Jasa Izin Edar PKRT Kemenkes RI: Pengurusan Resmi Kelas 1, 2, dan 3 Terpercaya – Produk Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) memiliki cakupan yang sangat luas. Produk yang digunakan masyarakat sehari-hari, mulai dari tisu, kapas, sediaan mencuci, pembersih, pewangi, antiseptik, desinfektan, hingga produk pengendali serangga tertentu dapat masuk dalam kelompok PKRT sesuai karakteristik dan tujuan penggunaannya.
Bagi produsen, importir, distributor, maupun pemilik merek, memahami kelas risiko PKRT merupakan langkah penting sebelum mengurus izin edar. Kementerian Kesehatan membagi PKRT berdasarkan tingkat risikonya menjadi Kelas 1 risiko rendah, Kelas 2 risiko sedang, dan Kelas 3 risiko tinggi. Setiap produk terlebih dahulu melalui proses evaluasi untuk memastikan aspek keamanan, mutu, dan manfaatnya.
Karena itu, pelaku usaha sebaiknya tidak menentukan kelas produk hanya berdasarkan nama dagang. Fungsi, tujuan penggunaan, bahan atau sediaan, cara kerja, klaim, serta karakteristik produk perlu diperhatikan.
Artikel ini membahas PKRT Kelas 1, 2, dan 3 agar mudah dipahami:
- PKRT Kelas 1: Risiko Rendah
- PKRT Kelas 2: Risiko Sedang
- PKRT Kelas 3: Risiko Tinggi
PERMATAMAS membantu pelaku usaha mempersiapkan kebutuhan pengurusan izin edar PKRT berdasarkan karakteristik produk dan dokumen yang tersedia.
Memahami Kelas Risiko PKRT Sebelum Mengurus Izin Edar
PKRT merupakan produk yang ditujukan untuk penggunaan dalam pemeliharaan dan perawatan kesehatan manusia di rumah tangga maupun fasilitas umum. Dalam ketentuan Kementerian Kesehatan, PKRT dibagi menjadi tiga kelas risiko. Kelas 1 merupakan risiko rendah, Kelas 2 risiko sedang, dan Kelas 3 risiko tinggi.
Perbedaan kelas tersebut bukan sekadar pembagian administratif. Tingkat risiko berhubungan dengan potensi dampak yang dapat ditimbulkan oleh suatu produk.
Secara sederhana:
| Kelas | Tingkat Risiko | Gambaran Umum |
|---|---|---|
| Kelas 1 | Rendah | Risiko relatif rendah pada penggunaan sesuai tujuan |
| Kelas 2 | Sedang | Dapat mempunyai karakteristik seperti iritasi atau korosif tertentu |
| Kelas 3 | Tinggi | Memiliki potensi risiko lebih serius sehingga memerlukan perhatian lebih besar |
Dalam ketentuan yang menjadi dasar klasifikasi, Kelas 1 disebut sebagai PKRT risiko rendah yang penggunaannya tidak menimbulkan akibat berarti seperti iritasi, korosif, atau karsinogenik. Kelas 2 merupakan risiko sedang, sedangkan Kelas 3 merupakan risiko tinggi.
Catatan penting: daftar contoh produk dalam artikel ini merupakan bahan untuk konsultasi dan pemetaan awal. Tidak tepat jika sebuah produk langsung ditentukan kelasnya hanya karena memiliki nama yang sama dengan contoh di internet. Karakteristik aktual produk tetap perlu diperiksa.

PKRT Kelas 1 Risiko Rendah
Apa yang Dimaksud PKRT Kelas 1?
Kelas 1 merupakan kelompok PKRT dengan tingkat risiko rendah. Contoh yang sering dikaitkan dengan kelompok ini adalah produk tisu dan kapas personal.
Walaupun risikonya relatif rendah, bukan berarti produsen dapat mengabaikan aspek legalitas. Produk yang termasuk PKRT tetap perlu memenuhi ketentuan yang berlaku sebelum diedarkan.
Khusus bagi produsen yang mempunyai banyak varian, pemeriksaan perlu dilakukan secara individual. Misalnya sebuah perusahaan memproduksi tisu wajah, tisu dapur, dan tisu basah. Ketiganya tidak sebaiknya dianggap otomatis memiliki karakteristik yang identik hanya karena sama-sama disebut tisu.
Informasi produk seperti:
- fungsi utama;
- cara penggunaan;
- material;
- bentuk produk;
- ukuran atau kemasan;
- klaim pada label;
- tujuan penggunaan;
perlu disiapkan dengan baik.
Contoh Produk PKRT Kelas 1
Kelompok tisu dan kapas personal dapat mencakup berbagai produk dengan fungsi yang berbeda.
Beberapa contoh yang dapat menjadi bahan konsultasi antara lain:
- Kapas pembersih wajah atau kapas kosmetik.
- Kapas bulat atau cotton ball.
- Cotton bud atau korek kuping.
- Tisu wajah.
- Tisu toilet.
- Tisu dapur.
- Tisu penyerap minyak wajah.
- Kapas gulung non-steril.
- Tisu basah bayi.
- Tisu basah pembersih wajah atau makeup.
Variasi produk tersebut menunjukkan bahwa nama bahan saja belum cukup untuk memahami kebutuhan legalitas. Cara penggunaan dan klaim produk juga perlu diperhatikan.
Mengapa Produk Kelas 1 Tetap Perlu Dipersiapkan Legalitasnya?
Kesalahan yang cukup sering dilakukan pelaku usaha adalah menganggap produk dengan risiko rendah tidak membutuhkan perhatian terhadap izin edar.
Padahal, tingkat risiko dan kewajiban legalitas merupakan dua hal yang perlu dipahami secara terpisah. Kelas 1 berarti tingkat risikonya rendah, bukan berarti produk bebas dari ketentuan peredaran.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa PKRT perlu melalui proses evaluasi pre-market untuk memastikan keamanan, mutu, dan manfaat sebelum izin edar diberikan.
Karena itu, pemilik produk sebaiknya melakukan pemeriksaan sejak sebelum produk dipasarkan secara luas.
PKRT Kelas 2 Risiko Sedang
Setelah memahami Kelas 1, berikutnya adalah Kelas 2. Kelompok ini mempunyai cakupan produk yang jauh lebih luas.
Produk Kelas 2 dapat ditemukan dalam bentuk sediaan pencuci, pembersih, perawatan perlengkapan, antiseptik, desinfektan, pewangi, hingga berbagai sediaan kimia tertentu.
Kelas 2 juga membutuhkan perhatian lebih terhadap karakteristik bahan dan fungsi produk. Beberapa produk dapat mempunyai sifat iritasi atau korosif tertentu, sehingga informasi mengenai komposisi, penggunaan, peringatan, serta klaim menjadi semakin penting.
Pembersih Rumah Tangga dan Surfaktan
Sediaan mencuci merupakan salah satu kelompok yang sering dikonsultasikan oleh produsen PKRT.
Contohnya:
- Sabun cuci piring cair.
- Sabun cuci piring gel.
- Sabun cuci piring pasta atau colek.
- Sabun cuci tangan biasa.
- Sabun cuci tangan busa.
- Deterjen bubuk pakaian.
- Deterjen cair pakaian.
- Deterjen kapsul atau gel ball.
- Sabun batang pencuci pakaian.
- Pelembut pakaian.
- Pelicin pakaian.
- Pengharum kain.
- Pembersih lantai.
- Pembersih lantai kayu atau parket.
- Pembersih marmer dan granit.
- Pembersih kaca.
- Pembersih furnitur kayu.
- Pembersih bahan kulit.
- Pembersih karpet.
- Pembersih sofa kain.
- Sabun pakaian bayi.
- Sabun pakaian dalam.
- Sabun kain halus seperti sutra atau wol.
Bagi produsen yang mempunyai banyak varian, data produk sebaiknya dipisahkan dengan jelas. Jangan hanya mengandalkan satu dokumen umum untuk seluruh produk apabila formula, fungsi, atau klaimnya berbeda.
Produk Otomotif dan Perawatan Alat
Sebagian pelaku usaha juga mengembangkan produk pembersih dan perawatan kendaraan.
Contoh yang dapat dikonsultasikan antara lain:
- Sampo kendaraan.
- Semir ban.
- Pengkilap bodi kendaraan.
- Pembersih dasbor.
- Pembersih interior kendaraan.
- Cairan pembersih kaca kendaraan.
- Pembersih rantai.
- Pembersih velg.
Untuk produk seperti ini, fungsi produk dan cara pemakaiannya harus dijelaskan secara konsisten. Produk yang digunakan untuk membersihkan permukaan tertentu dapat mempunyai karakteristik berbeda dengan produk yang digunakan untuk kebutuhan lain.
Sediaan untuk Perlengkapan Makan dan Bayi
Kelompok lainnya adalah produk yang digunakan untuk membersihkan atau melakukan perawatan terhadap perlengkapan tertentu.
Contohnya:
- Sabun pencuci botol bayi.
- Sabun pencuci buah dan sayur.
- Liquid cleanser wadah makan bayi.
- Sanitizing wash perlengkapan bayi.
- Produk pembersih perlengkapan makan tertentu.
Produk yang digunakan pada perlengkapan bayi atau perlengkapan yang bersentuhan dengan makanan membutuhkan perhatian terhadap informasi penggunaan. Klaim pada kemasan juga perlu disesuaikan dengan fungsi produk sebenarnya.
Pembersih Rumah Tangga Khusus
Produk pembersih rumah tangga tidak selalu berbentuk cairan ringan. Terdapat pula produk yang digunakan untuk mengatasi kerak, minyak, noda, karat, dan kotoran tertentu.
Contohnya:
- Pembersih porselen.
- Pembersih keramik kamar mandi.
- Toilet bowl cleaner.
- Pembersih kerak stainless steel.
- Pembersih kuningan.
- Degreaser.
- Drain opener.
- Pemutih pakaian.
- Pembersih kerak mesin cuci.
- Pembersih kerak setrika.
- Pembersih septic tank.
- Pembersih karat.
- Pembersih elemen pemanas.
Semakin spesifik fungsi produk, semakin penting informasi teknisnya dipersiapkan dengan benar.
Antiseptik dan Desinfektan Rumah Tangga
Produk dengan fungsi antiseptik dan desinfeksi perlu diperhatikan lebih serius karena membawa klaim yang berkaitan dengan sanitasi atau pengendalian mikroorganisme.
Contohnya:
- Hand sanitizer gel.
- Hand sanitizer spray.
- Sabun cuci tangan antiseptik.
- Desinfektan semprot permukaan.
- Desinfektan konsentrat.
- Desinfektan permukaan barang.
- Antiseptik rendaman pakaian.
- Tisu desinfektan.
- Produk sanitasi perlengkapan bayi.
- Spray sanitasi helm.
- Spray sanitasi sepatu.
- Tisu antiseptik.
Pelaku usaha sebaiknya tidak sembarangan menggunakan istilah seperti “membunuh kuman”, “antibakteri”, “steril”, atau klaim sejenis apabila tidak didukung informasi produk yang sesuai.
Pengharum dan Penyegar Udara
Kelas 2 juga dapat berkaitan dengan berbagai produk pewangi dan penyegar, tergantung karakteristik serta tujuan penggunaannya.
Contohnya:
- Pengharum ruangan otomatis.
- Refill pengharum ruangan.
- Pengharum ruangan aerosol.
- Pengharum ruangan gel.
- Reed diffuser.
- Pengharum gantung.
- Pengharum mobil.
- Pengharum klip AC.
- Lilin aromaterapi.
- Scented wax melts.
- Pengharum lemari.
- Deodorizer tempat sampah.
Bagi produsen pewangi, penting untuk membedakan antara nama aroma, bentuk produk, fungsi utama, dan klaim tambahan. Produk yang hanya ditujukan memberikan aroma tentu perlu dibedakan dengan produk yang sekaligus membawa klaim sanitasi atau desinfeksi.
Produk Penyerap Kelembapan dan Bau
Produk yang berfungsi mengurangi kelembapan atau bau juga dapat dikembangkan untuk kebutuhan rumah tangga.
Contohnya:
- Moisture absorber.
- Penyerap kelembapan ruangan.
- Kapur barus.
- Kamper toilet.
- Kamper gantung.
- Color catcher sheet.
- Produk penyerap bau tertentu.
Untuk produk seperti ini, tujuan penggunaan dan bahan penyusunnya perlu diperhatikan sebelum menentukan jalur legalitas.
Pembersih Teknis Rumah Tangga
Perkembangan produk PKRT juga melahirkan berbagai sediaan yang lebih spesifik.
Contohnya:
- Pembersih kerak konsentrat.
- Pembersih nat keramik.
- Pembersih evaporator AC.
- Contact cleaner.
- Pelarut perekat.
- Degreaser mesin.
- Pembersih lumut.
- Pembersih alga.
- Pembersih kolam rumah tangga.
- Pembersih karat konsentrat.
Produk dengan bahan kimia tertentu perlu dipersiapkan lebih hati-hati. Data bahan, konsentrasi, fungsi, cara penggunaan, serta peringatan menjadi informasi yang penting.
PKRT Kelas 3 Risiko Tinggi
ketiga dalam artikel ini adalah PKRT Kelas 3.
Kelas 3 merupakan kelompok dengan tingkat risiko tinggi. Dalam praktiknya, kelompok ini banyak berkaitan dengan pestisida rumah tangga dan produk pengendali organisme pengganggu.
Contohnya mencakup produk untuk mengendalikan nyamuk, kecoa, semut, tikus, rayap, lalat, dan berbagai hama lainnya.
Pestisida Rumah Tangga untuk Nyamuk dan Serangga Terbang
Contoh produk:
- Obat nyamuk aerosol.
- Obat nyamuk bakar.
- Obat nyamuk elektrik cair.
- Mat obat nyamuk elektrik.
- Lotion penolak nyamuk.
- Spray citronella.
- Mosquito patch.
- Gel penolak serangga.
- Spray pembasmi lalat.
- Produk pembasmi jentik.
Produk pengendali nyamuk dan serangga perlu diperhatikan secara khusus karena mempunyai bahan aktif yang memang dirancang untuk memberikan efek tertentu terhadap organisme sasaran.
Pestisida Rumah Tangga untuk Kecoa dan Semut
Contohnya:
- Umpan kecoa.
- Spray pembasmi kecoa.
- Gel umpan kecoa.
- Umpan semut.
- Spray pembasmi semut.
- Kapur serangga berpestisida.
- Spray kutu kasur.
- Spray pembasmi rayap.
- Fogger pembasmi serangga.
- Produk pengendali serangga tertentu.
Informasi mengenai organisme sasaran dan cara penggunaan menjadi bagian penting dalam pengembangan produk.
Rodentisida dan Produk Pengendali Tikus
Kelompok berikutnya adalah produk untuk mengendalikan tikus.
Contohnya:
- Umpan tikus bentuk blok.
- Umpan tikus bentuk pelet.
- Umpan tikus berbentuk beras.
- Rodentisida cair.
- Perangkap dengan atraktan tertentu.
Produk dengan fungsi pengendalian hama perlu dipersiapkan secara lebih hati-hati karena tingkat risikonya lebih tinggi dibandingkan produk kebersihan rumah tangga biasa.
Produk Pengendali Hama Spesifik
Selain nyamuk, kecoa, semut, dan tikus, terdapat berbagai produk dengan sasaran hama lainnya.
Contohnya:
- Produk pengendali kutu kasur.
- Produk pengendali rayap.
- Produk pengendali lalat.
- Produk pengendali kelabang.
- Produk pengendali kalajengking.
- Produk pengendali siput atau bekicot.
- Produk pengusir hewan tertentu.
- Produk pengendali hama tanaman rumah tangga.
- Produk pengendali serangga dengan feromon.
- Produk penolak serangga pada pakaian.
Khusus produk yang menggunakan bahan aktif pestisida, pelaku usaha sebaiknya melakukan konsultasi sebelum menentukan klaim, label, dan strategi pemasarannya.
Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Mengurus Izin Edar PKRT?
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah pelaku usaha baru memikirkan legalitas setelah produk selesai diproduksi dalam jumlah besar.
Padahal, semakin awal proses legalitas dipertimbangkan, semakin mudah melakukan penyesuaian apabila ditemukan informasi yang perlu diperbaiki.
Beberapa data yang sebaiknya dipersiapkan meliputi:
1. Identitas Produk
Nama produk, tipe, bentuk, ukuran, dan informasi lain perlu dibuat konsisten.
2. Fungsi Produk
Jelaskan secara jelas produk digunakan untuk apa dan bagaimana penggunaannya.
3. Komposisi atau Bahan
Untuk produk tertentu, informasi bahan dan karakteristik sediaan menjadi sangat penting.
4. Kemasan
Informasi kemasan harus konsisten dengan data yang diajukan.
5. Label
Klaim, petunjuk penggunaan, peringatan, dan informasi lain perlu diperhatikan.
6. Data Perusahaan
Legalitas dan data perusahaan juga menjadi bagian dari persiapan administrasi.
7. Dokumen Pendukung
Jenis dokumen pendukung dapat berbeda tergantung karakteristik produk dan jalur pengajuan.
Bagaimana Proses Pengurusan Izin Edar PKRT?
Secara umum, proses pengurusan dimulai dengan identifikasi produk dan persiapan dokumen. Setelah itu dilakukan pengajuan melalui sistem yang digunakan dalam layanan registrasi.
Kementerian Kesehatan menyediakan sistem registrasi Alat Kesehatan dan PKRT secara online. Sistem tersebut digunakan untuk memfasilitasi proses perizinan dan penerbitan izin edar produk.
Dalam proses evaluasi, dokumen dan informasi produk dapat diperiksa dari sisi administrasi maupun teknis. Pedoman Kementerian Kesehatan juga menjelaskan bahwa apabila terdapat kekurangan persyaratan, pemohon dapat memperoleh notifikasi untuk melengkapinya.
Karena itu, kelengkapan dokumen sejak awal dapat membantu mengurangi potensi hambatan administratif.
Mengapa Klasifikasi Produk Harus Dilakukan dengan Benar?
Satu perusahaan dapat mempunyai puluhan bahkan ratusan SKU. Tidak semua produk tersebut otomatis berada dalam kelas yang sama.
Contohnya, sebuah perusahaan dapat mempunyai:
- tisu;
- deterjen;
- pembersih lantai;
- pewangi;
- desinfektan;
- obat nyamuk.
Masing-masing produk memiliki karakteristik berbeda. Bahkan dua produk dengan nama yang hampir sama dapat membutuhkan pemeriksaan yang berbeda apabila komposisi, fungsi, atau klaimnya tidak sama.
Karena itu, jangan menggunakan satu klasifikasi untuk seluruh produk hanya karena semuanya dijual oleh perusahaan yang sama.
Pendekatan yang lebih tepat adalah melakukan pemetaan SKU satu per satu.
Pengurusan Izin Edar PKRT untuk Produsen dan Importir
Kebutuhan legalitas tidak hanya muncul pada produsen lokal. Produk PKRT impor juga memiliki jalur pengurusan tersendiri.
Ketentuan Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa permohonan izin edar PKRT impor dapat diajukan oleh pihak tertentu seperti agen tunggal, distributor tunggal, distributor eksklusif, atau importir yang memenuhi persyaratan dan memiliki penunjukan atau dokumen kerja sama yang sesuai. (Regalkes)
Artinya, importir tidak cukup hanya memiliki barang dan dokumen dari luar negeri. Status sebagai pihak yang berwenang mendaftarkan produk juga perlu diperhatikan.
Untuk produk dalam negeri maupun impor, konsultasi awal dapat membantu pelaku usaha mengetahui dokumen yang perlu disiapkan.
Pentingnya CPPKRTB bagi Produsen PKRT
Selain izin edar, produsen juga perlu memperhatikan Cara Pembuatan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga yang Baik (CPPKRTB).
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa CPPKRTB merupakan pedoman dalam rangkaian kegiatan pembuatan PKRT dan pengendalian mutu untuk memastikan produk memenuhi persyaratan sesuai tujuan penggunaannya.
Aspek yang berkaitan dengan penerapan cara produksi yang baik antara lain mencakup sistem manajemen mutu, tanggung jawab manajemen, pengelolaan sumber daya, realisasi produk, serta pengukuran, analisis, dan perbaikan.
Bagi produsen yang ingin membangun bisnis PKRT dalam jangka panjang, aspek produksi yang baik sebaiknya dipersiapkan sejak awal dan tidak hanya berfokus pada memperoleh nomor izin edar.
PERMATAMAS Membantu Pengurusan Izin Edar PKRT Kelas 1, 2, dan 3
Pengurusan izin edar PKRT membutuhkan pemahaman mengenai produk, klasifikasi, dokumen, dan proses registrasi. Bagi pelaku usaha yang baru memasuki industri PKRT, proses tersebut dapat terasa cukup kompleks.
PERMATAMAS membantu pelaku usaha melakukan pendampingan mulai dari konsultasi awal hingga proses pengurusan izin edar.
Layanan dapat digunakan oleh:
- Produsen PKRT.
- Pemilik brand.
- Importir.
- Distributor.
- Pelaku usaha yang sedang mengembangkan produk baru.
- Perusahaan yang mempunyai banyak SKU PKRT.
PERMATAMAS berdiri sejak 2011 dan telah berpengalaman menangani berbagai kebutuhan legalitas produk. Lebih dari 1.900 izin edar PKD/PKL telah berhasil diterbitkan.
Untuk layanan PERMATAMAS, estimasi proses sekitar 10 hari kerja apabila dokumen lengkap. Tersedia pula garansi 100% uang kembali apabila kegagalan disebabkan oleh kesalahan tim.
Perlu dipahami bahwa estimasi layanan pendampingan bukan berarti waktu evaluasi pemerintah untuk semua jenis produk otomatis hanya 10 hari. Waktu aktual dapat bergantung pada kelengkapan dokumen, jenis produk, proses evaluasi, dan ketentuan yang berlaku.
Cek Status Izin Edar PKRT Sebelum Membeli atau Bekerja Sama
Bagi distributor, reseller, maupun calon mitra bisnis, memeriksa status legalitas produk juga merupakan langkah yang bermanfaat.
Kementerian Kesehatan menyediakan platform e-Info Alkes dan PKRT yang memungkinkan masyarakat dan pelaku usaha mengakses informasi produk yang telah terdaftar serta melakukan pengecekan izin edar.
Dengan pengecekan tersebut, pelaku usaha dapat melakukan verifikasi terhadap:
- Nomor izin edar.
- Nama produk.
- Pendaftar.
- Produsen.
- Status izin edar.
Data PKRT dalam negeri dan luar negeri juga tersedia pada sistem informasi Kementerian Kesehatan.
Hal ini semakin penting apabila perusahaan akan mengambil produk dari pihak ketiga untuk kemudian didistribusikan.
Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari Saat Mengurus Izin Edar PKRT
Beberapa kesalahan administratif dapat membuat proses menjadi lebih panjang. Oleh karena itu, sebelum pengajuan dilakukan, pelaku usaha sebaiknya memperhatikan beberapa hal berikut.
Menggunakan nama produk yang tidak konsisten
Nama pada dokumen, kemasan, dan data pengajuan sebaiknya tidak berbeda-beda tanpa alasan yang jelas.
Klaim terlalu luas
Klaim pemasaran sebaiknya disesuaikan dengan fungsi dan karakteristik produk.
Tidak memeriksa klasifikasi sejak awal
Jangan langsung menentukan Kelas 1, 2, atau 3 hanya berdasarkan produk pesaing.
Dokumen perusahaan belum siap
Legalitas perusahaan dan dokumen pendukung perlu dipersiapkan sebelum proses pengajuan.
Mengabaikan karakteristik bahan
Khusus produk kimia, informasi mengenai bahan dan fungsi sangat penting.
Memproduksi dalam jumlah besar sebelum legalitas jelas
Langkah ini berisiko menimbulkan biaya tambahan apabila ternyata terdapat informasi yang harus disesuaikan.
Apakah Semua Produk dalam Daftar Otomatis Masuk Kelas yang Sama?
Tidak.
Daftar contoh dalam artikel ini dimaksudkan untuk membantu pelaku usaha memahami luasnya kategori PKRT. Produk yang mempunyai nama serupa belum tentu mempunyai klasifikasi yang sama jika fungsi, komposisi, tujuan penggunaan, atau klaimnya berbeda.
Sebagai contoh, kata “spray” tidak otomatis menunjukkan Kelas 2 atau Kelas 3. Spray dapat berupa pembersih, pewangi, antiseptik, atau pestisida. Fungsi dan karakteristik produknya yang perlu diperiksa.
Demikian pula kata “tisu” tidak otomatis menentukan seluruh produk tisu berada pada satu kategori. Tisu wajah, tisu dapur, tisu desinfektan, dan tisu dengan fungsi tertentu perlu dilihat berdasarkan karakteristik masing-masing.
Karena itu, pendekatan yang paling aman adalah konsultasikan produk sebelum menetapkan kelasnya.
Pentingnya Mendaftar Merek Produk PKRT Kelas 1, 2, dan 3
Izin edar dan merek merupakan dua aspek legalitas yang berbeda.
Izin edar berkaitan dengan legalitas produk untuk diedarkan, sedangkan merek berfungsi sebagai identitas pembeda produk atau jasa dalam kegiatan perdagangan.
Bagi pemilik produk PKRT, perlindungan merek sebaiknya mulai dipikirkan sejak produk dikembangkan. Hal tersebut berlaku baik untuk produk Kelas 1, Kelas 2, maupun Kelas 3.
Misalnya, produsen sudah mempunyai merek untuk:
- tisu;
- kapas;
- deterjen;
- pembersih;
- pewangi;
- antiseptik;
- produk pengendali hama.
Ketika merek tersebut mulai digunakan secara luas, identitas tersebut menjadi bagian dari aset bisnis. Karena itu, pentingnya mendaftar merek produk PKRT Kelas 1, 2, dan 3 tidak sebaiknya diabaikan.
Pelaku usaha dapat mempersiapkan pendaftaran merek produk PKRT Kelas 1, 2, dan 3 sebagai bagian dari strategi perlindungan bisnis.
Dengan mengurus izin edar dan mempersiapkan pendaftaran merek secara beriringan, pelaku usaha dapat membangun legalitas produk sekaligus identitas dagang yang lebih terstruktur.
Segera Urus Izin Edar PKRT Kelas 1, 2, dan 3 Bersama PERMATAMAS
Kelas 1, Kelas 2, dan Kelas 3 memiliki karakteristik risiko yang berbeda. Kelas 1 berkaitan dengan produk risiko rendah, Kelas 2 mencakup berbagai produk dengan risiko sedang, sedangkan Kelas 3 mencakup produk dengan tingkat risiko tinggi, termasuk kelompok pestisida rumah tangga tertentu. Kementerian Kesehatan menempatkan evaluasi keamanan, mutu, dan manfaat sebagai bagian dari proses izin edar PKRT.
Karena cakupan PKRT sangat luas, pelaku usaha sebaiknya tidak menentukan klasifikasi hanya berdasarkan nama produk. Pemeriksaan karakteristik produk, fungsi, bahan, klaim, dan dokumen perlu dilakukan sebelum pengajuan.
PERMATAMAS siap membantu proses konsultasi dan pengurusan izin edar PKRT untuk berbagai kebutuhan usaha. Dengan pengalaman sejak 2011 dan lebih dari 1.900 izin edar PKD/PKL yang telah berhasil diterbitkan, PERMATAMAS mendampingi pelaku usaha dalam mempersiapkan proses legalitas produk.
Jika produk Anda sudah siap diproduksi atau akan segera dipasarkan, segera konsultasikan kebutuhan izin edar PKRT kepada PERMATAMAS agar klasifikasi dan persiapan dokumen dapat dilakukan sejak awal.
KONSULTASI GRATIS
PERMATAMAS
Alamat : Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Kel. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi 17131
No Telp : 021-89253417
Watshapp : 085777630555
FAQ 10 Seputar Jasa Izin Edar PKRT Kemenkes RI Kelas 1, 2, dan 3
1. Apa itu izin edar PKRT?
Izin edar PKRT merupakan legalitas yang diperlukan untuk produk PKRT yang memenuhi ketentuan sebelum diedarkan di Indonesia sesuai peraturan yang berlaku.
2. Apa saja kelas risiko PKRT?
Secara umum PKRT dibagi menjadi Kelas 1 risiko rendah, Kelas 2 risiko sedang, dan Kelas 3 risiko tinggi.
3. Apa contoh produk PKRT Kelas 1?
Contohnya antara lain beberapa produk tisu dan kapas personal seperti tisu wajah, tisu toilet, kapas bulat, cotton bud, dan produk sejenis sesuai klasifikasi yang berlaku.
4. Apa contoh produk PKRT Kelas 2?
Contohnya dapat berupa deterjen, sabun cuci piring, pembersih lantai, pewangi pakaian, pembersih kaca, produk pembersih tertentu, dan berbagai sediaan rumah tangga lainnya.
5. Apa contoh produk PKRT Kelas 3?
Kelas 3 dapat mencakup produk dengan risiko lebih tinggi, termasuk kelompok pestisida rumah tangga tertentu seperti obat nyamuk dan produk pengendali hama.
6. Apakah satu merek dapat mempunyai beberapa produk PKRT?
Bisa. Satu perusahaan atau merek dapat mempunyai berbagai produk, tetapi setiap produk tetap perlu diperiksa berdasarkan karakteristik, fungsi, komposisi, dan tujuan penggunaannya.
7. Apakah produk PKRT impor juga membutuhkan izin edar?
Produk PKRT impor yang akan diedarkan di Indonesia juga harus memenuhi ketentuan perizinan yang berlaku. Persyaratan dapat berbeda sesuai status dan pihak yang mengajukan.
8. Apa saja yang perlu disiapkan untuk mengurus izin PKRT?
Persiapan dapat meliputi data perusahaan, identitas produk, informasi produsen, komposisi atau bahan, kemasan, label, petunjuk penggunaan, serta dokumen pendukung sesuai jenis produk.
9. Berapa lama proses pengurusan izin edar PKRT?
Waktu proses bergantung pada jenis produk, kelengkapan dokumen, dan proses evaluasi. Untuk layanan pendampingan PERMATAMAS, estimasi dapat sekitar 10 hari kerja apabila dokumen lengkap.
10. Mengapa sebaiknya menggunakan jasa pengurusan izin edar PKRT?
Pendampingan dapat membantu pelaku usaha memahami klasifikasi produk, mempersiapkan dokumen, memeriksa kelengkapan informasi, serta mendampingi proses pengajuan sehingga lebih terarah.






