Apa Saja 12 Aspek CPKB Terbaru? Ini Penjelasan Lengkap Standar BPOM – Industri kosmetik yang ingin memproduksi dan mengedarkan produknya secara legal wajib menerapkan Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB). CPKB merupakan standar yang ditetapkan oleh BPOM untuk memastikan setiap produk kosmetik diproduksi secara konsisten, aman digunakan, bermutu, serta memenuhi persyaratan yang berlaku. Dalam proses sertifikasi maupun inspeksi, BPOM akan mengevaluasi penerapan 12 aspek CPKB sebagai indikator utama kepatuhan industri kosmetik.
Banyak pelaku usaha yang masih bertanya, apa saja 12 aspek CPKB terbaru dan bagaimana penerapannya di dalam industri kosmetik. Padahal, memahami seluruh aspek tersebut sangat penting karena menjadi dasar dalam proses memperoleh Sertifikat CPKB BPOM, SPA CPKB, hingga pengajuan izin edar kosmetik. Kegagalan memenuhi salah satu aspek dapat menyebabkan perusahaan harus melakukan perbaikan sebelum sertifikat diterbitkan.apat menjadi panduan bagi perusahaan yang sedang mempersiapkan sertifikasi maupun meningkatkan sistem produksi kosmetiknya.
Apa Itu 12 Aspek CPKB BPOM?
12 aspek CPKB adalah standar yang wajib diterapkan oleh industri kosmetik dalam menjalankan proses produksi sesuai prinsip Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik. Seluruh aspek tersebut saling berkaitan untuk memastikan bahwa setiap tahapan produksi berlangsung secara terkendali dan menghasilkan produk yang aman serta berkualitas.
BPOM menggunakan 12 aspek ini sebagai dasar penilaian dalam proses audit dan sertifikasi industri kosmetik.
Manfaat penerapan 12 aspek CPKB antara lain:
Menjamin keamanan produk kosmetik.
Menjaga konsistensi mutu produk.
Memenuhi persyaratan Sertifikasi CPKB BPOM.
Meningkatkan kepercayaan konsumen dan mitra bisnis.
Dengan menerapkan seluruh aspek tersebut, perusahaan dapat membangun sistem produksi yang lebih profesional dan sesuai regulasi.
1. Sistem Manajemen Mutu
Sistem Manajemen Mutu menjadi fondasi utama dalam penerapan CPKB. Aspek ini mengatur kebijakan perusahaan, pengendalian proses, evaluasi mutu, serta perbaikan berkelanjutan agar seluruh aktivitas produksi berjalan sesuai standar.
Komponen penting meliputi:
Kebijakan mutu.
SOP produksi.
Pengendalian perubahan.
Tindakan perbaikan (CAPA).
Sistem mutu yang baik membantu perusahaan menjaga konsistensi kualitas produk.
2. Personalia
Seluruh personel yang terlibat dalam proses produksi harus memiliki kompetensi, pelatihan, serta tanggung jawab yang jelas. Selain itu, kondisi kesehatan pekerja juga menjadi perhatian untuk mencegah risiko kontaminasi produk.
Yang dinilai meliputi:
Struktur organisasi.
Kompetensi personel.
Program pelatihan.
Pembagian tanggung jawab.
Personel yang kompeten akan mendukung penerapan CPKB secara efektif.
3. Bangunan dan Fasilitas
Bangunan industri kosmetik harus dirancang sesuai prinsip CPKB sehingga mampu mencegah kontaminasi silang dan mempermudah alur produksi.
Area yang umumnya tersedia meliputi:
Gudang bahan baku.
Ruang produksi.
Laboratorium.
Gudang produk jadi.
Desain fasilitas yang baik menjadi salah satu fokus utama dalam audit BPOM.
4. Peralatan
Mesin dan peralatan produksi harus sesuai dengan proses yang dilakukan, mudah dibersihkan, serta mendapatkan perawatan dan kalibrasi secara berkala.
Persyaratan utama meliputi:
Peralatan sesuai fungsi.
Program pemeliharaan.
Kalibrasi alat.
Dokumentasi perawatan.
Peralatan yang terawat membantu menjaga mutu produk.
Apa Saja 12 Aspek CPKB Terbaru? Ini Penjelasan Lengkap Standar BPOM
5. Sanitasi dan Higiene
Sanitasi dan higiene bertujuan menjaga kebersihan fasilitas produksi maupun personel agar tidak terjadi pencemaran terhadap produk kosmetik.
Penerapan meliputi:
Sanitasi area produksi.
Higiene personel.
Pengendalian hama.
Jadwal pembersihan rutin.
Lingkungan yang bersih merupakan syarat penting dalam CPKB.
6. Produksi
Seluruh tahapan produksi harus mengikuti prosedur yang terdokumentasi sehingga setiap batch produk memiliki mutu yang konsisten.
Tahapan produksi meliputi:
Penimbangan bahan.
Proses pencampuran.
Pengisian dan pengemasan.
Pengendalian proses.
Produksi yang terkontrol akan mengurangi risiko kesalahan.
7. Pengawasan Mutu (Quality Control)
Quality Control bertugas memastikan seluruh bahan baku, bahan kemas, produk antara, dan produk jadi memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan.
Pengawasan dilakukan melalui:
Pengujian bahan baku.
Pengujian produk antara.
Pengujian produk jadi.
Persetujuan pelepasan produk.
Aspek ini sangat menentukan kualitas kosmetik yang dipasarkan.
8. Dokumentasi
Semua aktivitas produksi wajib dicatat secara lengkap agar mudah ditelusuri apabila terjadi penyimpangan atau keluhan konsumen.
Dokumentasi mencakup:
Formula produk.
Catatan produksi.
Hasil pengujian.
Distribusi produk.
Dokumen yang lengkap menjadi bukti penerapan CPKB.
9. Audit Internal
Audit Internal dilakukan secara berkala untuk mengevaluasi apakah seluruh sistem produksi telah berjalan sesuai ketentuan CPKB.
Audit meliputi:
Pemeriksaan fasilitas.
Evaluasi dokumen.
Pemeriksaan SOP.
Tindak lanjut temuan.
Audit membantu perusahaan melakukan perbaikan sebelum inspeksi BPOM.
10. Penyimpanan
Bahan baku, bahan kemas, dan produk jadi harus disimpan dalam kondisi yang sesuai agar mutu tetap terjaga.
Hal yang diperhatikan meliputi:
Pengaturan suhu.
Kebersihan gudang.
Identifikasi bahan.
Sistem penyimpanan.
Penyimpanan yang baik menjaga stabilitas produk.
11. Kontrak Produksi dan Pengujian
Apabila perusahaan menggunakan jasa maklon atau laboratorium pihak ketiga, harus terdapat perjanjian yang mengatur tanggung jawab masing-masing pihak.
Perjanjian tersebut meliputi:
Ruang lingkup pekerjaan.
Pengawasan mutu.
Dokumentasi.
Tanggung jawab para pihak.
Aspek ini memastikan kualitas tetap terjaga meskipun melibatkan pihak ketiga.
12. Penanganan Keluhan dan Penarikan Produk
Perusahaan wajib memiliki prosedur penanganan keluhan konsumen serta mekanisme penarikan produk apabila ditemukan masalah keamanan atau mutu.
Sistem tersebut mencakup:
Penerimaan keluhan.
Investigasi penyebab.
Penarikan produk (recall).
Tindakan perbaikan.
Sistem yang baik menunjukkan komitmen perusahaan terhadap perlindungan konsumen.
Apakah Semua Industri Kosmetik Harus Menerapkan 12 Aspek?
Pada prinsipnya, industri kosmetik yang mengajukan Sertifikasi CPKB penuh wajib memenuhi 12 aspek tersebut. Namun, BPOM juga mengatur skema Sertifikat Pemenuhan Aspek (SPA) CPKB bagi industri tertentu, yang menerapkan aspek yang disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Pemilihan skema bergantung pada jenis usaha dan ruang lingkup kegiatan produksi.
Kesimpulan
Memahami 12 aspek CPKB terbaru merupakan langkah penting bagi setiap industri kosmetik yang ingin memperoleh Sertifikasi CPKB BPOM dan menjalankan proses produksi sesuai standar. Mulai dari sistem manajemen mutu, personalia, bangunan, peralatan, sanitasi, produksi, quality control, dokumentasi, audit internal, penyimpanan, kontrak produksi, hingga penanganan keluhan, seluruh aspek harus diterapkan secara konsisten agar menghasilkan kosmetik yang aman, bermutu, dan memenuhi regulasi BPOM.
Apabila perusahaan Anda membutuhkan pendampingan dalam memenuhi 12 aspek CPKB, menyusun dokumen sistem mutu, mempersiapkan audit, hingga mengurus Sertifikasi CPKB BPOM maupun SPA CPKB, PERMATAMAS siap membantu secara profesional. Dengan pendampingan yang tepat, proses sertifikasi dapat berjalan lebih efektif, efisien, dan sesuai dengan ketentuan BPOM.
KONSULTASI GRATIS
PERMATAMAS INDONESIA
Alamat : Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Kel. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi 17131
No Telp : 021-89253417
Watshapp : 085777630555
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan 12 aspek CPKB? 12 aspek CPKB adalah standar yang wajib diterapkan industri kosmetik untuk memenuhi persyaratan Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB) sesuai ketentuan BPOM.
2. Apa saja 12 aspek CPKB terbaru? Meliputi Sistem Manajemen Mutu, Personalia, Bangunan dan Fasilitas, Peralatan, Sanitasi dan Higiene, Produksi, Pengawasan Mutu, Dokumentasi, Audit Internal, Penyimpanan, Kontrak Produksi dan Pengujian, serta Penanganan Keluhan dan Penarikan Produk.
3. Mengapa 12 aspek CPKB penting? Karena menjadi dasar penilaian BPOM untuk memastikan proses produksi kosmetik memenuhi standar keamanan, mutu, dan kualitas.
4. Apakah semua industri kosmetik wajib memenuhi 12 aspek CPKB? Ya, industri kosmetik yang mengajukan Sertifikasi CPKB wajib menerapkan aspek-aspek tersebut sesuai ketentuan BPOM.
5. Apakah 12 aspek CPKB menjadi syarat Sertifikasi CPKB BPOM? Ya. Penerapan 12 aspek CPKB merupakan bagian penting dalam proses Sertifikasi CPKB BPOM.
6. Apa manfaat menerapkan 12 aspek CPKB? Manfaatnya antara lain menjaga mutu produk, memenuhi regulasi BPOM, meningkatkan kepercayaan konsumen, dan mendukung pengajuan izin edar kosmetik.
7. Apa yang dimaksud dengan Audit Internal dalam CPKB? Audit Internal adalah pemeriksaan berkala untuk memastikan seluruh sistem produksi telah sesuai dengan standar CPKB.
8. Apakah perusahaan maklon kosmetik juga harus menerapkan CPKB? Ya. Perusahaan maklon wajib menerapkan ketentuan CPKB sesuai ruang lingkup kegiatan produksinya.
9. Bagaimana cara memenuhi 12 aspek CPKB? Perusahaan perlu menyiapkan sistem mutu, dokumen, fasilitas produksi, sumber daya manusia, dan prosedur kerja sesuai standar BPOM.
10. Mengapa menggunakan jasa pendampingan Sertifikasi CPKB BPOM? Pendampingan membantu perusahaan mempersiapkan seluruh persyaratan CPKB, memperlancar proses sertifikasi, dan mengurangi risiko revisi saat audit BPOM.
12 Aspek CPKB Terbaru BPOM yang Wajib Dipenuhi Pabrik Kosmetik – Industri kosmetik yang ingin memproduksi dan mengedarkan produk secara legal wajib memastikan seluruh proses produksinya memenuhi standar Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB). Standar ini menjadi pedoman utama yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk menjamin kosmetik yang diproduksi memiliki kualitas, keamanan, dan konsistensi yang sesuai ketentuan.
Penerapan 12 aspek CPKB menjadi bagian penting bagi pabrik kosmetik, baik industri skala besar maupun usaha kosmetik yang sedang berkembang. Pemenuhan aspek tersebut menjadi dasar dalam pengajuan Sertifikat CPKB maupun SPA CPKB sebagai bukti bahwa fasilitas produksi telah menerapkan sistem produksi kosmetik yang memenuhi standar.
Melalui Jasa Sertifikasi CPKB BPOM, pelaku usaha kosmetik dapat memperoleh pendampingan dalam mempersiapkan dokumen, memperbaiki sistem produksi, hingga menghadapi proses audit BPOM. Dengan persiapan yang tepat, peluang mendapatkan sertifikasi menjadi lebih besar dan proses pengurusan dapat berjalan lebih efektif.
Apa Itu 12 Aspek CPKB BPOM?
12 Aspek CPKB adalah standar utama yang harus diterapkan oleh industri kosmetik agar proses pembuatan produk berjalan secara konsisten, higienis, dan terkendali. Setiap aspek memiliki fungsi masing-masing untuk memastikan kualitas produk mulai dari penerimaan bahan baku hingga distribusi produk jadi.
Penerapan CPKB bukan hanya berkaitan dengan kebersihan pabrik, tetapi juga mencakup sistem manajemen, sumber daya manusia, dokumentasi, pengawasan mutu, hingga pengendalian risiko produksi.
Beberapa tujuan utama penerapan CPKB yaitu:
Menjamin keamanan produk kosmetik bagi konsumen.
Menjaga kualitas produk tetap konsisten.
Mencegah risiko kontaminasi selama produksi.
Memenuhi persyaratan legalitas kosmetik BPOM.
Dengan memenuhi seluruh aspek tersebut, perusahaan dapat mengajukan sertifikasi sebagai bukti bahwa fasilitas produksinya telah sesuai standar industri kosmetik.
Aspek 1: Sistem Manajemen Mutu
Sistem Manajemen Mutu merupakan dasar utama dalam penerapan CPKB. Aspek ini mengatur bagaimana perusahaan membuat kebijakan, prosedur, dan sistem pengendalian mutu agar seluruh proses produksi berjalan sesuai standar.
Pabrik kosmetik harus memiliki sistem yang mampu memastikan setiap produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang sama dari satu batch ke batch berikutnya.
Hal penting dalam sistem manajemen mutu meliputi:
Penyusunan standar operasional prosedur (SOP).
Pengendalian proses produksi.
Evaluasi dan peningkatan mutu secara berkala.
Pengelolaan risiko terhadap kualitas produk.
Sistem mutu yang baik membantu perusahaan menjaga kepercayaan konsumen dan memenuhi persyaratan audit BPOM.
Aspek 2: Personalia
Sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan penerapan CPKB. Setiap tenaga kerja yang terlibat dalam proses produksi harus memiliki kemampuan dan pemahaman mengenai standar pembuatan kosmetik.
Perusahaan wajib memastikan bahwa personel mendapatkan pelatihan yang sesuai dengan tanggung jawabnya.
Hal yang perlu diperhatikan dalam aspek personalia yaitu:
Memiliki tenaga kerja yang kompeten.
Menyediakan pelatihan secara rutin.
Menunjuk penanggung jawab teknis sesuai ketentuan.
Memastikan pekerja memahami prosedur kerja.
Personel yang terlatih akan membantu mengurangi kesalahan produksi dan menjaga kualitas produk kosmetik.
Aspek 3: Bangunan dan Fasilitas
Bangunan pabrik kosmetik harus dirancang dengan memperhatikan alur produksi agar risiko pencemaran dan kontaminasi silang dapat diminimalkan.
Area produksi, penyimpanan bahan, pengemasan, dan pengawasan mutu harus memiliki tata letak yang mendukung proses kerja yang aman.
Persyaratan fasilitas meliputi:
Ruang produksi sesuai standar.
Area penyimpanan yang memadai.
Sistem kebersihan lingkungan.
Pengaturan alur bahan dan produk.
Fasilitas yang sesuai CPKB akan membantu menjaga keamanan produk sejak proses awal hingga produk siap dipasarkan.
Aspek 4: Peralatan Produksi
Peralatan yang digunakan dalam pembuatan kosmetik harus memenuhi standar keamanan dan kebersihan. Mesin produksi wajib dirawat secara berkala agar tetap berfungsi dengan baik.
Peralatan yang digunakan harus mudah dibersihkan dan tidak menyebabkan pencemaran terhadap produk.
Hal yang perlu diperhatikan yaitu:
Pemilihan mesin sesuai kebutuhan produksi.
Perawatan dan pemeliharaan rutin.
Kalibrasi alat ukur.
Kebersihan peralatan sebelum digunakan.
Pengelolaan peralatan yang baik membantu menjaga konsistensi mutu kosmetik.
12 Aspek CPKB Terbaru BPOM yang Wajib Dipenuhi Pabrik Kosmetik
Aspek 5: Sanitasi dan Higiene
Sanitasi dan higiene bertujuan memastikan lingkungan produksi tetap bersih dan bebas dari faktor yang dapat menyebabkan kontaminasi.
Aspek ini mencakup kebersihan ruangan, mesin, bahan, serta tenaga kerja yang terlibat dalam produksi.
Penerapan sanitasi meliputi:
Program kebersihan area produksi.
Penggunaan perlengkapan kerja sesuai standar.
Pengendalian kebersihan peralatan.
Pencegahan kontaminasi silang.
Standar higiene yang baik menjadi salah satu poin penting dalam pemeriksaan BPOM.
Aspek 6: Produksi
Proses produksi kosmetik harus dilakukan berdasarkan prosedur yang telah ditetapkan. Setiap tahapan mulai dari pencampuran bahan hingga pengemasan harus dikendalikan dengan baik.
Tujuannya adalah memastikan setiap produk memiliki kualitas yang stabil.
Dalam proses produksi perlu diperhatikan:
Penggunaan bahan sesuai formula.
Prosedur kerja yang terdokumentasi.
Pengawasan setiap tahapan produksi.
Validasi proses produksi.
Produksi yang terkendali menjadi kunci menghasilkan kosmetik yang aman dan berkualitas.
Aspek 7: Pengawasan Mutu (Quality Control)
Pengawasan mutu bertugas memastikan bahan baku, proses produksi, dan produk akhir memenuhi standar kualitas.
Setiap produk harus melalui pemeriksaan sebelum dipasarkan kepada konsumen.
Pengawasan mutu meliputi:
Pemeriksaan bahan baku.
Pengujian produk antara.
Pemeriksaan produk jadi.
Evaluasi hasil produksi.
Dengan sistem Quality Control yang baik, perusahaan dapat mencegah produk yang tidak sesuai standar beredar di pasaran.
Aspek 8: Dokumentasi
Dokumentasi menjadi bagian penting dalam penerapan CPKB karena seluruh aktivitas produksi harus dapat ditelusuri.
Catatan produksi membantu perusahaan mengetahui riwayat suatu produk apabila terjadi kendala.
Dokumen yang perlu dikelola antara lain:
Catatan bahan baku.
Dokumen proses produksi.
Hasil pengujian mutu.
Catatan distribusi produk.
Dokumentasi yang lengkap menjadi bukti bahwa perusahaan menjalankan proses sesuai standar.
Aspek 9: Produksi dan Analisis Berdasarkan Kontrak
Apabila perusahaan menggunakan jasa pihak lain untuk produksi atau pengujian, maka harus terdapat pengaturan resmi melalui kontrak.
Kerja sama tersebut harus memastikan pihak ketiga tetap menerapkan standar CPKB.
Hal yang perlu diperhatikan:
Perjanjian kerja sama tertulis.
Pembagian tanggung jawab yang jelas.
Standar mutu yang harus dipenuhi.
Pengawasan terhadap pihak kontraktor.
Aspek ini penting terutama bagi perusahaan yang menggunakan sistem maklon kosmetik.
Aspek 10: Penanganan Keluhan dan Penarikan Produk
Pabrik kosmetik harus memiliki sistem untuk menangani keluhan konsumen dan melakukan tindakan apabila ditemukan masalah pada produk.
Perusahaan wajib memiliki prosedur penanganan agar risiko terhadap konsumen dapat diminimalkan.
Sistem ini mencakup:
Penerimaan dan pencatatan keluhan.
Investigasi penyebab masalah.
Tindakan perbaikan.
Proses penarikan produk bila diperlukan.
Aspek 11: Audit Internal
Audit internal dilakukan untuk mengevaluasi apakah seluruh penerapan CPKB sudah berjalan sesuai standar.
Melalui audit ini, perusahaan dapat menemukan kekurangan sebelum dilakukan pemeriksaan oleh BPOM.
Audit internal meliputi:
Pemeriksaan sistem kerja.
Evaluasi dokumen.
Pemeriksaan fasilitas.
Rencana perbaikan.
Audit berkala membantu perusahaan mempertahankan standar produksi kosmetik.
Aspek 12: Penyimpanan
Penyimpanan bahan baku dan produk jadi harus dilakukan dengan kondisi yang sesuai agar kualitas tetap terjaga.
Gudang harus memiliki sistem pengaturan yang mencegah kerusakan atau kontaminasi.
Hal penting dalam penyimpanan yaitu:
Pengaturan suhu dan kondisi ruangan.
Pemisahan bahan sesuai kategori.
Sistem pencatatan stok.
Perlindungan produk dari kerusakan.
Pengelolaan gudang yang baik mendukung kualitas produk hingga sampai ke konsumen.
Proses Mendapatkan Sertifikat CPKB BPOM
Untuk mendapatkan Sertifikat CPKB atau SPA CPKB, perusahaan harus memastikan seluruh aspek telah diterapkan dan siap dilakukan pemeriksaan oleh BPOM.
Tahapan umumnya meliputi:
Evaluasi kesiapan fasilitas produksi.
Penyusunan dokumen CPKB.
Pengajuan sertifikasi melalui sistem BPOM.
Pemeriksaan atau audit fasilitas.
Perbaikan jika terdapat temuan.
Penerbitan sertifikat.
Persiapan yang matang akan membantu mempercepat proses sertifikasi.
Jasa Sertifikasi CPKB BPOM PERMATAMAS
PERMATAMAS membantu industri kosmetik dalam proses pengurusan Sertifikat CPKB dan SPA CPKB BPOM secara profesional.
Pendampingan dilakukan mulai dari persiapan dokumen, evaluasi fasilitas, penyusunan sistem mutu, hingga pendampingan menghadapi audit BPOM.
Dengan pengalaman membantu legalitas produk, PERMATAMAS memberikan solusi bagi perusahaan kosmetik yang ingin memenuhi standar produksi sesuai regulasi.
Kesimpulan
Pemenuhan 12 aspek CPKB merupakan kewajiban penting bagi pabrik kosmetik yang ingin mendapatkan legalitas produksi dan memastikan kualitas produk tetap terjaga.
Mulai dari sistem mutu, personalia, fasilitas, produksi, dokumentasi hingga penyimpanan harus diterapkan secara konsisten agar memenuhi standar BPOM.
Menggunakan Jasa Sertifikasi CPKB BPOM dari PERMATAMAS dapat membantu perusahaan mempersiapkan seluruh kebutuhan sertifikasi dengan lebih mudah dan terarah.
KONSULTASI GRATIS
PERMATAMAS INDONESIA
Alamat : Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Kel. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi 17131
No Telp : 021-89253417
Watshapp : 085777630555
FAQ 12 Aspek CPKB BPOM
1. Apa itu 12 aspek CPKB BPOM?
12 aspek CPKB BPOM adalah standar yang mengatur seluruh proses pembuatan kosmetik agar memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan kualitas sesuai ketentuan BPOM.
2. Apakah semua pabrik kosmetik wajib menerapkan CPKB?
Ya, setiap industri kosmetik yang memproduksi produk kosmetik wajib menerapkan standar CPKB.
3. Apa fungsi Sertifikat CPKB bagi industri kosmetik?
Sertifikat CPKB menjadi bukti bahwa fasilitas produksi telah memenuhi standar pembuatan kosmetik yang baik.
4. Apa perbedaan CPKB dan SPA CPKB?
CPKB merupakan sertifikasi penerapan standar secara menyeluruh, sedangkan SPA CPKB merupakan bukti pemenuhan aspek CPKB secara bertahap.
5. Apakah CPKB menjadi syarat izin edar kosmetik BPOM?
Ya, penerapan CPKB menjadi salah satu persyaratan penting dalam proses legalitas produk kosmetik.
6. Berapa lama proses pengurusan Sertifikat CPKB?
Lama proses tergantung kesiapan dokumen, fasilitas, dan hasil pemeriksaan BPOM.
7. Apa saja yang diperiksa BPOM saat audit CPKB?
BPOM akan memeriksa fasilitas, dokumen, sistem mutu, proses produksi, sanitasi, dan aspek lain sesuai standar CPKB.
8. Apakah perusahaan maklon kosmetik wajib memiliki CPKB?
Ya, industri kosmetik yang melakukan produksi maklon harus memenuhi standar CPKB sesuai ketentuan.
9. Apa risiko jika pabrik kosmetik tidak menerapkan CPKB?
Risikonya adalah produk tidak dapat memenuhi persyaratan legalitas dan berpotensi mengalami kendala dalam proses izin edar.
10. Mengapa menggunakan jasa sertifikasi CPKB BPOM?
Karena jasa pendamping membantu menyiapkan dokumen, sistem CPKB, dan persiapan audit agar proses sertifikasi berjalan lebih efektif.
Biro Jasa Sertifikasi CPKB Dari Penyusunan, Pendampingan Sampai Sertifikat Terbit – Dalam industri kosmetik, legalitas dan standar produksi menjadi faktor yang sangat penting sebelum sebuah produk bisa diedarkan ke pasar. Salah satu syarat utama yang ditetapkan oleh BPOM adalah pemenuhan standar Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik atau CPKB.
Namun dalam praktiknya, proses pengurusan CPKB tidak sederhana. Banyak pelaku usaha yang mengalami kesulitan mulai dari penyusunan dokumen, penyesuaian fasilitas produksi, hingga menghadapi audit BPOM. Karena itulah keberadaan biro jasa sertifikasi CPKB menjadi solusi yang banyak digunakan oleh pelaku industri kosmetik di Indonesia.
Biro jasa ini membantu dari tahap awal persiapan hingga sertifikat resmi CPKB diterbitkan, sehingga perusahaan dapat fokus pada produksi dan pengembangan bisnis.
Apa Itu Sertifikasi CPKB dalam Industri Kosmetik
Sertifikasi CPKB adalah bukti bahwa sebuah fasilitas produksi kosmetik telah memenuhi standar yang ditetapkan oleh BPOM dalam hal kebersihan, keamanan, sistem produksi, dan pengendalian mutu.
Standar ini memastikan bahwa setiap produk kosmetik yang dihasilkan aman digunakan oleh konsumen dan diproduksi melalui proses yang terkontrol.
CPKB mencakup berbagai aspek penting seperti:
Kebersihan ruang produksi
Kualitas bahan baku
Pengawasan proses produksi
Sistem dokumentasi
Pengendalian mutu produk
Tanpa sertifikasi ini, perusahaan kosmetik tidak dapat memperoleh izin edar resmi dari BPOM.
Mengapa Sertifikasi CPKB Sangat Penting
Sertifikasi CPKB bukan hanya formalitas, tetapi menjadi dasar utama dalam industri kosmetik modern.
Beberapa alasan pentingnya CPKB antara lain:
Menjamin keamanan produk kosmetik sebelum dipasarkan
Menjadi syarat utama pengajuan izin edar BPOM
Meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap brand
Memastikan proses produksi sesuai standar industri
Menghindari risiko penarikan produk dari pasar
Dengan meningkatnya persaingan industri kosmetik, memiliki sertifikasi CPKB menjadi kebutuhan wajib, bukan lagi pilihan.
Peran Biro Jasa Sertifikasi CPKB
Biro jasa sertifikasi CPKB berperan sebagai pendamping profesional yang membantu perusahaan dalam memenuhi seluruh persyaratan BPOM.
Layanan ini sangat penting terutama bagi pelaku usaha yang belum memahami secara teknis standar CPKB atau belum memiliki tim internal yang berpengalaman.
Peran utama biro jasa meliputi:
Analisis kesiapan fasilitas produksi
Penyusunan dokumen CPKB
Perbaikan sistem produksi
Pendampingan audit BPOM
Penyelesaian temuan audit (CAPA)
Dengan bantuan biro jasa, proses sertifikasi menjadi lebih terarah dan minim kesalahan.
Biro Jasa Sertifikasi CPKB Dari Penyusunan, Pendampingan Sampai Sertifikat Terbit
Tahapan Jasa Sertifikasi CPKB dari Awal Hingga Terbit
Proses sertifikasi CPKB biasanya dilakukan secara bertahap agar semua aspek dapat dipenuhi sesuai standar BPOM.
1. Evaluasi Kesiapan Fasilitas Produksi
Tahap awal adalah melakukan evaluasi terhadap kondisi pabrik atau fasilitas produksi.
Pada tahap ini dilakukan pengecekan:
Tata letak ruang produksi
Alur bahan baku dan produk jadi
Kebersihan fasilitas
Sistem sanitasi
Kesiapan peralatan produksi
Jika ditemukan kekurangan, akan diberikan rekomendasi perbaikan agar sesuai standar CPKB.
2. Penyusunan Dokumen CPKB
Dokumen merupakan bagian paling penting dalam proses sertifikasi.
Biro jasa akan membantu menyusun seluruh dokumen sesuai 12 aspek CPKB, seperti:
Sistem manajemen mutu
Personalia dan struktur organisasi
Bangunan dan fasilitas
Peralatan produksi
Sanitasi dan higiene
Proses produksi
Pengawasan mutu
Inspeksi diri
Penanganan keluhan
Penarikan produk
Dokumentasi produksi
Semua dokumen ini harus tersusun rapi dan sesuai standar BPOM.
3. Simulasi dan Pendampingan Audit BPOM
Sebelum audit resmi dilakukan, biasanya dilakukan simulasi internal terlebih dahulu.
Tujuannya adalah untuk memastikan semua sistem sudah berjalan dengan baik dan siap diperiksa oleh BPOM.
Saat audit berlangsung, biro jasa juga akan mendampingi perusahaan agar proses pemeriksaan berjalan lancar dan sesuai prosedur.
4. Tindak Lanjut CAPA (Corrective and Preventive Action)
Jika dalam audit ditemukan ketidaksesuaian, maka perusahaan wajib melakukan perbaikan atau CAPA.
Biro jasa akan membantu dalam:
Menyusun laporan perbaikan
Melengkapi dokumen tambahan
Menyesuaikan sistem produksi
Menjawab temuan auditor BPOM
Tahap ini sangat penting karena menentukan apakah sertifikat akan diterbitkan atau tidak.
5. Penerbitan Sertifikat CPKB
Setelah semua tahapan selesai dan dinyatakan memenuhi syarat, BPOM akan menerbitkan sertifikat CPKB.
Sertifikat ini menjadi bukti bahwa perusahaan telah memenuhi standar Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik dan layak untuk melanjutkan ke tahap izin edar.
Golongan CPKB dalam Industri Kosmetik
Dalam praktiknya, CPKB dibagi menjadi beberapa golongan berdasarkan skala usaha.
Golongan A
Untuk industri kosmetik skala besar dengan fasilitas lengkap dan sistem produksi kompleks.
Golongan B
Untuk usaha skala kecil hingga menengah dengan proses produksi yang lebih sederhana namun tetap memenuhi standar dasar CPKB.
Setiap golongan memiliki tingkat persyaratan yang berbeda, sehingga strategi pengurusan juga perlu disesuaikan.
Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Pengurusan CPKB
Banyak perusahaan mengalami kendala karena beberapa kesalahan umum berikut:
Tidak memahami standar 12 aspek CPKB
Tata letak pabrik tidak sesuai alur produksi
Dokumen tidak lengkap atau tidak konsisten
Kurang persiapan saat audit BPOM
Tidak memahami tindak lanjut CAPA
Kesalahan kecil dapat menyebabkan proses sertifikasi tertunda cukup lama.
Manfaat Menggunakan Biro Jasa Sertifikasi CPKB
Menggunakan biro jasa memberikan banyak keuntungan bagi pelaku usaha kosmetik, seperti:
Proses lebih cepat dan terarah
Mengurangi risiko penolakan BPOM
Dokumen tersusun sesuai standar
Pendampingan sampai sertifikat terbit
Efisiensi waktu dan biaya operasional
Dengan bantuan profesional, perusahaan dapat lebih fokus pada pengembangan produk dan pemasaran.
Biro Jasa Sertifikasi CPKB Profesional
Banyak pelaku usaha memilih menggunakan jasa profesional untuk memastikan proses sertifikasi berjalan lancar.
Salah satu layanan yang banyak digunakan adalah PERMATAMAS, yang berpengalaman dalam pengurusan legalitas industri kosmetik dan BPOM.
Layanan yang diberikan mencakup:
Penyusunan dokumen CPKB
Evaluasi fasilitas produksi
Pendampingan audit BPOM
Penyelesaian CAPA
Monitoring hingga sertifikat terbit
Dengan pengalaman sejak 2011, PERMATAMAS telah membantu banyak pelaku usaha kosmetik dalam mendapatkan sertifikat resmi BPOM.
Pentingnya Sertifikasi CPKB BPOM
Sertifikasi CPKB merupakan syarat penting bagi industri kosmetik sebelum dapat memperoleh izin edar BPOM. Prosesnya melibatkan banyak tahapan mulai dari evaluasi fasilitas, penyusunan dokumen, audit, hingga tindak lanjut perbaikan.
Karena kompleksitas tersebut, banyak pelaku usaha memilih menggunakan biro jasa sertifikasi CPKB agar proses menjadi lebih mudah, cepat, dan sesuai standar.
Dengan pendampingan yang tepat, perusahaan dapat memastikan bahwa seluruh persyaratan terpenuhi dan sertifikat CPKB dapat diterbitkan tanpa hambatan berarti, sehingga produk siap bersaing di pasar kosmetik yang semakin kompetitif.
KONSULTASI GRATIS
PERMATAMAS INDONESIA
Alamat : Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Kel. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi 17131
No Telp : 021-89253417
Watshapp : 085777630555
FAQ Biro Jasa Sertifikasi CPKB
1. Apa itu sertifikasi CPKB? CPKB adalah standar Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik dari BPOM yang memastikan proses produksi kosmetik aman, higienis, dan sesuai ketentuan.
2. Siapa yang wajib memiliki CPKB? Semua pelaku usaha kosmetik yang memproduksi produk sendiri wajib memenuhi standar CPKB sebelum mengurus izin edar BPOM.
3. Apa fungsi utama CPKB? Untuk memastikan fasilitas produksi memenuhi standar mutu dan menjadi syarat utama pengajuan izin edar kosmetik BPOM.
4. Apa saja yang dinilai dalam CPKB? Mulai dari fasilitas produksi, kebersihan, peralatan, SDM, sistem mutu, hingga dokumentasi produksi.
5. Apakah CPKB wajib sebelum izin edar BPOM? Ya, CPKB menjadi salah satu dasar utama sebelum produk kosmetik bisa mendapatkan izin edar.
6. Apa itu CAPA dalam audit CPKB? CAPA adalah tindakan perbaikan dan pencegahan jika ditemukan ketidaksesuaian saat audit BPOM.
7. Berapa lama proses sertifikasi CPKB? Waktu proses tergantung kesiapan fasilitas dan kelengkapan dokumen perusahaan.
8. Apakah UMKM kosmetik wajib CPKB? Ya, jika memproduksi kosmetik sendiri, UMKM tetap wajib memenuhi standar CPKB.
9. Apa risiko jika tidak memiliki CPKB? Produk tidak bisa mendapatkan izin edar BPOM dan tidak boleh dipasarkan secara legal.
10. Apakah PERMATAMAS bisa membantu pengurusan CPKB? Ya, PERMATAMAS membantu dari penyusunan dokumen, persiapan audit, pendampingan BPOM, hingga sertifikat CPKB terbit.
Temuan Audit Sertifikasi CPKB yang Paling Sering Menyebabkan Kegagalan Sertifikasi – Sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB) merupakan salah satu persyaratan penting bagi industri kosmetik yang ingin memproduksi dan mengedarkan produk secara legal di Indonesia. Sertifikat CPKB menjadi bukti bahwa perusahaan telah menerapkan sistem mutu yang sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh BPOM dalam seluruh proses produksi kosmetik.
Namun dalam praktiknya, masih banyak perusahaan yang mengalami kendala saat menghadapi audit CPKB. Tidak sedikit pengajuan sertifikasi yang tertunda bahkan gagal karena ditemukan ketidaksesuaian selama proses audit berlangsung.
Berdasarkan pengalaman PERMATAMAS yang telah mendampingi berbagai industri kosmetik dalam proses sertifikasi CPKB, sebagian besar temuan auditor bukan berasal dari kurangnya dokumen, melainkan karena implementasi di lapangan yang tidak sesuai dengan dokumen yang diajukan.
Berikut beberapa temuan audit CPKB yang paling sering menyebabkan kegagalan sertifikasi dan perlu menjadi perhatian sejak awal.
Mengapa Temuan Audit CPKB Sangat Penting?
Audit CPKB dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh aspek produksi kosmetik telah memenuhi standar mutu, keamanan, dan konsistensi produk.
Auditor tidak hanya memeriksa dokumen administrasi, tetapi juga melakukan observasi langsung terhadap:
Bangunan dan fasilitas produksi
Peralatan produksi
Personel yang terlibat
Sistem dokumentasi
Pengawasan mutu
Penyimpanan bahan baku dan produk jadi
Sanitasi dan higiene
Implementasi SOP
Karena itu, perusahaan harus memastikan bahwa seluruh sistem berjalan secara nyata dan bukan hanya sekadar tertulis dalam dokumen.
Implementasi CPKB Tidak Berjalan dan Hanya Sebatas Dokumen
Salah satu temuan yang paling sering ditemukan auditor adalah adanya perbedaan antara dokumen yang dimiliki perusahaan dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
Banyak perusahaan telah memiliki:
SOP lengkap
Formulir pengawasan mutu
Catatan produksi
Program sanitasi
Sistem pelatihan
Namun saat audit dilakukan, implementasi dari dokumen tersebut tidak terlihat dalam kegiatan operasional sehari-hari.
Sebagai contoh, perusahaan memiliki SOP sanitasi yang lengkap, tetapi operator tidak menjalankan prosedur tersebut secara konsisten. Dalam beberapa kasus, dokumen hanya dibuat untuk kebutuhan sertifikasi tanpa benar-benar diterapkan.
Kondisi seperti ini menjadi salah satu penyebab utama munculnya temuan mayor dalam audit CPKB.
Temuan Audit Sertifikasi CPKB yang Paling Sering Menyebabkan Kegagalan Sertifikasi
Kurangnya Pemahaman terhadap Aspek-Aspek CPKB
CPKB mencakup berbagai aspek yang saling berkaitan dalam sistem produksi kosmetik.
Masih banyak perusahaan yang hanya fokus pada fasilitas produksi tetapi kurang memahami aspek lain yang juga menjadi perhatian auditor.
Beberapa aspek yang wajib dipahami antara lain:
Sistem manajemen mutu
Personel
Bangunan dan fasilitas
Peralatan
Sanitasi dan higiene
Produksi
Pengawasan mutu
Dokumentasi
Penyimpanan
Penanganan keluhan
Penarikan produk
Ketika perusahaan tidak memahami keseluruhan aspek tersebut, biasanya akan muncul banyak ketidaksesuaian saat proses audit berlangsung.
Pemahaman yang baik terhadap seluruh aspek CPKB menjadi fondasi penting sebelum mengajukan sertifikasi.
Penanggung Jawab Teknis (PJT) Kurang Menguasai Kaidah CPKB
Penanggung Jawab Teknis atau PJT memiliki peran yang sangat penting dalam sistem CPKB.
Saat audit berlangsung, auditor sering melakukan wawancara langsung kepada PJT untuk menguji pemahaman terkait:
Sistem mutu
Pengendalian proses produksi
Pengawasan bahan baku
Dokumentasi
Pengelolaan penyimpangan
Penanganan produk tidak sesuai
Jika PJT tidak mampu menjelaskan sistem yang diterapkan perusahaan, auditor dapat menilai bahwa pengawasan mutu belum berjalan secara efektif.
Oleh karena itu, PJT harus benar-benar memahami seluruh proses yang terjadi di fasilitas produksi dan mampu menjelaskan penerapan CPKB secara menyeluruh.
PJT Belum Memiliki Sertifikat Pelatihan CPKB
Selain kompetensi, auditor juga akan memeriksa bukti pelatihan yang dimiliki oleh PJT.
Sertifikat pelatihan CPKB menjadi salah satu dokumen yang menunjukkan bahwa personel terkait telah mendapatkan pembekalan mengenai penerapan standar CPKB.
Masih ditemukan perusahaan yang menunjuk PJT tanpa memastikan bahwa yang bersangkutan telah mengikuti pelatihan yang relevan.
Walaupun memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai, ketiadaan pelatihan sering menjadi catatan auditor karena berkaitan dengan kompetensi personel dalam menjalankan sistem mutu.
Karena itu, pelatihan CPKB sebaiknya dipersiapkan sejak awal sebelum proses sertifikasi dimulai.
SOP Tidak Diterapkan Secara Konsisten
Standar Operasional Prosedur atau SOP merupakan salah satu dokumen utama dalam sistem CPKB.
Namun memiliki SOP saja tidak cukup.
Auditor akan memeriksa apakah SOP tersebut benar-benar diterapkan oleh seluruh personel yang terlibat.
Beberapa kondisi yang sering ditemukan antara lain:
Operator tidak mengikuti instruksi kerja.
Formulir tidak diisi sesuai prosedur.
Pembersihan peralatan tidak terdokumentasi.
Proses produksi berbeda dengan SOP yang disetujui.
Ketidaksesuaian semacam ini menunjukkan bahwa sistem belum berjalan secara efektif.
Karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa seluruh personel memahami dan menjalankan SOP sesuai dengan tugas masing-masing.
Personel Produksi Kurang Memahami Penggunaan Peralatan
Peralatan produksi merupakan bagian penting dalam proses pembuatan kosmetik.
Auditor sering meminta operator untuk menjelaskan:
Fungsi peralatan
Cara penggunaan
Prosedur pembersihan
Jadwal pemeliharaan
Catatan penggunaan
Ketika operator tidak mampu menjawab pertanyaan dasar mengenai peralatan yang digunakan setiap hari, hal ini dapat menjadi indikasi kurangnya pelatihan internal.
Selain itu, kurangnya pemahaman terhadap peralatan juga dapat meningkatkan risiko kesalahan produksi dan mempengaruhi kualitas produk.
Pelatihan berkala menjadi salah satu solusi untuk memastikan seluruh personel memahami tanggung jawabnya.
Tim Produksi Tidak Memahami Alur Produksi Kosmetik
Dalam audit CPKB, auditor biasanya melakukan penelusuran alur produksi mulai dari penerimaan bahan baku hingga produk jadi.
Personel yang terlibat harus memahami setiap tahapan proses, termasuk:
Penerimaan bahan baku
Penyimpanan
Penimbangan
Pencampuran
Pengisian
Pengemasan
Penyimpanan produk jadi
Masih banyak perusahaan yang hanya mengandalkan beberapa personel tertentu untuk memahami alur produksi secara keseluruhan.
Ketika auditor melakukan wawancara kepada operator dan mendapatkan jawaban yang tidak konsisten, hal tersebut dapat menjadi temuan yang mempengaruhi hasil audit.
Oleh karena itu, seluruh tim produksi harus memahami proses yang mereka jalankan setiap hari.
Layout dan Fasilitas Produksi Tidak Sesuai dengan Dokumen
Temuan lain yang cukup sering terjadi adalah adanya perbedaan antara layout yang diajukan kepada BPOM dengan kondisi aktual di lapangan.
Beberapa contoh yang sering ditemukan meliputi:
Perubahan tata letak ruangan tanpa pembaruan dokumen.
Penambahan area produksi yang tidak dilaporkan.
Perubahan alur material.
Perubahan alur personel.
Penggunaan ruangan yang tidak sesuai fungsi awal.
Padahal layout produksi merupakan salah satu komponen penting dalam penerapan CPKB karena berkaitan dengan pencegahan kontaminasi silang dan efisiensi proses produksi.
Sebelum audit dilakukan, perusahaan sebaiknya memastikan bahwa seluruh fasilitas telah sesuai dengan dokumen yang diajukan.
Cara Mengurangi Risiko Temuan Saat Audit CPKB
Agar peluang memperoleh sertifikasi CPKB semakin besar, perusahaan perlu melakukan persiapan secara menyeluruh.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Melakukan Audit Internal
Audit internal membantu menemukan ketidaksesuaian sebelum auditor BPOM melakukan pemeriksaan.
Melatih Seluruh Personel
Jangan hanya fokus pada PJT. Operator, staf gudang, quality control, dan manajemen juga harus memahami sistem yang diterapkan.
Meninjau Kesesuaian Dokumen dan Lapangan
Pastikan seluruh SOP, formulir, dan layout sesuai dengan kondisi aktual perusahaan.
Memastikan Fasilitas Produksi Siap Diaudit
Seluruh area produksi harus bersih, tertata, dan sesuai dengan standar yang berlaku.
Menggunakan Pendampingan Profesional
Pendampingan dari konsultan berpengalaman dapat membantu perusahaan mengidentifikasi potensi temuan sejak awal sehingga risiko kegagalan audit dapat diminimalkan.
Kesimpulan
Temuan audit CPKB yang paling sering menyebabkan kegagalan sertifikasi umumnya bukan karena kurangnya dokumen, melainkan karena lemahnya implementasi sistem di lapangan.
Mulai dari SOP yang tidak dijalankan, PJT yang kurang memahami CPKB, operator yang belum menguasai proses produksi, hingga layout fasilitas yang tidak sesuai dengan dokumen menjadi penyebab yang sering ditemukan saat audit berlangsung.
Oleh karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa seluruh sistem mutu benar-benar diterapkan secara konsisten sebelum mengajukan sertifikasi CPKB.
PERMATAMAS Siap Mendampingi Sertifikasi CPKB Hingga Lulus Audit
Jika perusahaan Anda sedang mempersiapkan sertifikasi CPKB, PERMATAMAS siap membantu mulai dari tahap perencanaan hingga pendampingan audit.
Dengan pengalaman sejak 2011, tim kami telah membantu berbagai industri kosmetik dalam mempersiapkan dokumen, sistem mutu, layout fasilitas, SOP, hingga simulasi audit CPKB.
Kami membantu perusahaan mengidentifikasi potensi temuan auditor sejak awal sehingga proses sertifikasi dapat berjalan lebih efektif dan terarah.
Konsultasikan kebutuhan sertifikasi CPKB Anda bersama PERMATAMAS dan tingkatkan peluang memperoleh sertifikat CPKB dengan persiapan yang tepat.
KONSULTASI GRATIS
PERMATAMAS INDONESIA
Alamat : Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Kel. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi 17131
No Telp : 021-89253417
Watshapp : 085777630555
FAQ Seputar Temuan Audit CPKB dan Sertifikasi Kosmetik
1. Apakah perusahaan yang pernah gagal audit CPKB masih bisa mengajukan sertifikasi kembali?
Tentu bisa. Sebagian besar perusahaan yang belum lulus audit umumnya mengalami temuan pada aspek implementasi, dokumentasi, fasilitas, atau kompetensi personel. Setelah seluruh temuan diperbaiki sesuai rekomendasi auditor, perusahaan dapat melanjutkan proses sertifikasi kembali. Tim PERMATAMAS siap membantu melakukan evaluasi menyeluruh agar potensi temuan dapat diminimalkan sebelum audit berikutnya.
2. Bagaimana cara mengetahui kesiapan perusahaan sebelum menghadapi audit CPKB?
Cara terbaik adalah melakukan audit internal atau pre-audit terlebih dahulu. Melalui proses ini, perusahaan dapat mengetahui kekurangan pada aspek bangunan, SOP, dokumentasi, personel, hingga implementasi sistem mutu. PERMATAMAS menyediakan layanan review dan simulasi audit untuk membantu perusahaan mengetahui tingkat kesiapan sebelum pemeriksaan resmi BPOM.
3. Apakah PJT yang belum memiliki pengalaman CPKB tetap bisa mengurus sertifikasi?
Bisa, selama PJT memenuhi persyaratan yang berlaku dan mendapatkan pembekalan yang memadai. Namun dalam praktiknya, kurangnya pemahaman PJT terhadap sistem CPKB sering menjadi salah satu penyebab munculnya temuan auditor. Karena itu, pendampingan dan pelatihan yang tepat sangat penting sebelum proses audit berlangsung.
4. Mengapa banyak perusahaan memiliki dokumen lengkap tetapi tetap mendapatkan temuan audit?
Karena auditor tidak hanya memeriksa dokumen, tetapi juga memastikan bahwa seluruh sistem benar-benar diterapkan di lapangan. Banyak perusahaan memiliki SOP, formulir, dan prosedur yang lengkap, namun implementasinya belum berjalan secara konsisten. Inilah alasan mengapa pendampingan implementasi menjadi sama pentingnya dengan penyusunan dokumen.
5. Bagaimana cara mendapatkan pendampingan sertifikasi CPKB yang tepat?
Pilih konsultan yang memiliki pengalaman nyata dalam mendampingi perusahaan menghadapi audit CPKB, bukan hanya membantu membuat dokumen. PERMATAMAS telah berpengalaman sejak tahun 2011 dan membantu berbagai industri kosmetik mempersiapkan fasilitas, SOP, dokumen mutu, pelatihan personel, hingga pendampingan saat audit berlangsung. Hubungi tim PERMATAMAS sekarang untuk konsultasi awal dan dapatkan roadmap sertifikasi CPKB yang sesuai dengan kondisi perusahaan Anda.
12 Aspek CPKB BPOM Terbaru 2026 – Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB) merupakan standar wajib yang ditetapkan oleh BPOM bagi seluruh pelaku usaha kosmetik di Indonesia. Memasuki tahun 2026, penerapan CPKB tidak hanya menjadi syarat administratif, tetapi juga indikator utama kelayakan industri kosmetik dalam menjamin mutu, keamanan, dan konsistensi produk. BPOM menegaskan bahwa pemenuhan seluruh aspek CPKB menjadi dasar dalam penerbitan izin edar serta Sertifikat Pemenuhan Aspek CPKB (SPA CPKB).
Dalam praktiknya, terdapat 12 aspek CPKB BPOM yang harus dipenuhi secara menyeluruh dan terdokumentasi. Aspek-aspek ini mencakup sistem manajemen hingga penanganan keluhan konsumen, yang semuanya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Kegagalan pada satu aspek saja dapat berdampak pada hasil audit dan status kepatuhan perusahaan.
Aspek CPKB BPOM terbaru meliputi:
1. Sistem Manajemen Mutu
2. Personalia yang kompeten
3. Bangunan dan fasilitas produksi
4. Peralatan produksi dan pengujian
5. Sanitasi dan higiene
6. Proses produksi
7. Pengawasan mutu (Quality Control)
8. Dokumentasi
9. Audit internal
10. Penyimpanan
11. Kontrak produksi dan pengujian
12. Penanganan keluhan dan penarikan produk
Melalui pemahaman yang tepat terhadap 12 aspek CPKB BPOM terbaru 2026, pelaku usaha dapat mempersiapkan diri secara lebih matang menghadapi audit BPOM. Kepatuhan terhadap standar ini tidak hanya meningkatkan peluang lolos sertifikasi, tetapi juga memperkuat kepercayaan konsumen terhadap produk kosmetik yang dipasarkan.
1. Aspek Sistem Manajemen Mutu dalam CPKB BPOM
Sistem Manajemen Mutu merupakan fondasi utama dalam penerapan CPKB BPOM. Aspek ini mengatur bagaimana perusahaan merancang, menerapkan, memantau, dan meningkatkan seluruh proses yang berhubungan dengan mutu produk kosmetik. BPOM menilai apakah perusahaan memiliki kebijakan mutu yang jelas, struktur organisasi yang tertata, serta komitmen manajemen puncak dalam menjalankan CPKB secara konsisten.
Pada tahun 2026, BPOM semakin menekankan pendekatan berbasis risiko dalam sistem manajemen mutu. Artinya, perusahaan wajib mampu mengidentifikasi potensi risiko terhadap mutu produk, mulai dari bahan baku hingga distribusi. Sistem ini harus terdokumentasi dan diterapkan secara nyata, bukan sekadar formalitas dokumen.
Komponen penting dalam sistem manajemen mutu CPKB antara lain:
• Kebijakan mutu yang tertulis dan disosialisasikan
• Struktur organisasi dan tanggung jawab yang jelas
• Prosedur pengendalian perubahan
• Manajemen risiko mutu
• Evaluasi kinerja sistem mutu
• Tindakan korektif dan pencegahan (CAPA)
• Komitmen manajemen puncak
Penerapan sistem manajemen mutu yang efektif membantu perusahaan mencegah penyimpangan proses dan menjamin konsistensi produk. Dalam audit BPOM, aspek ini sering menjadi penilaian awal yang menentukan kelayakan aspek CPKB lainnya.
2. Aspek Personalia dalam Standar CPKB BPOM
Aspek personalia menitikberatkan pada kompetensi sumber daya manusia yang terlibat langsung dalam kegiatan produksi kosmetik. BPOM mewajibkan setiap personel memiliki kualifikasi, pelatihan, dan tanggung jawab yang sesuai dengan tugasnya. Tanpa SDM yang kompeten, penerapan CPKB tidak dapat berjalan optimal.
BPOM tahun 2026 menegaskan bahwa perusahaan harus memiliki penanggung jawab teknis yang memahami CPKB secara menyeluruh. Selain itu, pelatihan berkala menjadi kewajiban, bukan sekadar pelengkap. Setiap pelatihan harus terdokumentasi dan dapat ditunjukkan saat audit berlangsung.
Hal-hal yang menjadi perhatian dalam aspek personalia CPKB meliputi:
• Struktur organisasi dan uraian jabatan
• Kualifikasi pendidikan dan pengalaman kerja
• Program pelatihan CPKB berkala
• Evaluasi efektivitas pelatihan
• Disiplin dan kepatuhan terhadap SOP
• Kesadaran higiene dan sanitasi
• Pengawasan kinerja personel
Dengan personalia yang kompeten dan terlatih, perusahaan dapat meminimalkan kesalahan manusia (human error) dalam proses produksi. Hal ini berperan besar dalam menjaga mutu dan keamanan kosmetik sesuai standar BPOM.
3. Aspek Bangunan dan Fasilitas Produksi CPKB BPOM
Bangunan dan fasilitas merupakan aspek fisik yang sangat krusial dalam penerapan CPKB BPOM. BPOM menilai apakah desain bangunan mendukung alur produksi yang higienis, mencegah kontaminasi silang, serta mudah dibersihkan dan dipelihara. Tata letak yang tidak sesuai dapat menjadi temuan serius dalam audit.
Pada standar CPKB BPOM 2026, fasilitas produksi harus dirancang sesuai jenis produk yang dihasilkan. Pemisahan area produksi, penyimpanan, dan pengujian menjadi syarat mutlak. Selain itu, sistem ventilasi, pencahayaan, dan pengendalian lingkungan juga menjadi fokus penilaian.
Persyaratan bangunan dan fasilitas CPKB antara lain:
• Tata letak sesuai alur proses produksi
• Pemisahan area bersih dan area kotor
• Material bangunan mudah dibersihkan
• Sistem ventilasi dan pencahayaan memadai
• Pengendalian hama yang efektif
• Area penyimpanan bahan dan produk jadi
• Fasilitas sanitasi yang memadai
Bangunan dan fasilitas yang memenuhi standar CPKB tidak hanya mendukung kelulusan audit BPOM, tetapi juga meningkatkan efisiensi produksi dan keamanan produk kosmetik yang dihasilkan.
4. Aspek Peralatan dalam Penerapan CPKB BPOM
Aspek peralatan dalam CPKB BPOM berfokus pada jaminan bahwa seluruh peralatan yang digunakan dalam proses produksi kosmetik aman, sesuai fungsi, dan tidak menimbulkan risiko terhadap mutu produk. BPOM menilai mulai dari desain, material, hingga cara perawatan dan kalibrasi peralatan. Peralatan yang tidak memenuhi standar dapat menjadi sumber kontaminasi dan menyebabkan ketidaksesuaian serius saat audit.
Pada standar CPKB BPOM terbaru 2026, setiap peralatan wajib dirancang agar mudah dibersihkan, dirawat, dan tidak bereaksi dengan bahan kosmetik. Selain itu, perusahaan harus memastikan bahwa peralatan digunakan sesuai peruntukannya dan hanya oleh personel yang berwenang. Semua aktivitas perawatan dan kalibrasi harus dicatat secara sistematis.
Hal-hal penting yang dinilai CPKB BPOM dalam aspek peralatan antara lain:
• Desain peralatan sesuai fungsi produksi
• Material peralatan aman dan tidak reaktif
• Prosedur pembersihan dan sanitasi
• Jadwal perawatan berkala
• Program kalibrasi peralatan ukur
• Identifikasi status peralatan
• Dokumentasi penggunaan dan perawatan
Peralatan yang memenuhi standar CPKB membantu memastikan konsistensi hasil produksi dan akurasi pengujian. Dalam audit BPOM, ketertiban dokumentasi peralatan sering menjadi indikator kepatuhan perusahaan terhadap sistem mutu secara keseluruhan.
5. Aspek Sanitasi dan Higiene dalam Standar CPKB
Sanitasi dan higiene merupakan aspek krusial yang bertujuan mencegah kontaminasi fisik, kimia, maupun mikrobiologi pada produk kosmetik. BPOM menekankan bahwa kebersihan tidak hanya berlaku pada lingkungan produksi, tetapi juga pada personel dan seluruh fasilitas pendukung. Aspek ini dinilai secara menyeluruh selama inspeksi CPKB.
Pada tahun 2026, penerapan sanitasi dan higiene dalam CPKB harus berbasis prosedur tertulis dan konsisten dijalankan. Perusahaan wajib memiliki SOP sanitasi yang mencakup metode pembersihan, frekuensi, bahan pembersih, serta penanggung jawabnya. Pengawasan terhadap penerapan higiene personal juga menjadi perhatian utama BPOM.
Komponen sanitasi dan higiene yang wajib dipenuhi meliputi:
• Program pembersihan dan sanitasi area
• Kebersihan peralatan produksi
• Higiene personal karyawan
• Penggunaan pakaian kerja yang sesuai
• Fasilitas cuci tangan dan sanitasi
• Pengendalian hama dan lingkungan
• Dokumentasi kegiatan sanitasi
Penerapan sanitasi dan higiene yang baik tidak hanya meningkatkan peluang lolos audit CPKB, tetapi juga melindungi reputasi perusahaan dari risiko penarikan produk akibat masalah mutu dan keamanan.
12 Aspek CPKB BPOM Terbaru
6. Aspek Produksi sesuai Ketentuan CPKB BPOM
Aspek produksi dalam CPKB BPOM mengatur seluruh tahapan pembuatan kosmetik agar berjalan sesuai Prosedur Operasional Standar (SOP). BPOM menilai apakah setiap proses produksi dilakukan secara konsisten, terkendali, dan terdokumentasi. Tujuannya adalah memastikan setiap batch produk memiliki mutu yang seragam dan aman digunakan konsumen.
Dalam standar CPKB BPOM 2026, perusahaan diwajibkan memiliki SOP produksi tertulis untuk setiap jenis produk. Proses produksi harus mencakup pengendalian bahan baku, penimbangan, pencampuran, pengisian, hingga pengemasan. Setiap penyimpangan dari SOP harus dicatat dan ditindaklanjuti.
Poin utama yang diperiksa BPOM dalam aspek produksi antara lain:
• SOP produksi yang terdokumentasi
• Pengendalian bahan baku dan bahan kemas
• Penimbangan dan pencampuran terkontrol
• Identifikasi batch dan kode produksi
• Pengawasan selama proses produksi
• Penanganan produk tidak sesuai
• Pencatatan seluruh kegiatan produksi
Aspek produksi menjadi jantung penerapan CPKB. Kepatuhan pada aspek ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan produk kosmetik secara konsisten sesuai standar mutu yang ditetapkan BPOM.
Pengawasan Mutu atau Quality Control (QC) merupakan aspek yang memastikan setiap bahan dan produk memenuhi spesifikasi sebelum dilepas ke pasar. BPOM menilai apakah perusahaan memiliki sistem pengujian yang memadai, personel QC yang kompeten, serta metode uji yang tervalidasi sesuai standar.
Dalam penerapan CPKB BPOM terbaru 2026, fungsi QC harus independen dari bagian produksi. Setiap bahan baku, produk antara, dan produk jadi wajib melalui pengujian sebelum digunakan atau didistribusikan. Hasil pengujian harus terdokumentasi dan dapat ditelusuri kembali.
Ruang lingkup pengawasan mutu dalam CPKB meliputi:
• Pemeriksaan bahan baku dan bahan kemas
• Pengujian produk antara
• Pengujian produk jadi
• Spesifikasi dan metode uji tertulis
• Kualifikasi personel QC
• Penanganan hasil uji tidak memenuhi syarat
• Penyimpanan sampel pertinggal
Pengawasan mutu yang kuat menjadi bukti bahwa perusahaan berkomitmen terhadap keamanan dan kualitas kosmetik. Dalam audit BPOM, aspek QC sering menjadi penentu utama kelulusan SPA CPKB.
8. Aspek Dokumentasi dalam Standar CPKB BPOM
Aspek dokumentasi merupakan tulang punggung penerapan CPKB BPOM karena seluruh aktivitas produksi dan pengawasan mutu harus dapat dibuktikan secara tertulis. BPOM menilai dokumentasi sebagai alat utama untuk menelusuri proses, memastikan konsistensi, serta mengidentifikasi potensi penyimpangan. Tanpa dokumentasi yang baik, penerapan CPKB dianggap tidak berjalan meskipun praktik di lapangan terlihat sesuai.
Pada standar CPKB BPOM terbaru 2026, setiap perusahaan kosmetik wajib memiliki sistem dokumentasi yang terstruktur, terkendali, dan mudah ditelusuri. Dokumen harus disusun dengan jelas, diperbarui secara berkala, serta disimpan dengan aman. Setiap perubahan dokumen juga harus melalui prosedur pengendalian perubahan agar tidak menimbulkan ketidaksesuaian saat audit.
Jenis dokumentasi yang wajib tersedia dalam penerapan CPKB antara lain:
• Manual mutu CPKB
• Prosedur Operasional Standar (SOP)
• Instruksi kerja
• Catatan produksi (batch record)
• Catatan pengawasan mutu
• Catatan pelatihan personel
• Arsip audit dan tindak lanjut
Dokumentasi yang lengkap dan rapi memudahkan perusahaan dalam menghadapi inspeksi BPOM serta menjadi dasar evaluasi berkelanjutan. Dalam praktiknya, banyak temuan audit CPKB terjadi bukan karena proses yang salah, melainkan karena pencatatan yang tidak konsisten atau tidak tersedia.
9. Aspek Audit Internal sebagai Pengendalian Mutu Berkelanjutan
Audit internal dalam CPKB BPOM berfungsi sebagai alat evaluasi mandiri untuk memastikan seluruh sistem berjalan sesuai standar. BPOM menilai apakah perusahaan secara aktif melakukan pemeriksaan internal sebelum audit eksternal dilakukan. Audit internal yang efektif menunjukkan komitmen perusahaan terhadap perbaikan berkelanjutan dan kepatuhan regulasi.
Pada tahun 2026, audit internal CPKB wajib dilakukan secara berkala oleh tim yang kompeten dan independen dari area yang diaudit. Hasil audit harus didokumentasikan, dianalisis, serta ditindaklanjuti dengan tindakan korektif dan pencegahan. BPOM juga akan menilai konsistensi antara temuan audit internal dan kondisi aktual di lapangan.
Elemen penting dalam pelaksanaan audit internal CPKB meliputi:
• Jadwal audit internal berkala
• Auditor internal yang kompeten
• Ruang lingkup audit yang jelas
• Metode audit terdokumentasi
• Laporan hasil audit
• Tindakan korektif dan pencegahan
• Evaluasi efektivitas perbaikan
Audit internal bukan sekadar formalitas, melainkan sarana untuk mengidentifikasi risiko sejak dini. Perusahaan yang rutin melakukan audit internal umumnya lebih siap menghadapi inspeksi BPOM dan memiliki tingkat kepatuhan CPKB yang lebih stabil.
10. Aspek Penyimpanan dalam Penerapan CPKB BPOM
Aspek penyimpanan dalam CPKB BPOM bertujuan menjaga mutu bahan baku, bahan pengemas, dan produk jadi agar tetap sesuai spesifikasi. BPOM menilai apakah perusahaan memiliki sistem penyimpanan yang terkontrol, terpisah, dan terdokumentasi dengan baik. Penyimpanan yang tidak sesuai dapat menyebabkan kerusakan produk dan menjadi temuan serius saat audit.
Dalam standar CPKB BPOM 2026, area penyimpanan harus dirancang untuk mencegah pencampuran, kontaminasi, serta kesalahan penggunaan bahan. Kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban, dan kebersihan harus dikendalikan dan dipantau secara rutin. Selain itu, sistem identifikasi dan penandaan status bahan wajib diterapkan secara konsisten.
Ketentuan utama dalam aspek penyimpanan CPKB meliputi:
• Pemisahan bahan baku, bahan kemas, dan produk jadi
• Penandaan status bahan (lulus, karantina, ditolak)
• Pengendalian suhu dan kelembaban
• Sistem FIFO atau FEFO
• Kebersihan area penyimpanan
• Keamanan dan akses terbatas
• Pencatatan keluar masuk barang
Penyimpanan yang sesuai standar CPKB membantu menjaga stabilitas produk hingga ke tangan konsumen. Dalam audit BPOM, aspek ini sering menjadi indikator kedisiplinan perusahaan dalam menerapkan sistem mutu secara menyeluruh.
11. Aspek Kontrak Produksi dan Pengujian dalam CPKB BPOM
Aspek kontrak produksi dan pengujian menjadi perhatian khusus BPOM dalam penerapan CPKB, terutama bagi perusahaan kosmetik yang menggunakan jasa pihak ketiga atau maklon. BPOM menilai bahwa tanggung jawab mutu tetap berada pada pemilik merek, meskipun sebagian proses produksi atau pengujian dialihkan kepada pihak lain. Oleh karena itu, seluruh aktivitas alih daya harus diatur secara jelas, tertulis, dan terdokumentasi.
Pada standar CPKB BPOM terbaru 2026, perusahaan wajib memiliki perjanjian kontrak yang mengatur ruang lingkup pekerjaan, tanggung jawab mutu, serta mekanisme pengawasan. Kontrak ini harus memastikan bahwa pihak ketiga juga menerapkan standar CPKB yang setara dan siap diaudit apabila diperlukan. Tanpa kontrak yang sah dan terkontrol, BPOM dapat menilai sistem mutu perusahaan tidak memenuhi persyaratan.
Ketentuan utama dalam aspek kontrak produksi dan pengujian meliputi:
• Perjanjian tertulis antara pemberi dan penerima kontrak
• Penjelasan ruang lingkup produksi atau pengujian
• Penetapan tanggung jawab mutu
• Persyaratan kepatuhan CPKB pihak ketiga
• Mekanisme audit dan evaluasi
• Pengendalian perubahan kontrak
• Dokumentasi hasil produksi atau pengujian
Pengelolaan kontrak yang baik membantu perusahaan menjaga konsistensi mutu produk sekaligus meminimalkan risiko ketidaksesuaian saat inspeksi BPOM.
12. Aspek Penanganan Keluhan dan Penarikan Produk CPKB
Penanganan keluhan dan penarikan produk merupakan aspek krusial dalam sistem CPKB BPOM karena berkaitan langsung dengan keselamatan konsumen. BPOM menilai kesiapan perusahaan dalam merespons keluhan pasar serta kemampuannya menarik produk bermasalah secara cepat dan terkontrol. Aspek ini mencerminkan tanggung jawab dan integritas perusahaan terhadap mutu produk.
Dalam penerapan CPKB BPOM 2026, perusahaan wajib memiliki prosedur tertulis untuk menerima, mencatat, mengevaluasi, dan menindaklanjuti setiap keluhan. Selain itu, sistem penarikan produk (recall) harus disiapkan meskipun belum pernah digunakan. BPOM akan mengevaluasi kesiapan ini melalui simulasi atau pemeriksaan dokumen saat audit.
Komponen penting dalam aspek penanganan keluhan dan penarikan produk meliputi:
• Prosedur penerimaan dan pencatatan keluhan
• Evaluasi dan investigasi keluhan
• Tindakan korektif dan pencegahan
• Sistem penelusuran produk (traceability)
• Prosedur penarikan produk
• Dokumentasi seluruh proses
• Pelaporan kepada pihak berwenang bila diperlukan
Sistem keluhan dan penarikan produk yang baik membantu perusahaan menjaga kepercayaan konsumen dan meminimalkan dampak risiko mutu di pasar.
Penerapan 12 Aspek CPKB BPOM Terbaru 2026 merupakan fondasi utama bagi industri kosmetik dalam memastikan produk yang aman, bermutu, dan sesuai regulasi. Setiap aspek, mulai dari sistem manajemen mutu hingga penanganan keluhan dan penarikan produk, saling terintegrasi dan tidak dapat diterapkan secara parsial. Kegagalan pada satu aspek dapat berdampak pada keseluruhan sistem dan berujung pada penolakan atau penundaan sertifikasi.
Bagi pelaku usaha, memahami CPKB secara menyeluruh bukan hanya untuk memenuhi kewajiban hukum, tetapi juga sebagai strategi membangun kepercayaan pasar dan daya saing bisnis. Dengan sistem CPKB yang baik, perusahaan lebih siap menghadapi audit BPOM, mempercepat proses perizinan, dan menjaga keberlanjutan usaha.
PERMATAMAS Jasa Pengurusan SPA CPKB BPOM
PERMATAMAS hadir sebagai mitra profesional dalam jasa pengurusan SPA CPKB BPOM untuk industri kosmetik.
Didukung tim berpengalaman di bidang regulasi, mutu, dan hukum, PERMATAMAS membantu mulai dari:
• Analisis kesiapan CPKB
• Penyusunan dokumen dan SOP
• Pendampingan audit internal
• Persiapan inspeksi BPOM
• Pengurusan SPA CPKB hingga terbit
Konsultasi GRATIS
Proses terarah & sesuai regulasi terbaru
Pendampingan hingga lulus audit
Hubungi PERMATAMAS sekarang dan pastikan usaha kosmetik Anda siap memenuhi standar CPKB BPOM Terbaru 2026 secara profesional dan aman.
KONSULTASI GRATIS
PERMATAMAS
Alamat : Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Kel. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi Jawa Barat
Telp : 021-89253417
WA : 085777630555
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan CPKB BPOM?
CPKB BPOM adalah Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik, yaitu standar resmi dari BPOM untuk memastikan proses produksi kosmetik memenuhi aspek mutu, keamanan, dan konsistensi produk.
2. Berapa jumlah aspek dalam standar CPKB BPOM?
Terdapat 12 aspek CPKB BPOM yang wajib dipenuhi oleh industri kosmetik, mulai dari sistem manajemen mutu hingga penanganan keluhan dan penarikan produk.
3. Apakah semua perusahaan kosmetik wajib memiliki CPKB?
Ya, setiap pelaku usaha yang memproduksi kosmetik wajib menerapkan CPKB dan memiliki SPA CPKB sebagai syarat utama legalitas produksi.
4. Apa itu SPA CPKB?
SPA CPKB adalah Sertifikat Pemenuhan Aspek Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik yang diterbitkan BPOM setelah perusahaan dinyatakan memenuhi seluruh aspek CPKB.
5. Berapa lama proses pengurusan SPA CPKB BPOM?
Durasi proses bergantung pada kesiapan dokumen dan fasilitas, umumnya memerlukan waktu beberapa bulan termasuk evaluasi dan inspeksi BPOM.
6. Apakah UMKM bisa mengurus SPA CPKB?
Bisa. UMKM kosmetik tetap dapat mengurus SPA CPKB selama memenuhi persyaratan administratif, teknis, dan memiliki Penanggung Jawab Teknis (PJT).
7. Siapa yang wajib menjadi Penanggung Jawab Teknis (PJT)?
Untuk kosmetik, PJT harus memiliki latar belakang kefarmasian, seperti Apoteker atau Tenaga Teknis Kefarmasian sesuai klasifikasi fasilitas.
8. Apa risiko jika tidak menerapkan CPKB BPOM?
Risikonya antara lain penolakan izin edar, sanksi administratif, penghentian produksi, hingga penarikan produk dari pasar.
9. Apakah audit BPOM selalu dilakukan untuk SPA CPKB?
Ya, BPOM dapat melakukan evaluasi dokumen dan inspeksi lapangan untuk memastikan penerapan 12 aspek CPKB secara nyata.
10. Apakah PERMATAMAS dapat membantu pengurusan SPA CPKB?
Ya. PERMATAMAS menyediakan layanan pendampingan dan jasa pengurusan SPA CPKB BPOM secara profesional, mulai dari persiapan dokumen hingga lulus audit.
jasa pengurusan sertifikasi halal
Konsultasi Gratis Sekarang!
Jangan ragu untuk menghubungi kami dan dapatkan konsultasi gratis untuk kebutuhan izin usaha Anda. Permatamas Indonesia, solusi lengkap untuk perizinan dan sertifikasi usaha Anda!
Legalitas Usaha Kami Akta Pendirian No.15 SK AHU-0032144-AH,01,15 Tahun 2021 NPWP : 76,011,954,5-427,000 SIUP : 510/PM277/DPMPTSP.PPJU TDP : 102637007638 NIB : 0610210009793
Alamat Kantor Kami Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Ke. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi, Jawa Barat No Telp : 021-89253417 HP/WA : 085777630555 Email : maspermatha@gmail.com Website : www.permatamas.co.id