Jasa Sertifikasi CPKB BPOM: Dari Persiapan Sampai Lolos Audit

Jasa Sertifikasi CPKB BPOM: Dari Persiapan Sampai Lolos Audit

Jasa Sertifikasi CPKB BPOM: Dari Persiapan Sampai Lolos Audit – Memiliki industri kosmetik tidak cukup hanya dengan menyiapkan produk dan fasilitas produksi. Perusahaan juga perlu memastikan seluruh kegiatan pembuatan kosmetik berjalan berdasarkan standar yang ditetapkan. Salah satu bagian penting yang perlu dipersiapkan adalah penerapan Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB).

Proses sertifikasi CPKB membutuhkan persiapan yang matang karena perusahaan tidak hanya dinilai berdasarkan kondisi bangunan atau peralatan. Sistem kerja, personel, dokumentasi, proses produksi, pengawasan mutu, sanitasi, penyimpanan, hingga penerapan prosedur menjadi bagian yang perlu diperhatikan.

Karena itu, pendampingan dari tahap persiapan sampai menghadapi audit dapat membantu perusahaan memahami apa saja yang perlu diperbaiki sebelum proses evaluasi dilakukan. PERMATAMAS hadir untuk membantu pelaku industri kosmetik mempersiapkan kebutuhan tersebut secara lebih terarah.

Mengapa Persiapan CPKB Harus Dilakukan dengan Matang?

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah perusahaan baru melakukan persiapan setelah ingin mengajukan sertifikasi. Padahal, penerapan CPKB berkaitan dengan banyak bagian yang saling terhubung.

Jika fasilitas belum sesuai, dokumen belum lengkap, personel belum memahami tugasnya, atau prosedur belum diterapkan secara konsisten, perusahaan dapat mengalami kendala ketika memasuki tahapan evaluasi.

Persiapan sejak awal membantu perusahaan mengetahui kondisi sebenarnya. Dari sana, setiap kekurangan dapat diidentifikasi dan diperbaiki sebelum proses audit dilakukan.

Bagi perusahaan yang masih berada pada tahap awal membangun usaha, struktur badan usaha juga perlu disiapkan. Pendampingan melalui Jasa Pendirian PT Kosmetik dapat menjadi salah satu langkah awal sebelum perusahaan masuk lebih jauh ke dalam persiapan kegiatan industri.

Apa Saja yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Pengajuan?

Persiapan tidak hanya berkaitan dengan dokumen administrasi. Perusahaan perlu melihat kesiapan secara menyeluruh agar setiap bagian dapat mendukung penerapan CPKB.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Kesiapan fasilitas produksi sesuai dengan kegiatan yang dilakukan.
  2. Ketersediaan peralatan yang sesuai dan terpelihara.
  3. Personel yang kompeten serta memahami tanggung jawab masing-masing.
  4. Dokumentasi dan prosedur kerja yang jelas.
  5. Sistem pengawasan mutu yang dapat diterapkan secara konsisten.

Kelima bagian tersebut perlu dipersiapkan secara terintegrasi. Tidak cukup hanya memiliki dokumen yang lengkap jika penerapannya tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Bagaimana Menyiapkan Fasilitas Produksi?

Fasilitas produksi menjadi salah satu bagian yang perlu mendapat perhatian serius. Tata letak ruangan harus mendukung alur kegiatan sehingga proses produksi dapat berlangsung secara teratur dan risiko kontaminasi maupun kesalahan proses dapat diminimalkan.

Perusahaan perlu memperhatikan area penerimaan bahan, penyimpanan, penimbangan, produksi, pengemasan, penyimpanan produk jadi, serta area lain yang diperlukan berdasarkan kegiatan produksinya.

Selain tata letak, kondisi bangunan, kebersihan, ventilasi, pencahayaan, fasilitas sanitasi, serta pemeliharaan lingkungan kerja juga perlu diperhatikan.

Fasilitas yang baik bukan hanya terlihat rapi ketika diperiksa, tetapi memang digunakan dan dipelihara sesuai prosedur dalam kegiatan sehari-hari.

Mengapa Dokumentasi Menjadi Bagian Penting?

Dalam penerapan CPKB, dokumentasi berfungsi sebagai bukti bahwa sistem benar-benar dijalankan. Prosedur yang hanya dibuat tetapi tidak pernah diterapkan tentu tidak cukup untuk menggambarkan kondisi operasional perusahaan.

Dokumen perlu dibuat sesuai kegiatan nyata. Misalnya, prosedur produksi harus sesuai dengan proses yang dilakukan oleh perusahaan, sedangkan pencatatan harus dapat menunjukkan apa yang benar-benar terjadi selama kegiatan berlangsung.

Beberapa dokumen yang perlu dipersiapkan dapat berkaitan dengan:

  • prosedur operasional;
  • pengawasan bahan baku;
  • proses produksi;
  • pengemasan;
  • sanitasi;
  • pemeliharaan peralatan;
  • pengawasan mutu;
  • penyimpanan;
  • penanganan penyimpangan;
  • pencatatan dan dokumentasi.

Konsistensi antara dokumen dan penerapan di lapangan menjadi hal yang sangat penting.

Jasa Sertifikasi CPKB BPOM: Dari Persiapan Sampai Lolos Audit
Jasa Sertifikasi CPKB BPOM: Dari Persiapan Sampai Lolos Audit

Dokumen CPKB yang Perlu Dipersiapkan

Salah satu bagian yang sering membuat perusahaan kesulitan sebelum pengajuan adalah menyiapkan dokumen penerapan sistem mutu CPKB. Dokumen tersebut bukan sekadar kumpulan administrasi, tetapi harus menggambarkan bagaimana sistem produksi dan pengawasan dijalankan di perusahaan.

Berdasarkan ketentuan terbaru, PerBPOM No. 8 Tahun 2026 tentang Sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik telah berlaku sejak 29 April 2026 dan mencabut PerBPOM No. 33 Tahun 2021. Regulasi ini juga memuat daftar dokumen penerapan sistem mutu CPKB sebagai bagian dari ketentuan sertifikasi.

Secara praktis, perusahaan perlu mempersiapkan dokumen yang berkaitan dengan beberapa bagian berikut:

  1. Dokumen administrasi perusahaan
    Meliputi identitas dan informasi usaha yang diperlukan dalam proses pengajuan, termasuk data perusahaan, NIB, KBLI, alamat kantor, serta informasi lokasi kegiatan usaha sesuai kebutuhan pengajuan.
  2. Dokumen struktur organisasi
    Berisi struktur organisasi perusahaan, pembagian tugas, wewenang, tanggung jawab, serta posisi personel yang terlibat dalam kegiatan produksi dan pengawasan mutu.
  3. Dokumen personel dan kompetensi
    Perusahaan perlu memiliki data personel yang terlibat dalam kegiatan produksi, pengawasan mutu, serta fungsi terkait lainnya. Dokumen dapat mencakup uraian pekerjaan, kualifikasi, pelatihan, dan catatan kompetensi sesuai tanggung jawab masing-masing.
  4. Dokumen fasilitas dan peralatan
    Berisi informasi mengenai fasilitas produksi dan peralatan yang digunakan. Dokumen pendukung dapat mencakup daftar peralatan, identifikasi peralatan, pemeliharaan, pembersihan, kalibrasi atau verifikasi apabila relevan, serta catatan penggunaannya.
  5. Prosedur operasional standar (SOP)
    SOP perlu dibuat untuk kegiatan yang memang dilakukan perusahaan. Contohnya prosedur penerimaan bahan, penyimpanan, penimbangan, produksi, pengemasan, pembersihan, sanitasi, pengawasan mutu, penanganan penyimpangan, dan kegiatan lain yang relevan.
  6. Dokumen bahan baku dan bahan kemas
    Perusahaan perlu memiliki sistem untuk mengendalikan bahan yang digunakan dalam produksi. Dokumentasi dapat berkaitan dengan penerimaan, pemeriksaan, identifikasi, penyimpanan, status bahan, serta penggunaannya dalam proses produksi.
  7. Dokumen proses produksi
    Dokumen produksi harus dapat menunjukkan bagaimana suatu produk dibuat secara konsisten. Termasuk di dalamnya instruksi atau prosedur proses, pencatatan tahapan produksi, penggunaan bahan, peralatan, serta hasil proses sesuai kebutuhan.
  8. Dokumen pengawasan mutu
    Bagian ini berkaitan dengan sistem pemeriksaan dan pengujian yang diterapkan perusahaan. Dokumentasi dapat mencakup prosedur pengambilan sampel, pemeriksaan bahan, pemeriksaan selama proses, pemeriksaan produk jadi, hasil pengujian, serta pencatatan hasil pengawasan.
  9. Dokumen sanitasi dan higiene
    Perusahaan perlu memiliki prosedur dan catatan terkait kebersihan personel, ruangan, peralatan, serta lingkungan produksi. Penerapan sanitasi harus dapat dibuktikan melalui pencatatan yang sesuai.
  10. Dokumen penyimpanan dan distribusi
    Sistem penyimpanan perlu mengatur bagaimana bahan baku, bahan kemas, produk antara, dan produk jadi ditangani. Kondisi penyimpanan, identifikasi status, penataan, serta pengeluaran barang perlu dikendalikan sesuai kebutuhan.
  11. Dokumen penanganan penyimpangan dan tindakan perbaikan
    Perusahaan perlu mempunyai mekanisme untuk mencatat dan menangani apabila terjadi ketidaksesuaian selama kegiatan berlangsung. Temuan kemudian dapat dievaluasi dan ditindaklanjuti dengan tindakan perbaikan maupun pencegahan yang sesuai.
  12. Dokumen keluhan dan penanganan produk
    Jika terdapat keluhan terhadap produk, perusahaan perlu mempunyai prosedur untuk menerima, mencatat, mengevaluasi, dan menindaklanjuti keluhan tersebut. Mekanisme penanganan produk yang bermasalah juga perlu disiapkan sesuai sistem perusahaan.
  13. Dokumen penarikan produk bila diperlukan
    Perusahaan perlu memahami mekanisme penanganan apabila suatu produk harus ditarik dari peredaran. Prosedurnya harus jelas sehingga perusahaan dapat melakukan penelusuran dan tindakan yang diperlukan.
  14. Dokumen pengendalian perubahan
    Perubahan pada fasilitas, peralatan, bahan, proses, dokumen, atau aspek lain yang memengaruhi mutu perlu dikendalikan. Perusahaan sebaiknya memiliki mekanisme untuk mengajukan, menilai, menyetujui, dan mendokumentasikan perubahan tersebut.
  15. Dokumen audit internal atau pemeriksaan mandiri
    Pemeriksaan internal dapat digunakan untuk mengetahui apakah sistem yang diterapkan sudah berjalan sebagaimana mestinya. Temuan dari pemeriksaan kemudian dapat digunakan sebagai dasar perbaikan sebelum perusahaan menghadapi evaluasi.

Yang perlu diperhatikan, daftar di atas merupakan gambaran praktis jenis dokumen yang perlu dipersiapkan, bukan berarti setiap perusahaan harus memiliki dokumen dengan nama atau format yang persis sama. Kebutuhan dapat berbeda berdasarkan jenis kegiatan, fasilitas, bentuk sediaan, dan ruang lingkup sertifikasi.

Hal yang paling penting adalah dokumen harus sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Jangan sampai perusahaan memiliki SOP yang terlihat lengkap, tetapi personel tidak menerapkannya atau fasilitas tidak sesuai dengan prosedur yang tertulis.

Bagaimana Memeriksa Kelengkapan Dokumen Sebelum Audit?

Sebelum mengikuti proses evaluasi, perusahaan sebaiknya melakukan pemeriksaan internal terhadap seluruh dokumen. Setiap SOP perlu dibandingkan dengan praktik yang benar-benar dilakukan di fasilitas produksi.

Contohnya, apabila perusahaan memiliki SOP pembersihan peralatan, harus tersedia bukti bahwa kegiatan tersebut memang dilakukan dan dicatat. Begitu pula dengan pelatihan personel, pemeliharaan peralatan, pemeriksaan bahan, produksi, pengawasan mutu, hingga penanganan penyimpangan.

Pemeriksaan seperti ini membantu menemukan gap antara dokumen dan penerapan sebelum audit dilakukan.

Pendampingan Jasa Pengurusan Sertifikasi CPKB dapat membantu perusahaan melakukan pemetaan kebutuhan, meninjau dokumen, serta mempersiapkan penerapan sistem agar lebih sesuai dengan ruang lingkup kegiatan yang dijalankan.

Dokumen Lengkap Saja Belum Cukup untuk Lolos Audit

Perusahaan perlu memahami bahwa kesiapan audit tidak ditentukan oleh banyaknya dokumen. Auditor juga akan melihat bagaimana sistem tersebut diterapkan dalam kegiatan nyata.

Personel harus memahami prosedur yang menjadi tanggung jawabnya. Fasilitas harus digunakan sesuai fungsinya. Catatan harus dibuat ketika kegiatan benar-benar dilakukan. Peralatan harus dipelihara. Bahan harus dikendalikan. Pengawasan mutu harus berjalan.

Dengan demikian, strategi terbaik bukan membuat dokumen sebanyak mungkin, tetapi membangun sistem yang sesuai, diterapkan, dicatat, dan dapat ditelusuri.

Pendekatan tersebut akan membuat perusahaan lebih siap menghadapi audit sekaligus membantu menjaga konsistensi proses produksi setelah sertifikat diperoleh.

Catatan penting: Saya sengaja tidak menggunakan istilah lama seperti persetujuan denah bangunan sebagai persyaratan wajib, karena PerBPOM No. 8 Tahun 2026 justru menghapus persetujuan denah bangunan kosmetik dalam pembaruan proses sertifikasi.

Bagaimana Mempersiapkan Personel Sebelum Audit?

Personel merupakan bagian penting dalam penerapan sistem CPKB. Setiap orang yang terlibat dalam proses produksi harus memahami tugas dan tanggung jawabnya.

Perusahaan sebaiknya memiliki struktur organisasi yang jelas serta pembagian pekerjaan yang dapat dipahami oleh masing-masing personel. Pelatihan juga diperlukan agar personel mengetahui prosedur yang harus dilakukan.

Saat audit berlangsung, personel yang terkait dapat diminta menjelaskan pekerjaan yang mereka lakukan. Karena itu, perusahaan tidak seharusnya hanya mempersiapkan dokumen, tetapi juga memastikan setiap personel memahami sistem yang diterapkan.

Apa yang Dinilai Saat Audit CPKB?

Audit pada dasarnya bertujuan untuk melihat apakah perusahaan telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan menerapkannya dalam kegiatan operasional.

Pemeriksaan dapat berkaitan dengan kondisi fasilitas, proses produksi, personel, dokumentasi, sanitasi, pengawasan mutu, penyimpanan, peralatan, serta sistem lain yang relevan.

Hal yang perlu dipahami adalah bahwa perusahaan tidak cukup hanya menunjukkan bahwa fasilitas terlihat baik. Auditor juga dapat melihat bagaimana prosedur dijalankan dan bagaimana perusahaan melakukan pencatatan.

Dengan demikian, kesiapan menghadapi audit harus mencakup kesiapan dokumen sekaligus kesiapan penerapan di lapangan.

Kesalahan yang Sering Menyebabkan Kendala Saat Audit

Beberapa kendala dapat muncul ketika perusahaan belum melakukan pemeriksaan internal sebelum audit. Contohnya adalah dokumen tidak sesuai dengan kondisi lapangan, prosedur belum diterapkan secara konsisten, pencatatan tidak lengkap, atau personel belum memahami tugasnya.

Kesalahan lainnya adalah perusahaan terlalu fokus pada fasilitas fisik tetapi mengabaikan sistem dokumentasi dan pengawasan mutu.

Agar lebih siap, perusahaan dapat melakukan pemeriksaan internal terlebih dahulu. Setiap temuan dicatat, kemudian dibuat tindakan perbaikan dan pencegahan agar masalah yang sama tidak berulang.

Bagaimana Melakukan Simulasi Sebelum Audit?

Simulasi audit dapat membantu perusahaan melihat kesiapan dari sudut pandang pemeriksa. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan mengecek fasilitas, dokumen, prosedur, catatan produksi, kebersihan, penyimpanan, hingga pemahaman personel.

Pertanyaan sederhana juga dapat diberikan kepada personel untuk mengetahui apakah mereka benar-benar memahami prosedur yang berlaku.

Misalnya, personel dapat ditanyakan mengenai cara menangani bahan yang tidak sesuai, prosedur pembersihan peralatan, pencatatan produksi, atau tindakan ketika terjadi penyimpangan.

Hasil simulasi kemudian dapat digunakan untuk menentukan bagian mana yang masih perlu diperbaiki sebelum audit sebenarnya.

Apa Peran Pendamping dalam Proses Sertifikasi?

Pendampingan dapat membantu perusahaan memahami tahapan yang harus dilalui dan mengidentifikasi bagian yang masih perlu diperbaiki. Pendamping juga dapat membantu melakukan evaluasi terhadap dokumen, fasilitas, sistem kerja, serta kesiapan personel.

Bagi perusahaan yang membutuhkan bantuan dalam proses tersebut, Jasa Pengurusan Sertifikasi CPKB dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendapatkan pendampingan sesuai kebutuhan.

Pendampingan bukan berarti menggantikan tanggung jawab perusahaan dalam menerapkan sistem. Justru perusahaan tetap perlu memastikan seluruh prosedur benar-benar dijalankan oleh tim internal.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Setelah Sertifikat Diperoleh?

Mendapatkan sertifikat bukan berarti perusahaan dapat berhenti menerapkan sistem. CPKB perlu dipertahankan melalui penerapan yang konsisten.

Perusahaan perlu terus melakukan pengawasan, pemeliharaan fasilitas, pelatihan personel, evaluasi prosedur, pengendalian bahan, serta dokumentasi kegiatan.

Perubahan pada proses produksi, fasilitas, peralatan, atau aspek lain juga perlu dikelola dengan baik agar tidak mengganggu konsistensi sistem yang sudah diterapkan.

Bagaimana Menyiapkan Produk untuk Tahap Berikutnya?

Setelah sistem produksi dan fasilitas dipersiapkan, perusahaan dapat melanjutkan berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan produk yang akan dipasarkan.

Data produk, komposisi, kemasan, penandaan, serta informasi produsen perlu diperiksa dengan teliti agar tidak terjadi ketidaksesuaian pada tahap berikutnya.

Di sisi lain, pemilik usaha juga sebaiknya mulai memperhatikan perlindungan identitas produk. Memahami pentingnya Pendaftaran Merek Kosmetik sejak awal dapat membantu perusahaan mempersiapkan perlindungan nama dan identitas yang digunakan dalam kegiatan bisnis.

Persiapan seperti ini sebaiknya dilakukan secara paralel agar pengembangan usaha tidak hanya berfokus pada produksi.

Bagaimana Mempersiapkan Aspek Halal Produk Kosmetik?

Selain proses produksi dan pengajuan produk, perusahaan juga perlu memperhatikan ketentuan terkait aspek halal sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Persiapannya dapat melibatkan informasi bahan, pemasok, proses produksi, fasilitas, serta dokumen pendukung. Karena itu, pembahasan mengenai Wajib Sertifikasi Halal Kosmetik sebaiknya sudah dipahami sejak tahap pengembangan produk, terutama bagi pelaku usaha yang ingin menyiapkan produknya untuk jangka panjang.

Dengan persiapan lebih awal, perusahaan dapat menghindari perubahan yang tidak perlu ketika produk sudah memasuki tahap pemasaran.

Tahapan Pendampingan CPKB Bersama PERMATAMAS

Secara umum, proses pendampingan dapat dimulai dengan memahami kondisi dan kebutuhan perusahaan. Setelah itu dilakukan pemetaan terhadap fasilitas, dokumen, personel, proses produksi, dan sistem pengawasan mutu.

Tahap berikutnya adalah melakukan perbaikan pada bagian yang belum siap. Setelah perusahaan dinilai lebih siap, dokumen dan penerapan sistem dapat dipersiapkan untuk mengikuti tahapan pengajuan dan pemeriksaan sesuai prosedur yang berlaku.

Alur pendampingan dapat mencakup:

  1. Konsultasi awal untuk memahami kondisi perusahaan.
  2. Pemetaan kebutuhan berdasarkan kegiatan dan fasilitas.
  3. Pemeriksaan kesiapan dokumen dan penerapan sistem.
  4. Pendampingan perbaikan terhadap bagian yang masih kurang.
  5. Persiapan menghadapi audit agar perusahaan lebih siap mengikuti pemeriksaan.

Setiap perusahaan dapat memiliki kebutuhan berbeda sehingga tahapan pendampingan perlu disesuaikan dengan kondisi aktual.

Jasa Sertifikasi CPKB BPOM PERMATAMAS

Mengurus sertifikasi CPKB membutuhkan persiapan yang tidak hanya berorientasi pada dokumen, tetapi juga pada penerapan sistem di lapangan. Fasilitas, personel, prosedur, dokumentasi, produksi, pengawasan mutu, dan berbagai bagian lainnya perlu dipersiapkan secara konsisten.

PERMATAMAS membantu pelaku industri kosmetik memahami dan mempersiapkan tahapan tersebut secara lebih terarah. Dengan persiapan yang dilakukan sejak awal, perusahaan dapat mengetahui kekurangan sebelum masuk ke tahap audit dan memiliki waktu untuk melakukan perbaikan.

Jika Anda sedang mempersiapkan industri kosmetik dan ingin mengetahui kondisi kesiapan fasilitas serta dokumen sebelum mengajukan sertifikasi CPKB, konsultasikan kebutuhan Anda bersama PERMATAMAS. Persiapkan lebih awal agar proses berjalan lebih terstruktur dan peluang menghadapi audit dengan lebih siap semakin besar.

KONSULTASI GRATIS

PERMATAMAS
Alamat : Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Kel. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi 17131
No Telp : 021-89253417
Watshapp : 085777630555

FAQ

1. Apa itu sertifikasi CPKB BPOM?
Sertifikasi CPKB merupakan proses pemenuhan standar Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik untuk memastikan kegiatan produksi kosmetik dilakukan dengan sistem yang sesuai persyaratan.

2. Apa saja yang harus dipersiapkan sebelum mengajukan CPKB?
Persiapan dapat mencakup fasilitas produksi, peralatan, personel, SOP, dokumentasi, sistem pengawasan mutu, sanitasi, penyimpanan, serta penerapan prosedur di lapangan.

3. Dokumen apa saja yang perlu disiapkan untuk CPKB?
Dokumen dapat meliputi SOP, struktur organisasi, uraian tugas, data personel, dokumentasi fasilitas, daftar peralatan, prosedur produksi, pengawasan mutu, sanitasi, penyimpanan, penanganan penyimpangan, dan dokumen terkait lainnya.

4. Apa yang diperiksa saat audit CPKB?
Pemeriksaan dapat mencakup fasilitas, peralatan, personel, proses produksi, dokumentasi, sanitasi, pengawasan mutu, penyimpanan, serta penerapan sistem di lapangan.

5. Apakah dokumen CPKB saja cukup untuk menghadapi audit?
Tidak. Dokumen harus sesuai dengan kondisi sebenarnya dan benar-benar diterapkan oleh personel dalam kegiatan operasional.

6. Apa kesalahan yang sering terjadi saat audit CPKB?
Beberapa kendala antara lain dokumen tidak sesuai kondisi lapangan, SOP tidak diterapkan, pencatatan tidak lengkap, fasilitas belum siap, dan personel belum memahami prosedur.

7. Mengapa perlu melakukan simulasi audit CPKB?
Simulasi membantu perusahaan menemukan kekurangan sebelum pemeriksaan sehingga perbaikan dapat dilakukan lebih awal.

8. Apakah personel perlu mendapatkan pelatihan sebelum audit?
Ya. Personel perlu memahami tugas, tanggung jawab, prosedur kerja, serta sistem yang diterapkan sesuai posisi masing-masing.

9. Apakah CPKB tetap perlu diterapkan setelah sertifikat diperoleh?
Ya. Sistem CPKB perlu diterapkan dan dipelihara secara konsisten agar kegiatan produksi tetap berjalan sesuai standar yang dipersyaratkan.

10. Apakah PERMATAMAS dapat membantu persiapan sampai audit CPKB?
PERMATAMAS dapat memberikan pendampingan sesuai kebutuhan perusahaan, termasuk membantu pemetaan kesiapan fasilitas, dokumen, sistem kerja, personel, serta persiapan menghadapi tahapan pemeriksaan.

Temuan Audit Sertifikasi CPKB yang Paling Sering Menyebabkan Kegagalan Sertifikasi

Temuan Audit Sertifikasi CPKB yang Paling Sering Menyebabkan Kegagalan Sertifikasi – Sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB) merupakan salah satu persyaratan penting bagi industri kosmetik yang ingin memproduksi dan mengedarkan produk secara legal di Indonesia. Sertifikat CPKB menjadi bukti bahwa perusahaan telah menerapkan sistem mutu yang sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh BPOM dalam seluruh proses produksi kosmetik.

Namun dalam praktiknya, masih banyak perusahaan yang mengalami kendala saat menghadapi audit CPKB. Tidak sedikit pengajuan sertifikasi yang tertunda bahkan gagal karena ditemukan ketidaksesuaian selama proses audit berlangsung.

Berdasarkan pengalaman PERMATAMAS yang telah mendampingi berbagai industri kosmetik dalam proses sertifikasi CPKB, sebagian besar temuan auditor bukan berasal dari kurangnya dokumen, melainkan karena implementasi di lapangan yang tidak sesuai dengan dokumen yang diajukan.

Berikut beberapa temuan audit CPKB yang paling sering menyebabkan kegagalan sertifikasi dan perlu menjadi perhatian sejak awal.

Mengapa Temuan Audit CPKB Sangat Penting?

Audit CPKB dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh aspek produksi kosmetik telah memenuhi standar mutu, keamanan, dan konsistensi produk.

Auditor tidak hanya memeriksa dokumen administrasi, tetapi juga melakukan observasi langsung terhadap:

  • Bangunan dan fasilitas produksi
  • Peralatan produksi
  • Personel yang terlibat
  • Sistem dokumentasi
  • Pengawasan mutu
  • Penyimpanan bahan baku dan produk jadi
  • Sanitasi dan higiene
  • Implementasi SOP

Karena itu, perusahaan harus memastikan bahwa seluruh sistem berjalan secara nyata dan bukan hanya sekadar tertulis dalam dokumen.

Implementasi CPKB Tidak Berjalan dan Hanya Sebatas Dokumen

Salah satu temuan yang paling sering ditemukan auditor adalah adanya perbedaan antara dokumen yang dimiliki perusahaan dengan kondisi sebenarnya di lapangan.

Banyak perusahaan telah memiliki:

  • SOP lengkap
  • Formulir pengawasan mutu
  • Catatan produksi
  • Program sanitasi
  • Sistem pelatihan

Namun saat audit dilakukan, implementasi dari dokumen tersebut tidak terlihat dalam kegiatan operasional sehari-hari.

Sebagai contoh, perusahaan memiliki SOP sanitasi yang lengkap, tetapi operator tidak menjalankan prosedur tersebut secara konsisten. Dalam beberapa kasus, dokumen hanya dibuat untuk kebutuhan sertifikasi tanpa benar-benar diterapkan.

Kondisi seperti ini menjadi salah satu penyebab utama munculnya temuan mayor dalam audit CPKB.

Temuan Audit Sertifikasi CPKB yang Paling Sering Menyebabkan Kegagalan Sertifikasi
Temuan Audit Sertifikasi CPKB yang Paling Sering Menyebabkan Kegagalan Sertifikasi

Kurangnya Pemahaman terhadap Aspek-Aspek CPKB

CPKB mencakup berbagai aspek yang saling berkaitan dalam sistem produksi kosmetik.

Masih banyak perusahaan yang hanya fokus pada fasilitas produksi tetapi kurang memahami aspek lain yang juga menjadi perhatian auditor.

Beberapa aspek yang wajib dipahami antara lain:

  • Sistem manajemen mutu
  • Personel
  • Bangunan dan fasilitas
  • Peralatan
  • Sanitasi dan higiene
  • Produksi
  • Pengawasan mutu
  • Dokumentasi
  • Penyimpanan
  • Penanganan keluhan
  • Penarikan produk

Ketika perusahaan tidak memahami keseluruhan aspek tersebut, biasanya akan muncul banyak ketidaksesuaian saat proses audit berlangsung.

Pemahaman yang baik terhadap seluruh aspek CPKB menjadi fondasi penting sebelum mengajukan sertifikasi.

Penanggung Jawab Teknis (PJT) Kurang Menguasai Kaidah CPKB

Penanggung Jawab Teknis atau PJT memiliki peran yang sangat penting dalam sistem CPKB.

Saat audit berlangsung, auditor sering melakukan wawancara langsung kepada PJT untuk menguji pemahaman terkait:

  • Sistem mutu
  • Pengendalian proses produksi
  • Pengawasan bahan baku
  • Dokumentasi
  • Pengelolaan penyimpangan
  • Penanganan produk tidak sesuai

Jika PJT tidak mampu menjelaskan sistem yang diterapkan perusahaan, auditor dapat menilai bahwa pengawasan mutu belum berjalan secara efektif.

Oleh karena itu, PJT harus benar-benar memahami seluruh proses yang terjadi di fasilitas produksi dan mampu menjelaskan penerapan CPKB secara menyeluruh.

PJT Belum Memiliki Sertifikat Pelatihan CPKB

Selain kompetensi, auditor juga akan memeriksa bukti pelatihan yang dimiliki oleh PJT.

Sertifikat pelatihan CPKB menjadi salah satu dokumen yang menunjukkan bahwa personel terkait telah mendapatkan pembekalan mengenai penerapan standar CPKB.

Masih ditemukan perusahaan yang menunjuk PJT tanpa memastikan bahwa yang bersangkutan telah mengikuti pelatihan yang relevan.

Walaupun memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai, ketiadaan pelatihan sering menjadi catatan auditor karena berkaitan dengan kompetensi personel dalam menjalankan sistem mutu.

Karena itu, pelatihan CPKB sebaiknya dipersiapkan sejak awal sebelum proses sertifikasi dimulai.

SOP Tidak Diterapkan Secara Konsisten

Standar Operasional Prosedur atau SOP merupakan salah satu dokumen utama dalam sistem CPKB.

Namun memiliki SOP saja tidak cukup.

Auditor akan memeriksa apakah SOP tersebut benar-benar diterapkan oleh seluruh personel yang terlibat.

Beberapa kondisi yang sering ditemukan antara lain:

  • Operator tidak mengikuti instruksi kerja.
  • Formulir tidak diisi sesuai prosedur.
  • Pembersihan peralatan tidak terdokumentasi.
  • Proses produksi berbeda dengan SOP yang disetujui.

Ketidaksesuaian semacam ini menunjukkan bahwa sistem belum berjalan secara efektif.

Karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa seluruh personel memahami dan menjalankan SOP sesuai dengan tugas masing-masing.

Personel Produksi Kurang Memahami Penggunaan Peralatan

Peralatan produksi merupakan bagian penting dalam proses pembuatan kosmetik.

Auditor sering meminta operator untuk menjelaskan:

  • Fungsi peralatan
  • Cara penggunaan
  • Prosedur pembersihan
  • Jadwal pemeliharaan
  • Catatan penggunaan

Ketika operator tidak mampu menjawab pertanyaan dasar mengenai peralatan yang digunakan setiap hari, hal ini dapat menjadi indikasi kurangnya pelatihan internal.

Selain itu, kurangnya pemahaman terhadap peralatan juga dapat meningkatkan risiko kesalahan produksi dan mempengaruhi kualitas produk.

Pelatihan berkala menjadi salah satu solusi untuk memastikan seluruh personel memahami tanggung jawabnya.

Tim Produksi Tidak Memahami Alur Produksi Kosmetik

Dalam audit CPKB, auditor biasanya melakukan penelusuran alur produksi mulai dari penerimaan bahan baku hingga produk jadi.

Personel yang terlibat harus memahami setiap tahapan proses, termasuk:

  • Penerimaan bahan baku
  • Penyimpanan
  • Penimbangan
  • Pencampuran
  • Pengisian
  • Pengemasan
  • Penyimpanan produk jadi

Masih banyak perusahaan yang hanya mengandalkan beberapa personel tertentu untuk memahami alur produksi secara keseluruhan.

Ketika auditor melakukan wawancara kepada operator dan mendapatkan jawaban yang tidak konsisten, hal tersebut dapat menjadi temuan yang mempengaruhi hasil audit.

Oleh karena itu, seluruh tim produksi harus memahami proses yang mereka jalankan setiap hari.

Layout dan Fasilitas Produksi Tidak Sesuai dengan Dokumen

Temuan lain yang cukup sering terjadi adalah adanya perbedaan antara layout yang diajukan kepada BPOM dengan kondisi aktual di lapangan.

Beberapa contoh yang sering ditemukan meliputi:

  • Perubahan tata letak ruangan tanpa pembaruan dokumen.
  • Penambahan area produksi yang tidak dilaporkan.
  • Perubahan alur material.
  • Perubahan alur personel.
  • Penggunaan ruangan yang tidak sesuai fungsi awal.

Padahal layout produksi merupakan salah satu komponen penting dalam penerapan CPKB karena berkaitan dengan pencegahan kontaminasi silang dan efisiensi proses produksi.

Sebelum audit dilakukan, perusahaan sebaiknya memastikan bahwa seluruh fasilitas telah sesuai dengan dokumen yang diajukan.

Cara Mengurangi Risiko Temuan Saat Audit CPKB

Agar peluang memperoleh sertifikasi CPKB semakin besar, perusahaan perlu melakukan persiapan secara menyeluruh.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Melakukan Audit Internal

Audit internal membantu menemukan ketidaksesuaian sebelum auditor BPOM melakukan pemeriksaan.

Melatih Seluruh Personel

Jangan hanya fokus pada PJT. Operator, staf gudang, quality control, dan manajemen juga harus memahami sistem yang diterapkan.

Meninjau Kesesuaian Dokumen dan Lapangan

Pastikan seluruh SOP, formulir, dan layout sesuai dengan kondisi aktual perusahaan.

Memastikan Fasilitas Produksi Siap Diaudit

Seluruh area produksi harus bersih, tertata, dan sesuai dengan standar yang berlaku.

Menggunakan Pendampingan Profesional

Pendampingan dari konsultan berpengalaman dapat membantu perusahaan mengidentifikasi potensi temuan sejak awal sehingga risiko kegagalan audit dapat diminimalkan.

Kesimpulan

Temuan audit CPKB yang paling sering menyebabkan kegagalan sertifikasi umumnya bukan karena kurangnya dokumen, melainkan karena lemahnya implementasi sistem di lapangan.

Mulai dari SOP yang tidak dijalankan, PJT yang kurang memahami CPKB, operator yang belum menguasai proses produksi, hingga layout fasilitas yang tidak sesuai dengan dokumen menjadi penyebab yang sering ditemukan saat audit berlangsung.

Oleh karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa seluruh sistem mutu benar-benar diterapkan secara konsisten sebelum mengajukan sertifikasi CPKB.

PERMATAMAS Siap Mendampingi Sertifikasi CPKB Hingga Lulus Audit

Jika perusahaan Anda sedang mempersiapkan sertifikasi CPKB, PERMATAMAS siap membantu mulai dari tahap perencanaan hingga pendampingan audit.

Dengan pengalaman sejak 2011, tim kami telah membantu berbagai industri kosmetik dalam mempersiapkan dokumen, sistem mutu, layout fasilitas, SOP, hingga simulasi audit CPKB.

Kami membantu perusahaan mengidentifikasi potensi temuan auditor sejak awal sehingga proses sertifikasi dapat berjalan lebih efektif dan terarah.

Konsultasikan kebutuhan sertifikasi CPKB Anda bersama PERMATAMAS dan tingkatkan peluang memperoleh sertifikat CPKB dengan persiapan yang tepat.

KONSULTASI GRATIS

PERMATAMAS INDONESIA
Alamat : Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Kel. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi 17131
No Telp : 021-89253417
Watshapp : 085777630555

FAQ Seputar Temuan Audit CPKB dan Sertifikasi Kosmetik

1. Apakah perusahaan yang pernah gagal audit CPKB masih bisa mengajukan sertifikasi kembali?

Tentu bisa. Sebagian besar perusahaan yang belum lulus audit umumnya mengalami temuan pada aspek implementasi, dokumentasi, fasilitas, atau kompetensi personel. Setelah seluruh temuan diperbaiki sesuai rekomendasi auditor, perusahaan dapat melanjutkan proses sertifikasi kembali. Tim PERMATAMAS siap membantu melakukan evaluasi menyeluruh agar potensi temuan dapat diminimalkan sebelum audit berikutnya.

2. Bagaimana cara mengetahui kesiapan perusahaan sebelum menghadapi audit CPKB?

Cara terbaik adalah melakukan audit internal atau pre-audit terlebih dahulu. Melalui proses ini, perusahaan dapat mengetahui kekurangan pada aspek bangunan, SOP, dokumentasi, personel, hingga implementasi sistem mutu. PERMATAMAS menyediakan layanan review dan simulasi audit untuk membantu perusahaan mengetahui tingkat kesiapan sebelum pemeriksaan resmi BPOM.

3. Apakah PJT yang belum memiliki pengalaman CPKB tetap bisa mengurus sertifikasi?

Bisa, selama PJT memenuhi persyaratan yang berlaku dan mendapatkan pembekalan yang memadai. Namun dalam praktiknya, kurangnya pemahaman PJT terhadap sistem CPKB sering menjadi salah satu penyebab munculnya temuan auditor. Karena itu, pendampingan dan pelatihan yang tepat sangat penting sebelum proses audit berlangsung.

4. Mengapa banyak perusahaan memiliki dokumen lengkap tetapi tetap mendapatkan temuan audit?

Karena auditor tidak hanya memeriksa dokumen, tetapi juga memastikan bahwa seluruh sistem benar-benar diterapkan di lapangan. Banyak perusahaan memiliki SOP, formulir, dan prosedur yang lengkap, namun implementasinya belum berjalan secara konsisten. Inilah alasan mengapa pendampingan implementasi menjadi sama pentingnya dengan penyusunan dokumen.

5. Bagaimana cara mendapatkan pendampingan sertifikasi CPKB yang tepat?

Pilih konsultan yang memiliki pengalaman nyata dalam mendampingi perusahaan menghadapi audit CPKB, bukan hanya membantu membuat dokumen. PERMATAMAS telah berpengalaman sejak tahun 2011 dan membantu berbagai industri kosmetik mempersiapkan fasilitas, SOP, dokumen mutu, pelatihan personel, hingga pendampingan saat audit berlangsung. Hubungi tim PERMATAMAS sekarang untuk konsultasi awal dan dapatkan roadmap sertifikasi CPKB yang sesuai dengan kondisi perusahaan Anda.

jasa izin pkrt
jasa izin pkrt
permatamas

Konsultasi Gratis Sekarang!

Jangan ragu untuk menghubungi kami dan dapatkan konsultasi gratis untuk kebutuhan izin usaha Anda. Permatamas Indonesia, solusi lengkap untuk perizinan dan sertifikasi usaha Anda!

Legalitas Usaha Kami
Akta Pendirian No.15
SK AHU-0032144-AH,01,15 Tahun 2021
NPWP : 76,011,954,5-427,000
SIUP : 510/PM277/DPMPTSP.PPJU
TDP : 102637007638
NIB : 0610210009793

Alamat Kantor Kami
Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Ke. Pejuang,
Kec. Medan Satria, Kota Bekasi, Jawa Barat
No Telp :  021-89253417
HP/WA : 085777630555
Email : maspermatha@gmail.com
Website : www.permatamas.co.id

Copyright © 2011 PERMATAMAS INDONESIA – All Rights Reserved
a Support by Dokter Website Indonesia