibuat.

Beberapa hal yang perlu dievaluasi antara lain:

  • Tata letak fasilitas
  • Alur personel
  • Alur bahan
  • Alur produk
  • Area produksi
  • Area penyimpanan
  • Area pengawasan mutu
  • Sistem sanitasi
  • Kondisi peralatan
  • Sistem air
  • Pengendalian lingkungan
  • Pemeliharaan fasilitas

Evaluasi sejak awal dapat membantu perusahaan mengetahui bagian yang harus diperbaiki sebelum memasuki tahapan pengajuan dan evaluasi.

Jasa Pengurusan Sertifikasi CPKB untuk Industri Kosmetik

Bagi perusahaan yang belum memiliki pengalaman mengurus CPKB, memahami seluruh persyaratan sekaligus menyiapkan dokumen dan fasilitas dapat terasa cukup kompleks.

Karena itu, menggunakan Jasa Pengurusan Sertifikasi CPKB dapat membantu perusahaan mendapatkan pendampingan yang lebih terarah. Informasi layanan pendampingan sertifikasi dapat dilihat melalui Jasa Pengurusan Sertifikasi CPKB.

Pendampingan dapat mencakup evaluasi awal, identifikasi kesenjangan, penyusunan dokumen, penyesuaian sistem, hingga persiapan menghadapi proses evaluasi sesuai ruang lingkup layanan.

Apakah Perusahaan Baru Bisa Mengurus Sertifikasi CPKB?

Perusahaan yang baru membangun bisnis kosmetik tetap perlu mempersiapkan legalitas dan sistem produksinya sejak awal.

Salah satu hal yang dapat dipersiapkan adalah badan usaha. Untuk pelaku usaha yang membutuhkan struktur badan hukum perusahaan, Jasa Pendirian PT Kosmetik dapat menjadi salah satu bagian dari persiapan awal sebelum mengembangkan fasilitas dan kegiatan usaha kosmetik. Informasi mengenai layanan pendirian perusahaan dapat dilihat melalui Jasa Pendirian PT Kosmetik.

Dengan legalitas usaha yang dipersiapkan sejak awal, proses pengembangan industri kosmetik dapat direncanakan secara lebih sistematis.

Pentingnya Pendaftaran Merek Kosmetik Sebelum Produk Dipasarkan

Selain legalitas perusahaan dan sertifikasi produksi, identitas produk juga perlu diperhatikan.

Nama merek, logo, dan identitas produk merupakan bagian penting dari strategi bisnis kosmetik. Setelah perusahaan memiliki nama produk yang akan digunakan secara komersial, Pendaftaran Merek Kosmetik menjadi langkah yang penting untuk dipertimbangkan agar merek memiliki perlindungan hukum sesuai ketentuan yang berlaku.

Hal ini semakin penting ketika perusahaan telah mengeluarkan biaya untuk formula, kemasan, pemasaran, promosi, dan membangun reputasi produk.

Informasi mengenai proses perlindungan merek dapat dipelajari melalui Pendaftaran Merek HAKI.

Dengan demikian, perusahaan tidak hanya mempersiapkan produk agar dapat diproduksi sesuai standar, tetapi juga mulai melindungi aset merek yang akan digunakan dalam jangka panjang.

Wajib Sertifikasi Halal Kosmetik, Apa yang Perlu Dipersiapkan?

Aspek lain yang semakin penting dalam industri kosmetik adalah pemenuhan ketentuan halal. Bagi pelaku usaha kosmetik yang produknya termasuk dalam kategori yang diwajibkan sesuai ketentuan penyelenggaraan jaminan produk halal, Wajib Sertifikasi Halal Kosmetik perlu menjadi bagian dari perencanaan legalitas produk.

Persiapan sertifikasi halal tidak hanya berkaitan dengan produk akhir. Perusahaan juga perlu memperhatikan bahan, proses produksi, fasilitas, serta sistem yang berkaitan dengan jaminan kehalalan produk.

Karena itu, sebaiknya aspek halal sudah dipertimbangkan sejak tahap pemilihan bahan dan penyusunan proses produksi. Informasi mengenai pendampingan sertifikasi halal kosmetik dapat dipelajari melalui Sertifikasi Halal Kosmetik.

Dengan mempersiapkan CPKB, legalitas perusahaan, perlindungan merek, dan sertifikasi halal secara terintegrasi, perusahaan kosmetik dapat membangun fondasi usaha yang lebih siap untuk berkembang.

Mengapa Menggunakan Jasa Penyusunan 12 Aspek CPKB?

Pendampingan CPKB dapat memberikan manfaat terutama bagi perusahaan yang belum memiliki tim khusus untuk menangani sistem mutu kosmetik.

Beberapa manfaatnya antara lain:

  • Membantu memahami kebutuhan CPKB
  • Mengidentifikasi kekurangan fasilitas
  • Membantu penyusunan dokumen
  • Menyesuaikan prosedur dengan aktivitas produksi
  • Membantu mempersiapkan personel
  • Membantu mempersiapkan sistem pengawasan mutu
  • Mengurangi risiko kesalahan dalam persiapan
  • Membuat persiapan sertifikasi lebih terstruktur

Yang paling penting, dokumen yang dibuat harus dapat diterapkan. CPKB bukan sekadar kelengkapan administrasi, melainkan sistem yang harus berjalan secara nyata dalam kegiatan produksi.

Jasa Sertifikasi CPKB dan Penyusunan Aspek CPKB PERMATAMAS

PERMATAMAS membantu industri kosmetik dalam mempersiapkan penerapan CPKB secara lebih terstruktur, mulai dari evaluasi awal hingga persiapan pengajuan.

Pendampingan dapat disesuaikan dengan kondisi perusahaan, jenis produk, fasilitas produksi, serta kebutuhan sistem mutu.

Jika perusahaan sedang merencanakan pembangunan fasilitas kosmetik atau ingin mempersiapkan sertifikasi CPKB, sebaiknya proses persiapan dilakukan sejak awal. Dengan begitu, kekurangan fasilitas dan dokumentasi dapat diketahui lebih cepat dan diperbaiki sebelum proses pengajuan.

Hubungi PERMATAMAS untuk konsultasi kebutuhan sertifikasi CPKB dan penyusunan aspek CPKB sesuai kondisi industri kosmetik Anda.

KONSULTASI GRATIS

PERMATAMAS
Alamat : Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Kel. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi 17131
No Telp : 021-89253417
Watshapp : 085777630555

FAQ 10

1. Apa itu jasa pengurusan sertifikasi CPKB?
Jasa pengurusan sertifikasi CPKB adalah layanan pendampingan bagi industri kosmetik dalam mempersiapkan persyaratan, dokumen, fasilitas, sistem mutu, hingga proses pengajuan sertifikasi CPKB sesuai ketentuan yang berlaku.

2. Apa yang dimaksud dengan 12 aspek CPKB?
12 aspek CPKB merupakan pengelompokan area penting dalam penerapan Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik, seperti sistem mutu, personalia, fasilitas, peralatan, sanitasi, produksi, pengawasan mutu, dokumentasi, audit, penanganan keluhan, pengendalian produk, serta penyimpanan dan distribusi.

3. Apakah semua 12 aspek CPKB harus dipersiapkan sebelum pengajuan?
Persiapan harus disesuaikan dengan ruang lingkup kegiatan dan ketentuan sertifikasi yang berlaku. Setiap aspek yang relevan dengan kegiatan industri perlu dipersiapkan dan diterapkan secara nyata.

4. Apa saja dokumen yang diperlukan untuk sertifikasi CPKB?
Dokumen dapat mencakup SOP, struktur organisasi, uraian tugas, spesifikasi bahan, prosedur produksi, prosedur pengawasan mutu, catatan produksi, dokumentasi sanitasi, pelatihan, audit internal, hingga prosedur penanganan keluhan dan penarikan produk.

5. Apakah fasilitas produksi harus sudah siap sebelum mengurus CPKB?
Ya. Kesiapan fasilitas menjadi bagian penting karena penerapan CPKB tidak hanya berkaitan dengan dokumen, tetapi juga bagaimana sistem tersebut diterapkan pada kegiatan produksi.

6. Apakah perusahaan baru dapat mengurus sertifikasi CPKB?
Perusahaan yang sedang membangun industri kosmetik dapat mempersiapkan pemenuhan persyaratan CPKB sejak awal. Kesiapan badan usaha, fasilitas, personel, dokumentasi, dan sistem mutu perlu direncanakan secara menyeluruh.

7. Mengapa penyusunan dokumen CPKB tidak boleh dilakukan sembarangan?
Dokumen CPKB harus sesuai dengan kondisi dan aktivitas perusahaan. Dokumen yang tidak sesuai dengan praktik produksi justru dapat menyulitkan penerapan sistem dan proses evaluasi.

8. Apa keuntungan menggunakan jasa penyusunan aspek CPKB?
Pendampingan dapat membantu perusahaan mengidentifikasi kekurangan, menyusun dokumen, menyiapkan sistem mutu, mengevaluasi fasilitas, serta mempersiapkan personel sebelum proses sertifikasi.

9. Apakah sertifikasi CPKB sama dengan izin edar kosmetik?
Tidak. Sertifikasi CPKB berkaitan dengan pemenuhan standar cara pembuatan kosmetik yang baik pada industri/fasilitas produksi, sedangkan izin edar merupakan aspek tersendiri dalam legalitas produk kosmetik.

10. Mengapa sebaiknya mengurus sertifikasi CPKB dengan pendamping profesional?
Karena persiapan CPKB melibatkan banyak aspek yang saling berkaitan. Pendamping profesional dapat membantu perusahaan memahami kebutuhan, menemukan kekurangan lebih awal, dan mempersiapkan sistem secara lebih terarah hingga tahap pengajuan.

Temuan Audit Sertifikasi CPKB yang Paling Sering Menyebabkan Kegagalan Sertifikasi

Temuan Audit Sertifikasi CPKB yang Paling Sering Menyebabkan Kegagalan Sertifikasi – Sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB) merupakan salah satu persyaratan penting bagi industri kosmetik yang ingin memproduksi dan mengedarkan produk secara legal di Indonesia. Sertifikat CPKB menjadi bukti bahwa perusahaan telah menerapkan sistem mutu yang sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh BPOM dalam seluruh proses produksi kosmetik.

Namun dalam praktiknya, masih banyak perusahaan yang mengalami kendala saat menghadapi audit CPKB. Tidak sedikit pengajuan sertifikasi yang tertunda bahkan gagal karena ditemukan ketidaksesuaian selama proses audit berlangsung.

Berdasarkan pengalaman PERMATAMAS yang telah mendampingi berbagai industri kosmetik dalam proses sertifikasi CPKB, sebagian besar temuan auditor bukan berasal dari kurangnya dokumen, melainkan karena implementasi di lapangan yang tidak sesuai dengan dokumen yang diajukan.

Berikut beberapa temuan audit CPKB yang paling sering menyebabkan kegagalan sertifikasi dan perlu menjadi perhatian sejak awal.

Mengapa Temuan Audit CPKB Sangat Penting?

Audit CPKB dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh aspek produksi kosmetik telah memenuhi standar mutu, keamanan, dan konsistensi produk.

Auditor tidak hanya memeriksa dokumen administrasi, tetapi juga melakukan observasi langsung terhadap:

  • Bangunan dan fasilitas produksi
  • Peralatan produksi
  • Personel yang terlibat
  • Sistem dokumentasi
  • Pengawasan mutu
  • Penyimpanan bahan baku dan produk jadi
  • Sanitasi dan higiene
  • Implementasi SOP

Karena itu, perusahaan harus memastikan bahwa seluruh sistem berjalan secara nyata dan bukan hanya sekadar tertulis dalam dokumen.

Implementasi CPKB Tidak Berjalan dan Hanya Sebatas Dokumen

Salah satu temuan yang paling sering ditemukan auditor adalah adanya perbedaan antara dokumen yang dimiliki perusahaan dengan kondisi sebenarnya di lapangan.

Banyak perusahaan telah memiliki:

  • SOP lengkap
  • Formulir pengawasan mutu
  • Catatan produksi
  • Program sanitasi
  • Sistem pelatihan

Namun saat audit dilakukan, implementasi dari dokumen tersebut tidak terlihat dalam kegiatan operasional sehari-hari.

Sebagai contoh, perusahaan memiliki SOP sanitasi yang lengkap, tetapi operator tidak menjalankan prosedur tersebut secara konsisten. Dalam beberapa kasus, dokumen hanya dibuat untuk kebutuhan sertifikasi tanpa benar-benar diterapkan.

Kondisi seperti ini menjadi salah satu penyebab utama munculnya temuan mayor dalam audit CPKB.

Temuan Audit Sertifikasi CPKB yang Paling Sering Menyebabkan Kegagalan Sertifikasi
Temuan Audit Sertifikasi CPKB yang Paling Sering Menyebabkan Kegagalan Sertifikasi

Kurangnya Pemahaman terhadap Aspek-Aspek CPKB

CPKB mencakup berbagai aspek yang saling berkaitan dalam sistem produksi kosmetik.

Masih banyak perusahaan yang hanya fokus pada fasilitas produksi tetapi kurang memahami aspek lain yang juga menjadi perhatian auditor.

Beberapa aspek yang wajib dipahami antara lain:

  • Sistem manajemen mutu
  • Personel
  • Bangunan dan fasilitas
  • Peralatan
  • Sanitasi dan higiene
  • Produksi
  • Pengawasan mutu
  • Dokumentasi
  • Penyimpanan
  • Penanganan keluhan
  • Penarikan produk

Ketika perusahaan tidak memahami keseluruhan aspek tersebut, biasanya akan muncul banyak ketidaksesuaian saat proses audit berlangsung.

Pemahaman yang baik terhadap seluruh aspek CPKB menjadi fondasi penting sebelum mengajukan sertifikasi.

Penanggung Jawab Teknis (PJT) Kurang Menguasai Kaidah CPKB

Penanggung Jawab Teknis atau PJT memiliki peran yang sangat penting dalam sistem CPKB.

Saat audit berlangsung, auditor sering melakukan wawancara langsung kepada PJT untuk menguji pemahaman terkait:

  • Sistem mutu
  • Pengendalian proses produksi
  • Pengawasan bahan baku
  • Dokumentasi
  • Pengelolaan penyimpangan
  • Penanganan produk tidak sesuai

Jika PJT tidak mampu menjelaskan sistem yang diterapkan perusahaan, auditor dapat menilai bahwa pengawasan mutu belum berjalan secara efektif.

Oleh karena itu, PJT harus benar-benar memahami seluruh proses yang terjadi di fasilitas produksi dan mampu menjelaskan penerapan CPKB secara menyeluruh.

PJT Belum Memiliki Sertifikat Pelatihan CPKB

Selain kompetensi, auditor juga akan memeriksa bukti pelatihan yang dimiliki oleh PJT.

Sertifikat pelatihan CPKB menjadi salah satu dokumen yang menunjukkan bahwa personel terkait telah mendapatkan pembekalan mengenai penerapan standar CPKB.

Masih ditemukan perusahaan yang menunjuk PJT tanpa memastikan bahwa yang bersangkutan telah mengikuti pelatihan yang relevan.

Walaupun memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai, ketiadaan pelatihan sering menjadi catatan auditor karena berkaitan dengan kompetensi personel dalam menjalankan sistem mutu.

Karena itu, pelatihan CPKB sebaiknya dipersiapkan sejak awal sebelum proses sertifikasi dimulai.

SOP Tidak Diterapkan Secara Konsisten

Standar Operasional Prosedur atau SOP merupakan salah satu dokumen utama dalam sistem CPKB.

Namun memiliki SOP saja tidak cukup.

Auditor akan memeriksa apakah SOP tersebut benar-benar diterapkan oleh seluruh personel yang terlibat.

Beberapa kondisi yang sering ditemukan antara lain:

  • Operator tidak mengikuti instruksi kerja.
  • Formulir tidak diisi sesuai prosedur.
  • Pembersihan peralatan tidak terdokumentasi.
  • Proses produksi berbeda dengan SOP yang disetujui.

Ketidaksesuaian semacam ini menunjukkan bahwa sistem belum berjalan secara efektif.

Karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa seluruh personel memahami dan menjalankan SOP sesuai dengan tugas masing-masing.

Personel Produksi Kurang Memahami Penggunaan Peralatan

Peralatan produksi merupakan bagian penting dalam proses pembuatan kosmetik.

Auditor sering meminta operator untuk menjelaskan:

  • Fungsi peralatan
  • Cara penggunaan
  • Prosedur pembersihan
  • Jadwal pemeliharaan
  • Catatan penggunaan

Ketika operator tidak mampu menjawab pertanyaan dasar mengenai peralatan yang digunakan setiap hari, hal ini dapat menjadi indikasi kurangnya pelatihan internal.

Selain itu, kurangnya pemahaman terhadap peralatan juga dapat meningkatkan risiko kesalahan produksi dan mempengaruhi kualitas produk.

Pelatihan berkala menjadi salah satu solusi untuk memastikan seluruh personel memahami tanggung jawabnya.

Tim Produksi Tidak Memahami Alur Produksi Kosmetik

Dalam audit CPKB, auditor biasanya melakukan penelusuran alur produksi mulai dari penerimaan bahan baku hingga produk jadi.

Personel yang terlibat harus memahami setiap tahapan proses, termasuk:

  • Penerimaan bahan baku
  • Penyimpanan
  • Penimbangan
  • Pencampuran
  • Pengisian
  • Pengemasan
  • Penyimpanan produk jadi

Masih banyak perusahaan yang hanya mengandalkan beberapa personel tertentu untuk memahami alur produksi secara keseluruhan.

Ketika auditor melakukan wawancara kepada operator dan mendapatkan jawaban yang tidak konsisten, hal tersebut dapat menjadi temuan yang mempengaruhi hasil audit.

Oleh karena itu, seluruh tim produksi harus memahami proses yang mereka jalankan setiap hari.

Layout dan Fasilitas Produksi Tidak Sesuai dengan Dokumen

Temuan lain yang cukup sering terjadi adalah adanya perbedaan antara layout yang diajukan kepada BPOM dengan kondisi aktual di lapangan.

Beberapa contoh yang sering ditemukan meliputi:

  • Perubahan tata letak ruangan tanpa pembaruan dokumen.
  • Penambahan area produksi yang tidak dilaporkan.
  • Perubahan alur material.
  • Perubahan alur personel.
  • Penggunaan ruangan yang tidak sesuai fungsi awal.

Padahal layout produksi merupakan salah satu komponen penting dalam penerapan CPKB karena berkaitan dengan pencegahan kontaminasi silang dan efisiensi proses produksi.

Sebelum audit dilakukan, perusahaan sebaiknya memastikan bahwa seluruh fasilitas telah sesuai dengan dokumen yang diajukan.

Cara Mengurangi Risiko Temuan Saat Audit CPKB

Agar peluang memperoleh sertifikasi CPKB semakin besar, perusahaan perlu melakukan persiapan secara menyeluruh.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Melakukan Audit Internal

Audit internal membantu menemukan ketidaksesuaian sebelum auditor BPOM melakukan pemeriksaan.

Melatih Seluruh Personel

Jangan hanya fokus pada PJT. Operator, staf gudang, quality control, dan manajemen juga harus memahami sistem yang diterapkan.

Meninjau Kesesuaian Dokumen dan Lapangan

Pastikan seluruh SOP, formulir, dan layout sesuai dengan kondisi aktual perusahaan.

Memastikan Fasilitas Produksi Siap Diaudit

Seluruh area produksi harus bersih, tertata, dan sesuai dengan standar yang berlaku.

Menggunakan Pendampingan Profesional

Pendampingan dari konsultan berpengalaman dapat membantu perusahaan mengidentifikasi potensi temuan sejak awal sehingga risiko kegagalan audit dapat diminimalkan.

Kesimpulan

Temuan audit CPKB yang paling sering menyebabkan kegagalan sertifikasi umumnya bukan karena kurangnya dokumen, melainkan karena lemahnya implementasi sistem di lapangan.

Mulai dari SOP yang tidak dijalankan, PJT yang kurang memahami CPKB, operator yang belum menguasai proses produksi, hingga layout fasilitas yang tidak sesuai dengan dokumen menjadi penyebab yang sering ditemukan saat audit berlangsung.

Oleh karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa seluruh sistem mutu benar-benar diterapkan secara konsisten sebelum mengajukan sertifikasi CPKB.

PERMATAMAS Siap Mendampingi Sertifikasi CPKB Hingga Lulus Audit

Jika perusahaan Anda sedang mempersiapkan sertifikasi CPKB, PERMATAMAS siap membantu mulai dari tahap perencanaan hingga pendampingan audit.

Dengan pengalaman sejak 2011, tim kami telah membantu berbagai industri kosmetik dalam mempersiapkan dokumen, sistem mutu, layout fasilitas, SOP, hingga simulasi audit CPKB.

Kami membantu perusahaan mengidentifikasi potensi temuan auditor sejak awal sehingga proses sertifikasi dapat berjalan lebih efektif dan terarah.

Konsultasikan kebutuhan sertifikasi CPKB Anda bersama PERMATAMAS dan tingkatkan peluang memperoleh sertifikat CPKB dengan persiapan yang tepat.

KONSULTASI GRATIS

PERMATAMAS INDONESIA
Alamat : Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Kel. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi 17131
No Telp : 021-89253417
Watshapp : 085777630555

FAQ Seputar Temuan Audit CPKB dan Sertifikasi Kosmetik

1. Apakah perusahaan yang pernah gagal audit CPKB masih bisa mengajukan sertifikasi kembali?

Tentu bisa. Sebagian besar perusahaan yang belum lulus audit umumnya mengalami temuan pada aspek implementasi, dokumentasi, fasilitas, atau kompetensi personel. Setelah seluruh temuan diperbaiki sesuai rekomendasi auditor, perusahaan dapat melanjutkan proses sertifikasi kembali. Tim PERMATAMAS siap membantu melakukan evaluasi menyeluruh agar potensi temuan dapat diminimalkan sebelum audit berikutnya.

2. Bagaimana cara mengetahui kesiapan perusahaan sebelum menghadapi audit CPKB?

Cara terbaik adalah melakukan audit internal atau pre-audit terlebih dahulu. Melalui proses ini, perusahaan dapat mengetahui kekurangan pada aspek bangunan, SOP, dokumentasi, personel, hingga implementasi sistem mutu. PERMATAMAS menyediakan layanan review dan simulasi audit untuk membantu perusahaan mengetahui tingkat kesiapan sebelum pemeriksaan resmi BPOM.

3. Apakah PJT yang belum memiliki pengalaman CPKB tetap bisa mengurus sertifikasi?

Bisa, selama PJT memenuhi persyaratan yang berlaku dan mendapatkan pembekalan yang memadai. Namun dalam praktiknya, kurangnya pemahaman PJT terhadap sistem CPKB sering menjadi salah satu penyebab munculnya temuan auditor. Karena itu, pendampingan dan pelatihan yang tepat sangat penting sebelum proses audit berlangsung.

4. Mengapa banyak perusahaan memiliki dokumen lengkap tetapi tetap mendapatkan temuan audit?

Karena auditor tidak hanya memeriksa dokumen, tetapi juga memastikan bahwa seluruh sistem benar-benar diterapkan di lapangan. Banyak perusahaan memiliki SOP, formulir, dan prosedur yang lengkap, namun implementasinya belum berjalan secara konsisten. Inilah alasan mengapa pendampingan implementasi menjadi sama pentingnya dengan penyusunan dokumen.

5. Bagaimana cara mendapatkan pendampingan sertifikasi CPKB yang tepat?

Pilih konsultan yang memiliki pengalaman nyata dalam mendampingi perusahaan menghadapi audit CPKB, bukan hanya membantu membuat dokumen. PERMATAMAS telah berpengalaman sejak tahun 2011 dan membantu berbagai industri kosmetik mempersiapkan fasilitas, SOP, dokumen mutu, pelatihan personel, hingga pendampingan saat audit berlangsung. Hubungi tim PERMATAMAS sekarang untuk konsultasi awal dan dapatkan roadmap sertifikasi CPKB yang sesuai dengan kondisi perusahaan Anda.

jasa izin pkrt
jasa izin pkrt

12 Aspek CPKB yang Wajib Diketahui

12 Aspek CPKB yang Wajib Diketahui – Dalam industri kosmetik, CPKB (Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik) menjadi pedoman penting untuk memastikan produk aman, berkualitas, dan layak edar. Produsen maupun maklon wajib memahami 12 aspek CPKB agar proses pendaftaran izin BPOM berjalan lancar dan produk memenuhi standar mutu yang berlaku.

CPKB bukan sekadar regulasi, tetapi juga panduan operasional untuk menjaga kualitas produk dari awal hingga akhir proses produksi. Setiap aspek memengaruhi keamanan konsumen, stabilitas produk, dan reputasi perusahaan. Dengan memahami 12 aspek ini, produsen dapat menghindari risiko penolakan izin, perbaikan dokumen, dan potensi sengketa hukum.

Beberapa produsen sering menganggap CPKB rumit, tetapi penerapan yang tepat sebenarnya dapat meningkatkan efisiensi produksi dan kredibilitas brand. Artikel ini membahas tiga aspek awal CPKB secara rinci: sistem manajemen mutu, personalia, dan bangunan/fasilitas, sehingga memberikan panduan praktis untuk produsen kosmetik.

1. Aspek Sistem Manajemen Mutu

Sistem manajemen mutu menjadi fondasi penting dalam pembuatan kosmetik. Aspek ini memastikan seluruh proses produksi terkontrol, terdokumentasi, dan sesuai standar regulasi BPOM. Dengan sistem yang baik, risiko kesalahan produksi, kontaminasi, atau cacat produk bisa diminimalkan.

Beberapa elemen penting dalam sistem manajemen mutu:
• Dokumentasi Prosedur: Semua SOP, instruksi kerja, dan catatan produksi terdokumentasi jelas.
• Pengendalian Mutu Produk: Setiap batch produk diuji kualitasnya sebelum dilepas ke pasar.
• Audit Internal: Pemeriksaan rutin untuk memastikan kepatuhan terhadap standar CPKB.
• Tindakan Korektif dan Pencegahan: Prosedur perbaikan jika ditemukan penyimpangan dalam produksi.

Penerapan sistem manajemen mutu yang konsisten bukan hanya memudahkan verifikasi oleh BPOM, tetapi juga membangun kepercayaan konsumen. Produsen yang menerapkan aspek ini secara serius akan mendapatkan efisiensi operasional dan produk yang selalu konsisten kualitasnya.

2. Aspek Personalia

Aspek personalia menekankan pentingnya kompetensi, pelatihan, dan tanggung jawab tenaga kerja dalam proses produksi kosmetik. Personalia yang kompeten menjamin setiap tahapan produksi dilakukan sesuai standar CPKB dan mengurangi risiko kesalahan operasional.
Beberapa hal yang wajib diperhatikan dalam aspek personalia:
• Kualifikasi dan Pendidikan: Tenaga teknis harus memiliki latar belakang pendidikan sesuai standar, misalnya D3/S1 Farmasi atau Kimia.
• Pelatihan dan Sertifikasi: Personalia harus mengikuti pelatihan CPKB dan standar keamanan produk.
• Pembagian Tugas yang Jelas: Setiap karyawan mengetahui tanggung jawabnya dan prosedur operasional yang harus diikuti.
• Pengawasan dan Evaluasi: Penanggung jawab teknis (PJT) mengawasi jalannya proses produksi.

Personalia yang terlatih dan terorganisir meningkatkan efektivitas produksi dan meminimalkan risiko cacat produk. Selain itu, BPOM akan menilai kompetensi personalia saat melakukan inspeksi, sehingga perusahaan harus memastikan seluruh tim memenuhi standar yang ditetapkan.

3. Aspek Bangunan dan Fasilitas

Bangunan dan fasilitas produksi merupakan aspek penting dalam CPKB karena memengaruhi kebersihan, keamanan, dan efisiensi proses produksi. Lokasi produksi harus memenuhi persyaratan teknis, desain tata ruang, dan peralatan yang sesuai standar.

Beberapa kriteria bangunan dan fasilitas yang wajib diperhatikan:
1. Desain Tata Letak: Ruang produksi, gudang bahan baku, dan area penyimpanan harus terpisah dan mudah dibersihkan.
2. Kebersihan dan Sanitasi: Fasilitas harus mudah dicuci, bebas dari kontaminan, dan memiliki ventilasi yang memadai.
3. Peralatan Produksi: Mesin dan alat harus sesuai standar, dirawat, dan dikalibrasi secara rutin.
4. Kontrol Lingkungan: Temperatur, kelembapan, dan pencahayaan dikontrol agar produk tetap stabil.
5. Keamanan dan Akses: Hanya personel berwenang yang dapat mengakses area produksi.

Bangunan dan fasilitas yang memenuhi standar CPKB bukan hanya syarat regulasi, tetapi juga memastikan produk aman dan berkualitas tinggi. Tata ruang yang baik, peralatan memadai, dan pengawasan lingkungan produksi yang ketat membantu perusahaan mengurangi risiko kesalahan produksi dan memudahkan proses audit BPOM.

4. Aspek Peralatan

Peralatan produksi kosmetik harus memenuhi standar CPKB agar produk aman, higienis, dan konsisten kualitasnya. Pemilihan peralatan yang tepat membantu meminimalkan risiko kontaminasi dan mempermudah proses produksi. Selain itu, peralatan yang dirawat dengan baik akan memperpanjang umur pakai dan menjaga akurasi produksi.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam aspek peralatan:
• Kesesuaian dengan Produk: Mesin, alat ukur, dan wadah harus sesuai jenis kosmetik yang diproduksi.
• Perawatan dan Kalibrasi: Peralatan harus rutin dicek dan dikalibrasi untuk menjaga keakuratan dan kualitas produk.
• Kemudahan Pembersihan: Material peralatan harus mudah dibersihkan agar higienis dan aman dari kontaminasi.
• Dokumentasi Pemakaian: Catatan penggunaan dan perawatan peralatan wajib disimpan untuk audit dan evaluasi internal.

Peralatan yang memenuhi standar CPKB tidak hanya memudahkan produksi, tetapi juga menjadi bukti bahwa perusahaan menjaga mutu secara konsisten. Saat inspeksi BPOM, dokumentasi peralatan dan catatan perawatan menjadi salah satu fokus penilaian. Dengan demikian, perusahaan dapat menunjukkan kepatuhan dan kualitas produksinya.

 

12 Aspek CPKB yang Wajib Diketahui
12 Aspek CPKB yang Wajib Diketahui

5. Aspek Sanitasi dan Higiene

Aspek sanitasi dan higiene bertujuan untuk menjaga kebersihan area produksi, bahan baku, serta personel agar produk kosmetik aman dikonsumsi. Lingkungan yang bersih mencegah kontaminasi silang dan risiko pertumbuhan mikroba yang dapat merusak produk.

Berikut beberapa poin penting yang harus dipenuhi:
1. Pembersihan rutin seluruh area produksi, gudang bahan baku, dan fasilitas penyimpanan.
2. Pengelolaan limbah dan sisa produksi agar tidak mencemari produk atau lingkungan.
3. Standar kebersihan personalia, termasuk penggunaan pakaian kerja, sarung tangan, dan masker sesuai SOP.
4. Penyediaan fasilitas cuci tangan, sanitasi, dan perlengkapan kebersihan yang memadai.
5. Kontrol kualitas air dan udara di area produksi untuk menghindari kontaminasi.

Dengan penerapan sanitasi dan higiene yang ketat, risiko penolakan produk saat audit BPOM berkurang, sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap keamanan kosmetik. Kebersihan yang terjaga juga berdampak pada stabilitas produk dan umur simpan.

6. Aspek Produksi

Aspek produksi mencakup seluruh proses pembuatan kosmetik dari awal hingga produk jadi, termasuk pencampuran bahan, pengemasan, dan penanganan batch. Penerapan prosedur yang tepat menjamin konsistensi produk dan mengurangi risiko cacat.

Beberapa praktik penting dalam produksi:
• Prosedur Standar Operasional (SOP): Setiap tahap produksi dilakukan sesuai SOP yang terdokumentasi.
• Pengendalian Batch: Setiap batch harus dicatat dan diberi kode untuk memudahkan pelacakan jika terjadi masalah.
• Pengawasan Kualitas Selama Produksi: Personalia melakukan pemeriksaan rutin untuk memastikan bahan dan produk memenuhi standar.
• Pengelolaan Bahan Baku: Penyimpanan dan pengukuran bahan dilakukan sesuai prosedur untuk menjaga kualitas dan keamanan.

Dengan produksi yang terkontrol, perusahaan dapat memastikan setiap produk konsisten dari segi kualitas, keamanan, dan kemasan. Hal ini juga mempermudah audit internal maupun verifikasi oleh BPOM, serta meminimalkan risiko keluhan konsumen.

7. Aspek Pengawasan Mutu

Pengawasan mutu merupakan aspek krusial dalam CPKB, karena menentukan apakah produk yang dihasilkan memenuhi standar keamanan dan kualitas. Proses ini mencakup pemeriksaan bahan baku, tahap produksi, dan produk jadi sebelum dilepas ke pasar.

Tahapan pengawasan mutu yang harus diperhatikan:
1. Pemeriksaan Bahan Baku: Memastikan bahan baku sesuai spesifikasi dan bebas dari kontaminan.
2. Pengujian Selama Proses Produksi: Sampling dan pengujian dilakukan untuk mendeteksi kesalahan lebih awal.
3. Pemeriksaan Produk Jadi: Semua produk diperiksa untuk memastikan konsistensi, kualitas, dan keamanan.
4. Dokumentasi Hasil Pengawasan: Catatan lengkap wajib disimpan sebagai bukti kepatuhan terhadap CPKB.
5. Tindakan Korektif: Jika ditemukan penyimpangan, dilakukan perbaikan segera untuk batch terkait.

Dengan pengawasan mutu yang konsisten, produsen dapat menjaga kepercayaan konsumen, meminimalkan risiko penolakan izin BPOM, dan memastikan setiap produk aman serta berkualitas tinggi. Prosedur ini menjadi bukti bahwa perusahaan menerapkan standar CPKB secara profesional.

8. Aspek Dokumentasi

Dokumentasi menjadi salah satu aspek penting dalam CPKB karena menjadi bukti bahwa seluruh proses produksi kosmetik dilakukan sesuai standar. Dokumentasi yang baik membantu produsen melacak setiap tahapan produksi, memudahkan audit, serta memastikan kepatuhan terhadap regulasi BPOM.

Beberapa hal penting dalam dokumentasi:
• Catatan Produksi: Mencatat semua tahapan produksi, batch, tanggal, dan personel yang terlibat.
• SOP dan Instruksi Kerja: Dokumen prosedur harus selalu diperbarui dan mudah diakses oleh personel terkait.
• Laporan Pengujian: Hasil uji stabilitas, kualitas bahan baku, dan produk jadi harus terdokumentasi rapi.
• Dokumentasi Peralatan: Catatan kalibrasi, pemeliharaan, dan penggunaan peralatan produksi.

Dokumentasi yang lengkap memudahkan perusahaan menghadapi inspeksi BPOM serta membuktikan kepatuhan terhadap CPKB. Selain itu, dokumen ini menjadi referensi penting untuk perbaikan kualitas dan pengembangan produk di masa depan.

9. Aspek Audit Internal

Audit internal merupakan proses evaluasi rutin untuk memastikan seluruh kegiatan produksi kosmetik sesuai standar CPKB. Tujuan audit adalah mendeteksi potensi penyimpangan, meningkatkan kualitas, dan meminimalkan risiko kesalahan produksi.

Tahapan audit internal meliputi:
1. Perencanaan Audit: Menentukan area dan aspek yang akan diperiksa.
2. Pelaksanaan Audit: Memeriksa dokumen, proses produksi, fasilitas, dan kepatuhan personalia.
3. Pembuatan Laporan Audit: Menyusun hasil temuan, rekomendasi perbaikan, dan catatan tindakan korektif.
4. Tindak Lanjut: Mengimplementasikan perbaikan berdasarkan temuan audit.

Audit internal yang rutin dan sistematis membantu perusahaan menjaga konsistensi mutu, mengurangi risiko produk ditolak BPOM, serta memastikan semua aspek CPKB diterapkan dengan baik.

10. Aspek Penyimpanan

Penyimpanan bahan baku, produk dalam proses, dan produk jadi merupakan aspek penting agar kualitas tetap terjaga dan produk aman untuk konsumen. Kondisi penyimpanan harus memenuhi standar CPKB terkait suhu, kelembapan, dan keamanan.

Berikut beberapa hal yang wajib diperhatikan:
1. Penyimpanan Bahan Baku: Pastikan bahan disimpan sesuai kondisi ideal, terpisah berdasarkan kategori dan tidak tercampur.
2. Penyimpanan Produk Dalam Proses: Produk sementara harus ditempatkan di area bersih, terkontrol, dan mudah diidentifikasi.
3. Penyimpanan Produk Jadi: Produk akhir disimpan di tempat yang aman, terlindung dari kontaminasi, dan memudahkan distribusi.
4. Kontrol Lingkungan: Suhu, kelembapan, dan ventilasi dikontrol sesuai standar agar kualitas produk terjaga.

Penyimpanan yang tepat mencegah kerusakan produk, mempertahankan stabilitas, dan memudahkan pelacakan batch jika terjadi masalah.

11. Aspek Kontrak Produksi dan Analisis

Kontrak produksi dan analisis menjadi aspek penting terutama jika perusahaan menggunakan jasa maklon atau pihak ketiga. Dokumen ini menjamin hak dan kewajiban kedua belah pihak serta memastikan produk memenuhi standar CPKB.

Beberapa hal penting yang harus dicatat:
• Surat Perjanjian Produksi: Menjelaskan hak, kewajiban, dan tanggung jawab produsen serta maklon.
• Analisis Formula: Dokumen yang memuat komposisi, dosis, dan fungsi setiap bahan.
• Laporan Hasil Analisis Produk: Bukti pengujian kualitas, stabilitas, dan keamanan produk.
• Penyimpanan Dokumen Kontrak: Semua dokumen harus tersimpan dengan aman untuk audit dan evaluasi.

Dengan kontrak produksi dan analisis yang lengkap, produsen dapat meminimalkan risiko sengketa, memastikan kepatuhan CPKB, dan menunjukkan profesionalisme saat proses verifikasi BPOM

12. Aspek Penanganan Keluhan dan Penarikan Produk

Aspek penanganan keluhan dan penarikan produk menjadi bagian penting dalam CPKB karena berkaitan langsung dengan keamanan konsumen dan reputasi perusahaan. Sistem yang baik memastikan setiap keluhan ditangani cepat, tepat, dan terdokumentasi dengan rapi. Selain itu, prosedur penarikan produk (recall) harus siap dilaksanakan jika ditemukan risiko atau cacat produk yang dapat membahayakan konsumen.

Tahapan yang harus diperhatikan meliputi:
1. Penerimaan Keluhan: Semua keluhan dari konsumen dicatat dengan lengkap, termasuk informasi produk, tanggal, dan deskripsi masalah.
2. Investigasi Keluhan: Tim internal memeriksa batch produk terkait, menilai akar masalah, dan menentukan tindakan perbaikan.
3. Tindakan Perbaikan dan Pencegahan: Memperbaiki produk atau proses yang bermasalah dan menerapkan langkah pencegahan agar masalah tidak terulang.
4. Prosedur Penarikan Produk: Jika risiko serius ditemukan, produk ditarik dari pasaran sesuai SOP dan peraturan BPOM.
5. Dokumentasi dan Pelaporan: Seluruh proses keluhan dan penarikan produk dicatat untuk evaluasi internal dan audit BPOM.

Dengan sistem penanganan keluhan dan penarikan produk yang baik, perusahaan dapat mempertahankan kepercayaan konsumen, meminimalkan risiko hukum, dan menjaga reputasi brand. Kepatuhan terhadap prosedur ini juga menjadi salah satu indikator bahwa perusahaan serius menerapkan standar CPKB.

Jasa Pengurusan Sertifikasi CPKB Pengalaman

Menerapkan 12 aspek CPKB secara lengkap sering membutuhkan pengalaman dan pengetahuan khusus, terutama bagi produsen baru. Menggunakan jasa profesional dapat mempercepat proses, meminimalkan risiko penolakan, dan memastikan dokumen sesuai regulasi BPOM. PERMATAMAS menjadi salah satu penyedia jasa berpengalaman di bidang ini, membantu produsen dan maklon dalam setiap tahap sertifikasi.

Beberapa keuntungan menggunakan jasa profesional PERMATAMAS antara lain:
• Pendampingan Lengkap: Membantu menyiapkan dokumen, audit internal, dan verifikasi standar CPKB.
• Efisiensi Waktu: Proses sertifikasi lebih cepat karena pengalaman dan sistem yang sudah terbukti.
• Minim Risiko Penolakan: Dokumen lengkap dan prosedur sesuai regulasi mengurangi kemungkinan revisi oleh BPOM.
• Konsultasi Berkelanjutan: Memberikan saran terkait penerapan CPKB, pelatihan personalia, dan perbaikan proses produksi.

Dengan dukungan jasa profesional yang berpengalaman, produsen dapat fokus pada pengembangan produk dan pemasaran, sementara semua aspek CPKB terpenuhi secara tepat. Hal ini juga meningkatkan kredibilitas brand di mata konsumen dan regulator, serta menjamin proses sertifikasi berjalan lancar dan sesuai ketentuan.

KONSULTASI GRATIS

PERMATAMAS INDONESIA
Alamat : Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Kel. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi 17131
No Telp : 021-89253417
Watshapp : 085777630555
Email : maspermatha@gmail.com

FAQ

1. Apa itu CPKB?
CPKB adalah singkatan dari Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik, pedoman untuk memastikan produk kosmetik aman dan berkualitas.

2. Mengapa CPKB penting untuk produsen kosmetik?
CPKB memastikan keamanan konsumen, kualitas produk konsisten, dan kepatuhan terhadap regulasi BPOM.

3. Berapa banyak aspek dalam CPKB yang harus dipenuhi?
Ada 12 aspek CPKB yang harus dipenuhi produsen, mulai dari sistem manajemen mutu hingga penanganan keluhan.

4. Apa saja dokumen penting untuk sertifikasi CPKB?
Dokumen penting meliputi SOP, formulir produksi, hasil uji laboratorium, sertifikat CPKB, dan catatan audit internal.

5. Siapa yang bertanggung jawab atas penerapan CPKB?
Penanggung Jawab Teknis (PJT) dan seluruh personalia produksi harus memastikan semua aspek CPKB dijalankan.

6. Bagaimana prosedur audit internal CPKB?
Audit internal mencakup perencanaan, pelaksanaan pemeriksaan dokumen dan produksi, pembuatan laporan, serta tindakan korektif.

7. Apa tujuan penanganan keluhan dan penarikan produk?
Untuk menjaga keamanan konsumen, memperbaiki produk bermasalah, dan memastikan kepatuhan regulasi.

8. Apakah produsen bisa menggunakan jasa profesional untuk sertifikasi CPKB?
Ya, jasa profesional seperti PERMATAMAS dapat membantu menyiapkan dokumen, audit, dan proses sertifikasi agar cepat dan aman.

9. Bagaimana pengawasan mutu diterapkan di produksi kosmetik?
Pengawasan mutu dilakukan pada bahan baku, proses produksi, dan produk jadi, dengan dokumentasi lengkap serta tindakan korektif bila perlu.

10. Bagaimana penyimpanan memengaruhi kualitas produk kosmetik?
Penyimpanan yang sesuai suhu, kelembapan, dan keamanan mencegah kontaminasi, menjaga stabilitas, dan umur simpan produk.

 

jasa pengurusan sertifikasi halal
jasa pengurusan sertifikasi halal
permatamas

Konsultasi Gratis Sekarang!

Jangan ragu untuk menghubungi kami dan dapatkan konsultasi gratis untuk kebutuhan izin usaha Anda. Permatamas Indonesia, solusi lengkap untuk perizinan dan sertifikasi usaha Anda!

Legalitas Usaha Kami
Akta Pendirian No.15
SK AHU-0032144-AH,01,15 Tahun 2021
NPWP : 76,011,954,5-427,000
SIUP : 510/PM277/DPMPTSP.PPJU
TDP : 102637007638
NIB : 0610210009793

Alamat Kantor Kami
Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Ke. Pejuang,
Kec. Medan Satria, Kota Bekasi, Jawa Barat
No Telp :  021-89253417
HP/WA : 085777630555
Email : maspermatha@gmail.com
Website : www.permatamas.co.id

Copyright © 2011 PERMATAMAS INDONESIA – All Rights Reserved
a Support by Dokter Website Indonesia